Oleh: A. Fahmi Fahrurrozi*
Marhaban tiba Marhaban Tiba. Tiba-tiba Ramadan. Tiba-tiba Ramadan…
Tentunya kita tidak asing dengan penggalan lirik yang keliru diucapkan oleh salah satu artis di tanah air. Sekilas memang seperti guyonan.tapi lihatlah justru dari situ banyak konten yang muncul. Yang semakin kreatif dan lucu. Banyak lagu-lagu spesial edisi Ramadan yang diciptakan oleh banyak artis tanah air dan juga mancanegara. Iklan-iklan di televisi begitu bervariasi dengan segala topik Ramadan. Bahkan ada iklan yang hanya muncul setahun sekali saat bulan Ramadan. Pasti semua bisa menebaknya. Ya betul. Marijajan.
Read too:
- Sinergi Kepemimpinan: Dekanat Humaniora Bekali Pengurus Ormawa Fondasi Integritas
- Buka Raker Ormawa, Dekan Humaniora: Organisasi adalah Nutrisi Pendewasaan Akal dan Mental
Memasiki bulan puasa memang suasana hidup menjadi tidak lagi sama. Dari berbagai aspek. Pagi yang biasanya berjalan begitu cepat karena diburu jam masuk kerja, menjadi lebih pelan. Karena ada relaksasi waktu dari kantor. Dan mata yang masih mengantuk karena terlalu malam tadarusan. Pun juga ketika siang menjelang, yang biasanya meja di belakang kantor dipenuhi hiruk pikuk obrolan politik berbalut hisapan rokok dan segelas kopi rame-rame (mungkin karena sudah divaksin semua) berubah bersih, rapi dan sunyi seperti tidak pernah dijamah manusia.
Menjelang malam, yang biasanya dijejali dengan rutinitas memegang hp atau menonton televisi berganti dengan lantunan ayat-ayat suci mulai dari kota sampai pelosok desa. Kita melakukan ibadah seperti begitu mudah dibanding biasanya. Bahkan baru selesai salat dzuhur pun kita sudah merindukan adzan maghrib. Kadang berpikir apa karena memang kita sudah bertambah tingkat keimanannya. Belum tentu. Bisa jadi karena lapar. Karena memang semesta mendukung. Lingkungan menjadi seragam untuk menyemarakkan Ramadan. Namun sebenarnya mengisi Ramadan bukan sebercanda itu, Ramadan bukan sekedar pegantian rutinitas makan dan tidur. Ia adalah undangan untuk beromansa dengan suara terdalam dan termurni dalam diri manusia. Hati Nurani.
Hiruk pikuk dunia zaman now, seringkali membuat kita lupa kepada hati nurani. Tertimbun oleh rutinitas yang tiada henti. Sibuk mengejar target, memenuhi ekspektasi sosial, terjebak dalam arus informasi yang terus berganti bahkan sibuk membuat SKP. Lalu tiba-tiba Ramadan datang yang seolah seperti oase. Sebuah jeda yang penuh kasih sayang. Serta rasa damai untuk selalu bersama. Ia mengajak berhenti sejenak untuk mendengar lagi suara dari dalam diri yang mungkin sudah lama terabaikan. Puasa bukan tentang menahan haus dan lapar, tetapi juga menahan ego, menahan rekening, emosi, hawa nafsu dan dorongan-dorongan negatif yang sering muncul. Bagaimana puasa tidak hanya sebagai ritual wajib tetapi juga menjadi sarana batiniyah untuk menciptakan sebuah ruang romantis antara manusia dengan hati nuraninya.
Romansa biasanya identik dengan hubungan antarmanusia. Namun Ramadan menghadirkan nuansa yang lebih jauh dari itu: hubungan antara diri dan hati nurani. Hati nurani adalah kompas moral, suara halus yang membedakan benar dan salah. Menurut Al-Ghazali, hati (qalb) adalah hakikat manusia yang sesungguhnya. Dalam karyanya Ihya Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa hati bukan sekadar organ fisik, tetapi substansi ruhani yang menjadi pusat pengetahuan, kesadaran, dan moralitas. Dalam kehidupan sehari-hari, suara ini sering kalah oleh ambisi dan kepentingan.
Puasa menciptakan ruang hening. Saat tubuh tidak sibuk mencerna makanan, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika kita menahan diri dari pertengkaran, kita belajar mendengarkan. Ketika kita memilih diam daripada membalas, kita memberi kesempatan pada hati nurani untuk memimpin.
Dalam teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg dalam Essays on Moral Development, Volume I, manusia berkembang dari tahap kepatuhan karena takut hukuman menuju tahap moralitas berbasis prinsip. Ramadan membantu kita naik ke tahap yang lebih dewasa: berbuat baik bukan karena takut, tetapi karena sadar itu benar.
Contohnya sederhana. Saat berpuasa dan tidak ada orang yang melihat, kita tetap tidak minum meski sangat haus. Itu bukan karena takut pada manusia, tetapi karena kesadaran batin bahwa kita sedang menjalani amanah. Di titik itu, relasi kita dengan hati nurani terasa intim dan personal.
Puasa Ramadan adalah perjalanan batin yang lembut namun mendalam. Ia bukan sekadar ritual tahunan, tetapi kesempatan untuk beromansa dengan hati nurani. Dalam lapar, kita belajar empati. Dalam dahaga, kita belajar kesabaran. Dalam penahanan diri, kita belajar kedewasaan moral.
Didukung oleh berbagai teori psikologi tentang kesadaran diri, pengendalian diri, perkembangan moral, dan pencarian makna, puasa terbukti bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga proses pembentukan karakter. Ia menyentuh dimensi terdalam manusia—dimensi yang sering terabaikan dalam hiruk-pikuk kehidupan modern.
Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita mendengar dan mengikuti hati nurani. Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih jujur, dan lebih peduli, maka romansa itu tidak berhenti di akhir bulan. Ia akan terus hidup, mengalir bersama langkah-langkah kita dalam kehidupan sehari-hari. Maka ketika mendengar lirik Marhaban tiba marhaban tiba, bukan lantas kita menertawakan atau mencela tapi justru tersenyum. Karena sebentar lagi mendapatkan THR.
*Penulis adalah Tenaga Kependidikan di Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





