Oleh: Ahmad Kholil*
Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad al-Syakir mengutip kitab Zubdah al-Wa’idhin mengatakan bahwa puasa terbagi tiga ; puasa awam, puasa khawash dan puasa khawash al-khawash. Puasa awam dilakukan dengan cara menahan diri dari rasa lapar dan haus serta godaan syahwat. Puasa khawash merupakan puasanya para hamba yang saleh, yaitu orang yan mampu menahan seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan yang mengundang dosa. Puasa level ini ditandai oleh lima hal ; Pertama : kemampuan menahan pandangan mata dari hal yang dilarang. Kedua : lidah terhindar dari ghibah, dusta, adu domba dan sumpah palsu. Ketiga : pendengaran tertutup dari hal yang tidak baik (makruh). Empat : anggota tubuh tidak melakukan yang dilarang oleh agama, termasuk lambung tidak kemasukan hal-hal yang subhat (tidak jelas status halal haramnya) saat berbuka. Dan lima : tidak berlebihan mengkonsumsi makanan saat berbuka. Adapun puasa khawash al-khawash adalah puasanya hati dan pikiran dari hal-hal yang bersifat duniawi. Ini merupakan puasa level tertinggi, karena yang bisa sampai pada level ini hanya para nabi dan shiddiqqin, yaitu para hamba yang tiada keraguan sama sekali terhadap ajaran agama.
Read too:
- Tren Sleep Call Sahur: Antara Solidaritas Digital dan Ikhtiar Kedisiplinan
- Jurnalisme Profetik dalam Spirit Ramadan: Perspektif Jurnalis Kampus dalam Menghadirkan Nilai Kenabian
Puasa dalam Bahasa Jawa adalah pasa atau poso yang artinya menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya dalam jangka waktu tertentu. Secara etimologis, poso atau pas aini berasal dari bahasa Sanskerta “upavāsa”, yang berarti berpuasa atau berpantang. Sedikit di atas pengertian puasanya awam, puasa dalam tradisi masyarakat Jawa, tidak hanya menahan dari rasa lapar dan dahaga, tetapi juga mengandung nilai laku prihatin, yaitu pengendalian diri, serta penyucian batin. Penyucian batin, dalam pengertian Jawa ini maksudnya adalah proses pengolahan dan pendewasaan melalui pengendalian diri, keheningan, dan kedekatan kepada Tuhan. Dengan ungkapan lain, laku batin adalah praktik spiritual untuk membersihkan dan menata hati untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah mungkin yang dimaksud dari ‘لعلكم تتقون’ pada ayat Alquran yang menjelaskan kewajiban berpuasa.
Dalam konteks tradisi Jawa, laku batin itu bertujuan ; pertama untuk membersihkan diri dari penyakit hati seperti sifat iri dan dengki, kedua menguatkan kesabaran dan keteguhan, ketiga mencapai ketenangan atau kedamaian, dan keempat menuju keselarasan hidup atau manunggaling kawula Gusti, yaitu adanya kesadaran bahwa segala entitas yang ada di dunia ini tidak lain merupakan jelmaan dari eksistensi Tuhan, ‘مارأيت شيئا إلا وجدت فيه الله’. Dalam pemahaman pemikiran Jawa, orang yang matang batinnya ia akan sabar, andhap asor (rendah hati), tepa selira, dan tidak mudah reaktif atas apa yang dialami.
Berpuasa dalam pengertian menahan diri dari hal-hal yang merusak nilai ibadah bahkan kualitas diri di antaranya adalah pada kemampuan mengendalikan ucapan. Pengendalian ucapan maknanya di anataranya adalah diam. Diam memiliki banyak manfaat, baik untuk kesehatan mental, fisik, maupun sosial. Secara mental, diam mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan memicu kreativitas. Secara sosial, diam bisa menghindari konflik, meningkatkan kemampuan mendengarkan, dan bagian dari hal yang menunjukkan kebijaksanaan. Diam bisa juga menjadi sarana refleksi diri karena dengannya orang dipaksa untuk berpikir daripada bereaksi atau berulah dengan sikap yang tidak terkendali.
Terkait dengan diam ini, Abu Bakar al-Farisi mengatakan :
من لم يكن الصمت وطنه فهو فى الفضول وان كان صامتا. والصمت ليس بمخصوص على اللسان، لكنه على القلب والجوارح كلها
“Orang yang tidak menjadikan diam sebagai sikapnya, ia adalah berlebihan, meskipun tidak berkata apa-apa, karena diam bukan hanya pada lidah, tapi jiwa dan raga (yang tenang)”
Terkait manfaat dan keutamaan diam atau berbicara sekadarnya Jalaluddin Rumi berkata , “Saat kudiam, ada halilintar tersembunyi di dalam diriku, makin senyap, makin bisa kudengarkan”
Dengan demikian jika ingin mendambakan suara hati yang murni, bisa terdengar dengan jelas di telinga jiwa, maka dianjurkan untuk berpuasa bicara. Sebab, ketika orang banyak bicara, suaranya akan menyerap energi yang ada pada dirinya. Semakin banyak bicara, semakin banyak energi terserap, apalagi isi pembicaraannya kosong.
Lisan atau lidah memang salah satu anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Melalui lidah manusia dapat berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan perasaan. Bila lidah digunakan dengan baik, ia akan bernilai ibadah. Karena itu, Nabi Ayyub baru sedikit mengeluh Kepada Tuhan ketika ulat yang menggerogoti tubuhnya sudah mulai menyerang lidahnya. Sebab bila lidahnya terserang, ia tidak bisa lag berdzikir. Namun, di balik nilai yang ada pada lidah, ia bisa juga menjadi sumber atau keburukan jika penggunaannya tidak sesuai ‘pedoman’.
Begitu pentingnya kontrol terhadap anugerah lisan tersebut, Allah Swt. mengingatkan manusia untuk selalu berhati-hati dalam berbicara, karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan. “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Dengan mengutip syi’ir dari para penempuh jalan sufi, Syekh Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan :
إذا لم يكن فى السمع منى تصاممم * وفى مقلق غض وفى منطقى صمت
فحطى إذا من صومى الجوع والظما * وان قلت إنى صمت يوما فما صمت
“Jika pendengaranku tak mampu tuli (tertutup dari hal yang tidak baik), kelopak mata tak mampu terpejam dan mulut tak bisa diam, maka yang kudapatkan dari puasaku tidak lain hanyalah lapar dan haus. Meskipun mengatakan hari ini aku puasa maka sebenarnya aku tidak puasa”
Puasa Romadon Adalah ibadah puasa yang terikat dengan waktu. Puasa lidah dengan cara menjaganya dengan hanya berbicara yang bermakna dan bermanfaat atau diam, tidak terikat dengan waktu. Maka puasa yang kedua ini, sepatutnya tidak perlu berbuka.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang




