Berita

  • Published in Berita
  • Hits: 294

Rabu (13/12), Memasuki pekan terakhir, kegiatan Program Kajian Bahasa dan Budaya Indonesia yang diselanggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Deakin University, Australia, telah mencapai puncaknya. Program kerja sama ini telah berlangsung setiap dua tahun sekali hingga kini telah mencapai tahun ke-8. Tujuan utama adalah sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa Universitas Deakin yang mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Tahun ini, sembilan mahasiswa Deakin terpilih berkesempatan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang diadakan selama 6 pekan berturut–turut. Seluruh program kegiatan mereka selama di Indonesia, khususnya di kota Malang, dikoordinir langsung oleh Dosen dan Mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Program kegiatan meliputi bidang akademik, kesenian dan kebudayaan, serta ekskursi atau kunjungan wisata. Kesembilan mahasiswa Deakin wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari hari Senin hingga Sabtu. Untuk kegiatan akademik sendiri, para mahasiswa mendapat perkuliahan Bahasa Indonesia secara umum. Perkuliahan dimulai pukul 08.30 pagi hingga 11.30 siang. Tenaga pengajar adalah para Dosen Fakultas Humaniora yang telah ahli pada bidangnya. Metode pengajaran menggunakan Bahasa Indonesia secara penuh yang bertujuan untuk melatih kelancaran mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.

Kegiatan kesenian dan kebudayaan yang dijadwalkan cukup beragam. Diantaranya adalah kegiatan seni tari, karawitan, serta membatik. Jadwal kuliah kebudayaan ini rutin diadakan setiap hari Senin hingga Jumat, pukul 14.00 sampai dengan 16.00 WIB pada tempat yang telah disediakan panitia. Khusus bidang kebudayaan, panitia mendatangkan secara langsung para seniman yang telah menguasai setiap cabang seni budaya yang tersedia. Sedangkan pada hari Sabtu, jadwal diluangkan khusus untuk kegiatan ekskursi ke beberapa objek wisata kota Malang, tempat bersejarah di Jawa Timur, galeri seni, hingga kunjungan ke sekolah - sekolah atau pesantren. Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa terlihat begitu antusias dalam mengikuti kegiatan akademik. Sejak program studi bahasa dan budaya yang pertama, rangkaian kegiatan yang diadakan pada dasarnya sama. Perbedaan hanya pada tujuan kunjungan wisata yang disuguhkan.

Menurut salah satu panitia, Muhammad Edy Thoyib, M.A, kendala terbesar yang dialami sebagian berasal dari kendala pengajaran. Para mahasiswa belum mampu sepenuhnya menguasai Bahasa Indonesia dan kemampuan penggunaan kosakata masih beragam. Hal tersebut cukup menyulitkan tenaga pengajar dalam menyampaikan materi. Kendala selanjutnya yaitu sebagian dari mahasiswa mengalami culture shock karena baru kali pertama berkunjung ke luar negara mereka. Alhasil, banyak dari mereka yang masih memerlukan proses adaptasi yang cukup lama.

Kegiatan in-country program masih akan terus berlanjut dari tahun ke-tahun. Universitas Deakin akan memilih kampus-kampus di Indonesia yang mempunyai reputasi baik dalam melakukan kerja sama program ini. “Kedepannya, kita harus menunjukkan bahwa kita mampu mengorganisir program ini dengan baik dan bisa memberikan pelayanan yang baik pula, sehingga mereka merasa puas dan mempertimbangkan untuk memilih UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai tujuan mereka lagi” tandas Muhammad Edy Thoyib di ujung perbincangan. [ln]