MIU Login

Sprint di Ujung Ramadhan: Meraih Malam Terbaik di Sepuluh Malam Terakhir

Oleh: Abdur Rahim*

Sepekan sebelum bulan Ramadhan, saya mendapatkan sebuah buku menarik berjudul “Mindful Ramadhan: Seni Mengubah Rutinitas Menjadi Ibadah Tak Terbatas”. Buku ini ditulis oleh seorang ibu rumah tangga-cum-akademisi yang tinggal di salah satu daerah di Jawa Timur. Buku yang sepertinya dikumpukan dari beberapa artikel refleksi ini terdapat satu bab yang menarik tentang strategi menjalankan ibadah di sepuluh malam terakhir. 

Read too:

Hal menarik yang diulas dalam buku ini adalah momen istimewa yang hanya datang sekali dalam setahun. Momen tersebut disebut sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebuah waktu yang diyakini sebagai malam pembebasan dari ancaman api neraka (itqun min an-nar). Waktu di mana satu malam saja itu nilainya lebih baik dari seribu bulan sekaligus. Kalau dihitung secara sederhana, butuh waktu lebih dari delapan puluh tiga tahun kehidupan manusia. Malam itu bernama Lailatul Qadr yang bersembunyi di salah satu malam ganjil: 21, 23, 25, 27, atau 29. 

Tapi kita semua tahu betapa sulitnya kenyataan itu. Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh terlewat begitu saja. Namun, seringkali kenyataan sebaliknya. Tubuh sudah lelah. Hampir sebulan penuh berpuasa, kerja menumpuk, urusan lebaran mulai menyita perhatian, pikiran sudah melayang ke kampung halaman. Rasanya seperti seorang pelari maraton yang hampir kehabisan napas justru di kilometer terakhir. Momen yang paling menentukan.

Junjungan kita Rasulullah ﷺ pun menghadapi tantangan serupa. Beliau adalah kepala negara, pemimpin umat, panglima perang, sekaligus kepala keluarga. Tanggungjawab yang tidak bisa dibandingkan dengan beban siapapun di antara kita, para pengikutnya yang hidup lima belas abad setelahnya. Namun beliau punya strategi yang jelas untuk menghadapi sprint terakhir ini. Strategi yang masih sangat relevan untuk kita hari ini. 

Strategi Rasulullah ﷺ inilah yang diulas secara apik oleh Ummania, si penulis buku. Berikut ini uraian singkatnya.

Delegasi dan Eliminasi: Seni Memfokuskan Diri

Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ adalah delegasi besar-besaran. Beliau menyerahkan urusan pemerintahan kepada Abu Bakar, keamanan kepada Umar, logistik kepada Utsman, dan persoalan hukum kepada Ali. Ini bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, delegasi adalah tanda kepemimpinan yang matang. Beliau tahu tidak semua hal harus dikerjakan sendiri.

Di sisi lain, Sayyidah Aisyah menceritakan perubahan dramatis yang terjadi di rumah tangga beliau. Sepuluh hari terakhir terasa sangat berbeda. Beliau, Rasulullah ﷺ, mengurangi aktivitas sosial, tidak banyak menerima tamu, tidak menghadiri undangan yang tidak mendesak. Semua energi difokuskan untuk ibadah. Beliau juga mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Tiga langkah konkret yang Sayyidah Aisyah abadikan dalam memorinya.

Prinsip ini bisa kita terapkan. Coba lihat jadwal kita sehari-hari. Aktivitas apa saja yang dapat didelegasikan? Mana yang bisa ditunda? Pertemuan atau rapat-rapat yang tidak krusial bisa dijadwalkan ulang. Mengenai ini, ada cerita menarik dari seorang ulama kharismatik di Jawa Tengah yaitu Mbah Sahal Mahfudz Kajen. Kabarnya, Mbah Sahal selama Ramadhan tidak menerima tamu dan mengalihkan aktivitas sosialnya dengan ibadah di ndalem. 

I’tikaf: Seni Hadir Sepenuhnya

Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau menetap di masjid dengan tikar sederhana sebagai alas, menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Ketika sahabat bertanya tentang tujuan i’tikaf, beliau menjawab singkat namun dalam: mencari Lailatul Qadr dan menjauhkan diri dari kesibukan dunia.

Bagi kita yang tidak bisa i’tikaf secara fisik, ada konsep yang bisa diadaptasi: i’tikaf digital. Bukan berarti anti-teknologi, melainkan menggunakan teknologi secara bijak. Matikan notifikasi yang tidak perlu. Tutup sementara aplikasi hiburan. Gunakan gawai untuk mendengarkan murattal, mengikuti kajian, atau membaca tafsir. Teknologi menjadi pelayan ibadah, bukan penghalangnya.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa i’tikaf bukan perjalanan spiritual yang harus dilalui sendirian. Istri-istri beliau ikut i’tikaf di tenda terpisah dalam satu masjid. Beliau membangunkan Hasan dan Husain, cucu-cucunya yang masih kecil, untuk shalat malam, meski mereka kadang tertidur kembali. Yang penting adalah proses penanaman kebiasaan. Ajak keluarga, jadikan sepuluh hari ini sebagai momen kebersamaan spiritual yang tak terlupakan.

Kebiasaan Kecil yang Mengubah Segalanya

Sprint terakhir bukan tentang lonjakan ibadah yang tiba-tiba dramatis, lalu kolaps di tengah jalan. Ini tentang kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Sayyidah Aisyah berkata tentang ibadah Rasulullah ﷺ: “Amal yang paling beliau cintai adalah yang dilakukan secara konsisten, meski sedikit.” Konsistensi mengalahkan intensitas yang sesaat.

Mulailah dari yang kecil namun pasti. Dua rakaat tahajud setiap malam, lebih baik dari dua belas rakaat yang hanya dilakukan sekali. Lima halaman tilawah setiap hari, lebih bermakna dari satu juz yang dibaca tergesa-gesa lalu berhenti. Sedekah sepuluh ribu rupiah per hari selama sepuluh hari, nilainya tidak kalah dari sedekah besar yang dilakukan tanpa ketulusan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Lindungi dirimu dari neraka, walau dengan setengah kurma.” Inilah yang disebut small but consistent.

Satu doa yang beliau ajarkan kepada Sayyidah Aisyah untuk dibaca di malam Lailatul Qadr: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. “Ya Allah, Engkau adalah Maha Pemaaf, mencintai permohonan maaf, maka maafkanlah aku.” Doa singkat yang dapat kita baca dalam satu kali tarikan nafas. Do’a yang selalu dibaca setelah menunaikan Sholat Witir. Singkat namun maknanya padat. Doa yang seringkali menjadi kabur di malam-malam terakhir Ramadhan karena banyaknya undangan buka bersama dan hiruk-pikuk persiapan lebaran.

Investasi Terbaik dalam Hidup

Sepuluh malam terakhir hanya 240 jam. Di dalamnya tersembunyi satu malam yang nilainya setara dengan lebih dari 30.000 malam biasa. Bayangkan saja, satu malam yang dijalani dengan penuh kekhusyukan bisa menggantikan ribuan malam yang terlewat begitu saja. Tidak ada instrumen investasi di dunia ini yang mampu menandingi return sebesar itu.

Dan, yang indah dari strategi Rasulullah ﷺ adalah: meski beliau tidak tahu persis malam mana Lailatul Qadr, beliau memaksimalkan semua malam. Karena konsistensi selama sepuluh hari penuh adalah jaminan bahwa tidak ada satu malam pun yang terlewat. Kita tidak perlu tahu mana malam yang tepat. Kita hanya perlu hadir sepenuhnya di setiap malam.

Maka marilah kita masuki hari-hari terakhir ini bukan dengan rasa lelah, melainkan dengan kesadaran penuh. Delegasikan apa yang bisa didelegasikan. Eliminasi apa yang hanya membuang energi. Hadirkan diri, lahir dan batin, dalam setiap sujud, setiap ayat, setiap doa. Karena mungkin inilah Ramadhan yang terakhir bagi kita. Dan kita ingin mengakhirinya dengan cara yang paling bermartabat.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”

*Pegiat bukber dan Alumni Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait