Oleh: M. Anwar Firdausy*
Perkembangan media di era digital membawa tantangan besar bagi praktik jurnalistik. Arus informasi yang sangat cepat, persaingan antar media, dan tuntutan popularitas di ruang publik sering kali membuat jurnalisme terjebak dalam sensasionalisme dan kepentingan pasar. Dalam kondisi seperti ini, muncul kebutuhan akan model jurnalistik yang tidak hanya fokus pada kecepatan dan popularitas, tetapi juga memiliki dasar moral yang kuat. Salah satu ide yang menawarkan pendekatan ini adalah jurnalisme profetik atau jurnalisme kenabian yang pernah diusulkan oleh Parni Hadi, seorang jurnalis senior yang telah lama berkiprah di Republika.
Read too:
Bagi saya, jurnalisme profetik adalah konsep yang menempatkan nilai-nilai kenabian sebagai dasar etika dalam praktik jurnalistik. Jurnalisme tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga sebagai aktivitas moral yang memiliki tanggung jawab terhadap kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Ide ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan suasana spiritual di bulan Ramadan. Ramadan adalah momen bagi umat Islam untuk memperkuat integritas moral, menahan diri dari berbagai perilaku negatif, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat sesuai dengan prinsip dasar jurnalisme profetik. Oleh karena itu, bulan Ramadan bisa menjadi ruang refleksi bagi para jurnalis untuk meneguhkan kembali orientasi etis dalam profesinya.
Ramadan sebagai Momentum Etika Jurnalistik
Puasa dalam tradisi Islam tidak semata-mata dipahami sebagai menahan rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menahan lidah dari dusta, fitnah, dan ucapan yang tidak berguna. Prinsip ini mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan dunia jurnalisme.
Seorang jurnalis pada dasarnya memiliki “suara publik” melalui berita yang ia susun dan sebar. Informasi yang disiarkan oleh media dapat memengaruhi pandangan masyarakat, membentuk citra publik, bahkan menentukan reputasi individu atau kelompok. Jadi, semua informasi yang diberikan perlu melewati prosedur verifikasi yang ketat agar tidak menghasilkan kesalahan informasi.
Dalam konteks ini, jurnalisme profetik menekankan bahwa pekerjaan jurnalistik bukan hanya aktivitas teknis, tetapi juga kewajiban moral. Atmosfer Ramadan yang menekankan disiplin diri dan kejujuran merupakan pengingat bahwa setiap informasi yang ditulis membawa implikasi etis yang signifikan bagi kehidupan masyarakat.
Nilai-Nilai Jurnalisme Profetik dalam Teladan Sifat Nabi
Nilai-nilai fundamental jurnalisme profetik dapat dipahami melalui contoh karakteristik kenabian dalam tradisi Islam, yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat karakteristik ini dapat menjadi dasar etika bagi jurnalis dalam melaksanakan tugasnya.
Sifat shiddiq mencerminkan kejujuran dan kebenaran. Dalam praktik jurnalistik, nilai ini mendesak jurnalis untuk senantiasa berpegang pada fakta yang tepat dan dapat dipastikan. Informasi tidak seharusnya diubah untuk memenuhi kepentingan tertentu, baik itu kepentingan politik, ekonomi, maupun citra media.
Sifat amanah berhubungan dengan kepercayaan dan tanggung jawab. Informasi yang dimiliki oleh jurnalis pada dasarnya adalah kepercayaan dari publik. Karena itu, seorang jurnalis perlu mempertahankan integritasnya dengan tidak menyalahgunakan informasi dan tetap bersikap independen dalam setiap tahap peliputan berita.
Sifat tabligh adalah menyampaikan informasi dengan jelas dan akurat. Dalam dunia jurnalistik, karakter ini terlihat dalam kemampuan jurnalis menyampaikan informasi kepada masyarakat secara jelas, interaktif, dan mudah dimengerti. Sejalan dengan itu, media mampu melaksanakan perannya sebagai sumber pendidikan bagi masyarakat.
Sementara itu, karakter fathanah menggambarkan kepintaran dan kebijaksanaan. Dalam praktik jurnalistik, kecerdasan ini terlihat melalui kemampuan jurnalis untuk memahami suatu peristiwa secara mendalam dan menyajikannya secara menyeluruh. Jurnalis tidak sekadar menyampaikan fakta secara superficial, tetapi juga menguraikan konteks sosial yang mendasari suatu kejadian.
Empat sifat itu menunjukkan bahwa jurnalisme profetik tidak hanya berkaitan dengan teknik peliputan berita, tetapi juga berhubungan dengan karakter moral jurnalis sebagai pribadi.
Perspektif Jurnalis Kampus: Misi Pendidikan dan Peradaban
Dalam konteks jurnalisme kampus, penerapan prinsip-prinsip jurnalisme profetik memiliki arti yang lebih dalam. Jurnalis kampus tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas akademik yang memikul tanggung jawab intelektual dan moral.
Tidak seperti jurnalisme umum yang sering terpengaruh oleh kepentingan pasar dan industri media, jurnalisme kampus memiliki fokus yang lebih kuat pada dunia pendidikan dan perkembangan intelektual. Media kampus berfungsi sebagai tempat pembelajaran bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menulis, dan menganalisis realitas sosial dengan lebih mendalam.
Di samping itu, jurnalisme kampus pun memiliki tujuan yang sepadan dengan prinsip-prinsip yang dijunjung oleh lembaga pendidikan tempatnya bernaung. Dalam lingkungan perguruan tinggi yang mengutamakan nilai-nilai keilmuan dan moral, jurnalis kampus diharapkan dapat menyajikan berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga mengedukasi dan meningkatkan kecerdasan.
Dengan demikian, jurnalisme kampus memiliki sifat yang berbeda dari jurnalisme komersial. Jika media umum biasanya fokus pada pasar dan ketenaran, media kampus lebih mengedepankan aspek edukatif, reflektif, dan intelektual dalam liputannya. Pandangan ini sangat sejalan dengan prinsip jurnalisme
Mengendalikan Nafsu Sensasionalisme di Era Media Digital
Era media digital sering kali mendorong media untuk mencari sensasi demi menarik minat publik. news yang penuh kontroversi atau dramatis, terlebih hoax sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan berita yang lebih substansial. Namun, di puasa Ramadan mengajarkan kita sekuat mungkin untuk mengekang nafsu yang berlebihan. Nilai pengendalian diri ini bisa trigger bagi praktik jurnalistik yang lebih etis. Agar tidak terperangkap dalam logika sensasionalisme semata. Jurnalis harus memikirkan konsekuensi sosial dari setiap informasi yang dirilis. Wa akhiron sebagai ihtitam jurnalisme profetik bisa menanamkan etika dalam praktik media dengan menjadikan nilai-nilai nabi sebagai dasar moral. Prinsip shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dapat menjadi panduan bagi jurnalis untuk mempertahankan integritas dalam profesinya.
Dalam sudut pandang jurnalisme kampus, nilai-nilai itu memiliki arti yang lebih mendalam karena media kampus bukan hanya berperan sebagai penyedia informasi, tetapi juga jadii arena pembelajaran dan pengembangan intelektual mahasiswa.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang




