Oleh: M. Anwar Masadi*
Bagi Umat Islam puasa memiliki nilai yang khusus. Puasa tidak hanya berhubungan dengan persoalan jasady (tubuh) dengan mampunya sesseorang menahan lapar saja, tetapi juga persoalan ruhy atau pengelolaan diri (menahan jiwa).
Ketika kecil kita sudah diajarkan bagaimana Ramadhan itu begitu spesial, sehingga persiapannya juga begitu spesial. Orang-orang didesa akan menyiapkan sedemikian rupademi persiapan memasuki bulan Ramadhan seperti membersihkan masjid dan musholla, kerja bakti disekitar rumah dan lingkungannya, membersihkan makam dan ziarah, tentu saja bagi anak kecil waktu itu adalah menyiapkan petasan baik dengan membeli petasan ataupun dengan membuat sendiri petasan dengan menggulung kertas entah itu dari kalender maupun buku-buku sekolah yang tidak terpakai lagi. Begitu spesialnya Ramadhan bagi kita.
Read too:
- Ramadhan dan Al-Mīzān
- Perkuat Komitmen Zona Integritas, Fakultas Humaniora Bagikan Pengalaman PMP ZI Pada FKIK UIN Malang
Ramadhan sebagai bulan suci bagi umat islam tentu saja spesial tidak hanya hari-harinya yang memang diciptakan spesial oleh Allah SWT, tetapi juga suasana dan ruh Ramadhan yang begitu terasa. Di negara-negara seperti di Saudi dan di Mesir, masyarakat akan melakukan apa saja untuk menyambut dan mendapatkankeberkahan Ramadhan. Di Masjidil Haram makanan-makanan akan dibagikan demi mendapatkan pahala dan keberkahan Ramadhan. Bagi para mahasiswa Indonesia di Mesir mereka tidakakan takut kelaparan karena orang-orang Mesir akan banyak bersedekah pada bulan itu, di Masjid-masjid tentu saja banyak menu berbuka dan makanan yang disiapkan untuk berbuka, tidak hanya cukup tapi sangat berlebih. Orang-orang Mesir juga banyak bersedekah dengan memberikan bahan makanan dan uang terutama diberikan kepada Mahasiswa Asing seperti dari Indonesia. Semarak Ramadhan begitu terasa luar biasa.
Bagi orang-orang Khos dan para sufi, Ramadhan itu adalah Ruh dan terasa sekali Ruhnya Ramadhan, mereka akan mempersiapkan diri sedemikian rupa. Puasa bagi mereka adalah ruh yang akan menghidupkan siang-malam mereka, mereka akan memuasakan secara lahiriyah dan batiniyah. Lapar akan memiliki makna yang berbeda bagi kaum sufi, jika kenyang adalah pemuasan sifat hewani, maka lapar adalah membunuh sifat-sifat hewani lapar adalah jalan dan pelita bagi pengetahuan Ilahi yang hakiki. Lapar adalah metode yang sempurna untuk mencapai pemahaman terhadap Tuhannya.
Ramadhan bagi para penyair tentu saja juga berbeda. Saya mencoba menelusuri puisi-puisi dari penyair Indonesia yang berbicara tentang Ramadhan dan Puasa. Pertama yang saya temukan adalah puisi dari Gus Mus yang berjudul “Nasehat Ramadhan untuk Mustofa Bisri”. Puisi ini berisi tentang perenungan diri atau refleksi diri (Gus Mus) tentang bagaimana Ramadhan yang suci Ramadhan, dan tentu saja puisi ini tidak untuk seorang Gus Mus semata, tapi juga menjadi perenungan bagi diri kita tentang Ramadhan. Beliau mengawali puisi tersebut dengan refleksi yang Indah yang mengajak untuk jujur kepada diri kita: “Mustofa, Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu”.
Bait diatas dimulai dengan ungkapan kepada dirinya sendiri “Mustofa”, untuk jujur kepada diri sendiri. Tentu saja ini terkait dengan sifat manusia yang selalu menyuruh orang lain untuk jujur, tetapi tidak jujur kepada diri sendiri, menyuruh orang lain untuk kebaikan tapi tidak untuk diri sendiri. Meminta untuk jujur kepada diri sendiri adalah meminta kepada diri untk reflektif, menimbang diri dengan melihat semua keadaan dan kelayakan terhadap diri sendiri sebelum melihat orang lain. Dan tentu saja seorang Mustofa Bisri mengajak kita untuk jujur menimbang diri kita terutama pada bulan Ramadhan yang penuh dengan ampunan, ataukah Ramadhan tidak memiliki arti ketika kita hanya menganggapnya sebagai aktifitas puasa rutinan dalam setiap tahunnya, maka dengan menimbang jujur terhadap diri kita, puasa akan bernilai lebih untuk diri kita.
Pada bait selanjutnya, beliau mengungkapkan dengan kalimat yang tak kalah indah: “Ramadhan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu serahkanlah semata-mata pada-Nya. Bersucilah untuk-Nya. Bersholatlah untukNya. Berpuasalah untukNya. Berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya”. dalam bait ini Gus Mus mengajak kita untuk memahami hakikat dari puasa, bahwa puasa Ramadhan adalah semata-mata untuk Allah, tidak untuk yang lain-Nya, ini sebagaimana Hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa “Puasa adalah untuk-Ku dan Aku (Allah) yang akan memberikan pahala”. Maka dengan memahami hakikat puasa, segala hal ibadah semata-mata hanya untuk Allah, tidak untuk yang lain-Nya.
Gus Mus juga mengajak kita untuk menata niat kita dalam berpuasa bahwa puasa juga tidak hanya mempuasakan seluruh anggota badan kita secara dhohiriyah dan Batiniyah, bahkan lebih dalam lagi, tidak ada niat apapun kecuali untuk Allah semata: “…….Puasakan tubuhmu untuk meresapi Rahmat, Puasakan hatimu untuk menikmati Hakikat, Puasakan pikiranmu untuk menyakini Kebenaran, Puasakan dirimu untuk menghayati Hidup. Tidak….Puasakan hasratmu…..hanya untuk Hadlirat-Nya!”
Bait puisi diatas tentu saja memberikan perenungan yang sangat dalam bagi kita tentang niat puasa kita, niat puasa kita akan selalu berhubungan dengan posisi kehambaan kita dan penyadaran diri kehambaan dan kelemahan kita sebagai manusia. Dalam Bahasa arab kata “Abdun” berarti budak atau hamba, kata abdun adalah pengambaran tentang diri manusia yang tidak memiliki daya upaya apapun kecuali kerena anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Abdun tidak hanya berarti ketidak berdayaan baik berupa fisik dan jiwa, bahwa manusia tidak memiliki apapun dan berdaya atas dirinya kecuali atas anugerah Allah, fisik yang indah yang melekat pada diri manusia adalah semata-mata karena pemberian dan anugerah Allah, jika Allah memintanya maka tidak ada yang mustahil bagi Allah. Begitu juga niat berpuasa adalah bentuk kepasrahan akan kehambaan kita hanya kepada Allah semata.
Di ahir puisi Gus Mus menyisipkan pesan dengan kalimat yang indah: “Mustofa,…Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini. Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti Ramadhan-Ramadhan yang lalu”. Tentu saja Gus Mus selain mengajak kita untuk mereflekksikan diri, merefleksikan niat kita juga memberikan pesan yang menyentuh untuk kita sebagai manusia (Nas dari kata Nasiya yang berarti lupa) yang selalu lupa. Sifat pelupa manusia menjadikan manusia harus terus meneguhkan niat diri secara kontinyu, termasuk soal puasa yang mungkin oleh sebagian orang danggap sebagai rutinitas tahunan, tanpa kita menata niat, tanpa kita mereflesikan diri, tanpa kita mempersiapkan diri secara dhohir dan batin maka mustahil puasa kita akan memiliki nilai terhadap diri kita, bahkan juga mustahil akan memiliki nilai juga diahadapan Allah. Waallahu ‘alam bissawab.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





