MIU Login

Rahasia Bahasa & Hikmah di Balik Kata “Aku” dalam Rangkaian Ayat-ayat Puasa

Oleh: Muhammad Hasyim*

Di dalam rangkaian ayat-ayat puasa, tepatnya di dalam surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Read too:

Di dalam ayat ini Allah SWT. menyebutkan diri-Nya yaitu dengan kata-kata “Aku” sebanyak tujuh kali dan itu hanya ada di dalam ayat ini. Kalau kita lihat hitungan tujuh itu terdapat pada mulai dari kata “عِبَادِيْ”, kemudian “عَنِّيْ”, kemudian “فَاِنِّيْ”, lalu kemudian dilanjutkan dengan “اُجِيْبُ”, kemudian “اِذَا دَعَانِۙ”, “فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ” dan juga “وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ”. Maka di sini terulang sebanyak tujuh kali. Sehingga ada kesan yang didapat oleh sebagian mufassir bahwa betapa dekat Allah dengan hamba-hamba-Nya yang sangat taat kepada-Nya atau mungkin dalam keadaan hamba-hamba tersebut menyadari kesalahannya sehingga ada usaha untuk bertobat dan taat kepada Allah SWT. 

Kalau ini kita kaitkan dengan rangkaian ayat-ayat puasa di mana dalam Al-Baqarah 183 Allah menyatakan kewajiban puasa yang esensinya adalah la’allakum tattaquun. Lalu kemudian di dalam ayat 185 Allah nyatakan :

… وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

Pesan tersirat yang terdapat di dalamnya adalah bagaimana puasa dan juga ibadah-ibadah di bulan Ramadhan ini mengajarkan kepada kita untuk mencapai derajat menjadi orang-orang yang bertakwa sekaligus orang-orang yang bersyukur kepada Allah SWT. Maka orang yang memadukan ketakwaan dan kesyukuran inilah adalah hamba-hamba Allah yang sangat dekat dengan Allah SWT. 

Maka jika kita lihat, ada beberapa pelajaran dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan pada saat ini. Yang pertama, Ramadhan mengajarkan kepada kita yaitu ikhlasul amal. Bagaimana kita melakukan amal itu adalah ikhlas hanya karena Allah sebagai sebagaimana firmannya di dalam surah al-Bayyinah “وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ”.

Imam Ibnu Athaillah Assakandari di dalam karya monumental beliau yaitu al-Hikam, beliau menyebutkan bahwa ikhlas adalah ruh dari ibadah atau ruh dari amal seseorang. Maka ruh inilah yang akan menghidupkan ibadah tersebut di hadapan Allah SWT. Sebagaimana jasad kita, maka jasad ini yang menghidupkan jasad ini adalah ketika Allah meniupkan ruh di dalam jasad ini. Dan ketika ruh itu dipanggil kembali, maka jasad ini akan kembali mati. 

Begitu pula kehidupan ini, di dalam al-Qur’an disebutkan :

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا … 

“Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) rūh (al-Qur’an) dengan perintah Kami.”

Ruh di sini maknanya adalah al-Qur’an. Sehingga agar kehidupan ini betul-betul hidup dan sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah, maka panduannya adalah al-Qur’an. Malaikat Jibril disebut dengan ar-Ruh al-Amin, karena malaikat Jibril menyampaikan wahyu al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. 

Lalu pelajaran yang kedua di dalam ibadah puasa dan juga ibadah Ramadhan yang kita lakukan adalah terdapat tazkiyatun nafs. Kita tahu bahwa ibadah puasa yang kita lakukan sesungguhnya tidak hanya meninggalkan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan, tetapi Rasulullah SAW. berpesan kepada kita :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ 

“Barang siapa yang yang tidak dapat meninggalkan qoulazzur (perkataan yang buruk atau yang keji), maka sesungguhnya Allah tidak butuh terhadap dia walaupun orang tersebut sudah meninggalkan makan dan minumnya. Artinya dia melaksanakan ibadah puasa.”

Maka di sini ibadah puasa mengajarkan tazkiyatun nafs kepada kita, sekaligus ikhlasul amal sebagaimana poin yang pertama tadi, karena puasa hanya Allah-lah yang tahu bagaimana kualitas puasa kita masing-masing. 

Ketiga, ibadah Ramadhan mengajarkan kepada kita itqanul ibadah, yaitu komitmen dalam kehambaan kita kepada Allah SWT. Maka di dalam ibadah Ramadhan kita dimotivasi untuk menambah amal-amal kebajikan termasuk bagaimana memperbanyak zikir, memperbanyak membaca al-Qur’an dan lain sebagainya.

Dan yang keempat dalam ibadah Ramadhan mengajarkan tahsinul muamalah, yaitu memperbagus atau memperbaiki muamalah kita kepada Sang Khaliq dan juga kepada sesama makhluk. Maka di dalam Ramadan kita dianjurkan melakukan dan meningkatkan sedekah. Kita dianjurkan memberi buka puasa bagi orang yang melaksanakan puasa. Dan kita dianjurkan untuk berbagi yang mana pada akhir Ramadhan kita semua diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah yang itu adalah simbol bagaimana muamalah kita dengan sesama makhluk itu menjadi lebih baik.

Pesan-pesan yang dibawa oleh Ramadhan ini sesungguhnya tidak hanya berhenti kita lakukan di bulan suci Ramadhan, tapi yang juga penting adalah bagaimana kita menjaga ritme kebaikan-kebaikan itu. Termasuk nanti selepas kita ditinggalkan oleh bulan yang mulia yaitu Ramadhan. Demikian, Wa Allahu A’lam.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait