Berita

Seminar Literasi Dorong Mahasiswa Aktif Menulis

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 80


HUMANIORA- Dr. Mahrus Elmawa, Kepala Sie Penelitian Diktis Kementrian Agama Republik Indonesia, hadir dan memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa semester lima Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Sabtu (6/10). Acara yang dikemas dalam bentuk seminar bertajuk Tantangan Literasi Islami di Era Milenial ini bertujuan untuk mendorong semangat mahasiswa di bidang literasi, khususnya kepenulisan kreatif.

Di era milenial saat ini, menurut Mahrus, konteks literasi tidak lagi hanya terbatas pada tulisan cetak. Literasi di era serba digital ini juga telah mencakup media lain berupa visual maupun audio. “Buku cetak saja tidak cukup saat ini, tapi juga elektronik,” ujar alumnus UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Namun, Mahrus juga mengingatkan, semakin banyak dan mudahnya informasi di era serba online ini orang-orang dituntut untuk lebih selektif dan pandai mengambil sikap. Meski mudah, generasi sekarang tidak boleh terjebak dengan segala sesuatu yang bersifat praktis. Setiap orang perlu memilah-milah setiap informasi. “Pada akhirnya, kita gunakan hati nurani kita masing-masing sebagai penentunya,” ujarnya.

Kepada mahasiswa yang ingin menulis, ia berpesan agar tidak terbebani dengan pikiran apakah karangan mereka layak dan akan dibaca. Menurutnya, setiap penulis sudah semestinya yakin dengan apa yang ditulisnya. Hal ini berkaitan dengan ketulusan hati penulis. “Yang penting adalah tulis! Yakin, tulisan itu pasti akan bermanfaat,” tegas pria asal Cirebon tersebut.

Sebelumnya, pada pembukaan acara, Wakil Dekan Bidang Akademik M. Faisol menyampaikan bahwa saat ini ia telah menyiapkan untuk menerbitkan buku kumpulan puisi karya para mahasiswa semester lima. Hal ini guna mendorong mahasiswa agar menyadari pentingnya menulis. “Karya tulisan adalah tanda bahwa nama kita pernah ada di dunia ini,” tuturnya.(zaw)

Membingkai Nilai Keagamaan dan Kearifan Lokal Lewat Pengajaran Bahasa

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 43

HUMANIORA-Dalam teori sosiolinguistik dikatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari lingkungan budaya tempat asal bahasa. Melalui bahasa budaya itu diperkenalkan, dan dalam bahasa tercermin suatu budaya. Oleh karena itu, dalam setiap pengajaran bahasa selalu ada konstruksi makna dalam wujud manifestasi pengenalan budaya. Hal ini juga bisa terjadi dalam seiap pengajaran bahasa.

Dr. Meinarni Susilowati, salah satu pakar linguistik di jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora, telah mencoba mendedahkan manifestasi pengenalan budaya yang terjadi dalam proses pengajaran bahasa. Menurutnya, pengajaran bahasa dapat dijadikan sebagai proses untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal kepada peserta didik.

“Dalam setiap pengajaran selalu ada proses konstruksi makna. Proses inilah yang harus diisi dengan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal selama melakukan interaksi dengan peserta didik di dalam kelas,” jelasnya.

Studi yang dilakukan Dr. Meinarni Susilowati terhadap kontruksi makna dalam pengajaran bahasa menunjukkan bahwa sebenarnya dalam kasus pengajaran bahasa Inggris telah terjadi proses westernisasi budaya. Selalu ada makna bahasa yang mengacu pada praktik budaya Barat. Di sini, seorang pengajar perlu menfilter westernisasi itu dengan memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Menurut Dr. Meinarni, konstruksi makna merupakan suatu proses yang terkait dengan bagaimana individu memahami dan memproduksi makna melalui bahasa. Manusia menjadikan makna sebagai acuan dalam bertindak terhadap sesuatu. Dengan demikian, ada hubungan yang tidak boleh dipisahkan antara bahasa dengan tindakan sosial. Dalam pola interaksi seperti ini, proses westernisasi itu bisa terjadi.

“Westernisiasi itu harus dicegah. Lebih-lebih dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di lingkungan PTKI di Indonesia, memasukkan nilai keagamaan dan kearifan lokal menjadi hal yang harus diupayakan,” imbuhnya.

Gagasan besar yang merupakan hasil penelitian tersebut di atas disampaikan oleh Dr. Meinarni Susilowati di tengah para intelektual muslim yang hadir dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke XVIII yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia pada 17-20 September 2018 di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah.[mff]

 

 

Dosen Tak Berarti Tanpa Publikasi Karya Ilmiah

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 73

HUMANIORA-Publikasi karya ilmiah merupakan roh bagi sebuah perguruan tinggi. Dalam hal ini, dosen sebagai elemen terpenting dalam perguruan tinggi, memiliki tanggung jawab atas terbangunnya budaya akademik di dalamnya. Hidup-matinya sebuah perguruan tinggi sangat bergantung pada sejauhmana tradisi penulisan dan publikasi karya ilmiah yang lahir dari dosen. Oleh karena itu, tanpa karya dan publikasi ilmiah, maka dosen tidak berarti apa. Ini terungkap dalam Workshop on Academic Writing yang dilaksanakan Fakultas Humaniora pada Kamis (26/9/2018) di Aula Lt. 3.

Dalam acara tersebut, hadir Azhar Ibrahim Alwee, Ph.D., dari National University of Singapore (NUS) sebagai narasumber. Menurutnya, di zaman sekarang ini tidak ada alasan bagi dosen sebagai pilar akademik kampus untuk tidak bisa berkarya dan mempublikasikannya di jurnal-jurnal, baik berskala nasional maupun internasional.

“Zaman kita ini adalah zaman berjejaring. Internet telah menghubungkan kita dengan dunia di belahan yang lain. Kita bisa mengakses jurnal dari manapun. Tinggal kita yang harus memiliki kemauan untuk menulis,” tegasnya di hadapan dosen Fakultas Humaniora.

Namun demikian, untuk dapat menembus ke dalam jurnal ilmiah yang berkualitas dibutuhkan trik-trik khusus. Diantaranya, seorang dosen harus mampu mengemas issu kajian secara menarik. Terkadang topik kajiannya sederhana, tetapi karena perspektif issu yang diangkat tidak ditampakkan secara menarik maka tulisannya menjadi datar-datar saja sehingga ditolak oleh pengelolah jurnal.

“Memilih topik tidak harus muluk-muluk, cukup gunakan strategi pengemasan issu yang menarik. Banyak topik-topik yang sederhana kalau dikemas secara apik, maka akan menjadi tulisan yang menggigit,” tambahnya.

Kegiatan Workshop on Academic Writing dilaksanakan dalam rangka pendampingan penulisan dan publikasi artikel ilmiah bagi dosen di lingkungan Fakultas Humaniora. “Para dosen harus didorong untuk menulis artikel ilmiah dan mempublikasikannya kedalam jurnal. Ini menjadi komitmen kita,” tegas Dekan Fakultas Humaniora, Dr. Syafiyah.[arh]

Humaniora Helat Program International Student Exchange

  • Written by Admin Humaniora
  • Category: Berita
  • Hits: 123

Sebagai wujud komitmen untuk membangun kultur akademik yang maju, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan program International Student Exchange. Program ini merupakan bentuk dari kerjasama yang telah dijalankan bertahun-tahun antara Fakultas Humaniora dengan National University of Singapore (NUS). Program ini dihelat di Aula Rumah Singgah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Senin (24/9/2018).

“Kegiatan ini merupakan wujud dari komitmen kami untuk membangun kultur akademik yang dapat mengantarkan mahasiswa mencapai pengetahuan yang luas, khususnya terkait dengan bidang studi yang dikembangkan di Fakultas Humaniora,” ujar Dr. Syafiyah selaku Dekan Fakultas Humaniora dalam malam pembukaan.

Sementara itu, Azhar Ibrahim Alwee yang menjadi dosen pendamping bagi mahasiswa NUS menjelaskan tujuan program ini. “Sangat senang kami bisa berkolaborasi dengan Fakultas Humaniora untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Hal ini sangat membantu dalam membangun kultur akademik mahasiswa kami,” tegasnya saat memberikan kata sambutan.

Empat mahasiswa dikirim secara khusus dari National University of Singapore (NUS) untuk mengikuti program ini. Kegiatan yang didesain dalam payung Program International Student Exchange akan dirinci dalam bentuk aktifitas akademik yang lain, seperti International Student Forum, Kunjungan Budaya, sit in class, dan aktifitas yang lain. Kegiatan ini akan dihelat selama enam hari, sejak 24 – 29 September 2018.[arh]