HUMANIORA – (16/3/2026) Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menyelenggarakan diskusi daring (Zoom Meeting) terkait re-design kurikulum pada Senin, 16 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian diskusi akademik dalam rangka pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang adaptif terhadap perkembangan dunia kerja dan kebutuhan industri.
Read too:
- Tren Sleep Call Sahur: Antara Solidaritas Digital dan Ikhtiar Kedisiplinan
- Jurnalisme Profetik dalam Spirit Ramadan: Perspektif Jurnalis Kampus dalam Menghadirkan Nilai Kenabian
Diskusi kedua ini menghadirkan Dr. Fitria Akhmerti Primasita, S.S., M.A., dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi pada periode 2019–2023, sebagai narasumber pakar. Beliau merupakan akademisi di bidang American Studies dengan latar belakang pendidikan doktoral dari Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya, ia juga menyelesaikan studi magister di bidang American Studies di The University of Nottingham, Inggris, serta memiliki pengalaman akademik yang luas dalam pengembangan kurikulum dan kajian English Studies.

Dalam paparannya, Dr. Fitria menekankan bahwa langkah awal dalam proses re-design kurikulum adalah melakukan peninjauan kembali profil lulusan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kebutuhan dunia kerja. Ia menyarankan agar program studi juga melibatkan alumni yang telah berkiprah di berbagai sektor industri dalam proses tersebut.
“Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencermati kembali profil lulusan. Program studi bisa mengundang alumni yang sudah bekerja di berbagai bidang untuk memberikan masukan, sehingga kurikulum benar-benar mencerminkan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional,” jelas Dr. Fitria.
Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya fleksibilitas kurikulum dalam merespons minat mahasiswa. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan atau mengubah nama mata kuliah yang kurang diminati, sehingga lebih relevan dengan perkembangan bidang kajian serta kebutuhan mahasiswa saat ini.
“Kadang sebuah mata kuliah kurang diminati bukan karena substansinya tidak penting, tetapi karena cara penyajiannya kurang menarik. Mengubah nama mata kuliah agar lebih kontekstual dengan minat mahasiswa dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan ketertarikan mereka,” tambahnya.

Dalam konteks implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), diskusi juga membahas mekanisme rekognisi kegiatan pembelajaran di luar kampus. Mata kuliah wajib tetap dipertahankan dalam struktur kurikulum, namun program studi dapat menyediakan mata kuliah pengganti sebagai bentuk rekognisi bagi mahasiswa yang mengikuti program MBKM, seperti magang atau kegiatan akademik lainnya di luar kampus.
Lebih lanjut, Dr. Fitria menjelaskan bahwa kegiatan praktik profesional dalam kurikulum Sastra Inggris umumnya berbentuk magang, bukan praktik kerja lapangan (PKL), dengan mitra yang biasanya difasilitasi atau ditentukan oleh universitas. Sementara itu, kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tetap menjadi bagian dari kurikulum dan juga dapat dimanfaatkan sebagai bentuk rekognisi kegiatan MBKM.
Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan kesiapan karier mahasiswa melalui mata kuliah Job Preparation, yang berfokus pada pengembangan kompetensi profesional serta strategi meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.
“Program studi juga perlu memikirkan bagaimana membantu mahasiswa mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Mata kuliah seperti Job Preparation dapat diarahkan untuk mengembangkan nilai jual mahasiswa, misalnya melalui penyusunan CV profesional, portofolio, dan keterampilan presentasi diri,” ungkapnya.

Selain itu, penguatan kompetensi akademik mahasiswa juga dilakukan melalui mata kuliah English for Academic Publication, yang bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan menulis dan mempublikasikan karya ilmiah. Dalam diskusi tersebut juga dibahas dinamika kebijakan terkait artikel sebagai pengganti skripsi, yang perlu mempertimbangkan kesiapan dan kapasitas jurnal program studi.
Pada aspek pengembangan pembelajaran, Dr. Fitria juga menekankan pentingnya integrasi Sustainable Development Goals (SDGs) dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi terhadap isu keberlanjutan global.
“Isu-isu global seperti Sustainable Development Goals dapat diintegrasikan dalam RPS agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada kompetensi akademik, tetapi juga pada kesadaran sosial dan keberlanjutan,” jelasnya.
Melalui diskusi ini, Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Malang diharapkan dapat merancang kurikulum yang lebih responsif, relevan, dan berorientasi pada luaran lulusan, sekaligus memperkuat kolaborasi akademik antarprogram studi dalam pengembangan keilmuan English Studies di Indonesia. [ad-Infopub]




