Oleh: Halimi Zuhdy*
Bagi mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, khususnya mahasiswa sastra dan bahasa Arab, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang teks yang hidup, ia sebuah “diwan” tahunan yang bisa dibaca dari berbagai sudut, ada tubuh, bahasa, dan masyarakat. Siangnya adalah narasi disiplin dan penahanan diri, malamnya metafora cahaya, suara, dan perjumpaan spiritual. Dalam tradisi syair Arab, Ramadan telah lama ditulis bukan sebagai peristiwa yang beku, tetapi sebagai pengalaman yang lentur: ada yang menyindir panjangnya puasa dengan satire halus, ada yang mengangkat hilal menjadi simbol kosmis, ada pula yang menembus Laylat al-Qadr sebagai pengalaman syuhūd yang melampaui kata. Karena itu, membaca syair-syair Ramadan hari ini bukan sekadar kerja filologis, melainkan cara memahami bagaimana bahasa Arab merekam lapar, rindu, cahaya, dan bahkan kritik sosial dalam satu tarikan bait.
Read too:
- Akselerasi Puncak Karier Akademik: Prodi BSA Luncurkan Program Pencangkokan Dosen Menuju Guru Besar
- Qiyamul Lail – Malam yang Hidup dalam Syair Tasawuf Arab
Pada era Abbasiyah, Ibn al-Rūmī berbicara tentang Ramadan dengan nada yang hampir jenaka. Ia menulis:
رمضانُ يزعمُهُ الغواةُ مباركٌ
صدقوا وجدّك إنّه لطويلُ
“Ramadan, kata para penggoda, adalah bulan penuh berkah; mereka benar—demi hidupmu, ia memang panjang.”
Dalam bait lain ia menambahkan:
تتطاولُ الأيامُ فيه بجهدها
فكأنَّ عهدَ الأمسِ منه محيلُ
Hari-hari terasa memanjang, seolah “kemarin” pun menjadi jauh.
Di sini, Ibn al-Rūmī melakukan sesuatu yang cerdas: ia mengubah waktu menjadi ruang. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi pengalaman psikologis yang meregangkan jam dan kalender. Bahkan ia berhiperbola, seakan satu jengkal waktu menjadi satu mil perjalanan. Ini bukan keluhan kosong, melainkan pengakuan jujur bahwa spiritualitas tak pernah lepas dari tubuh. Ramadan, bagi Ibn al-Rūmī, adalah latihan batin yang dirasakan secara fisik.
Berbeda dengan nada humor itu, Abū Naṣr al-Qushayrī menghadirkan Ramadan sebagai lanskap emosional. Ia bermain dengan akar kata “Ramadan” yang berkaitan dengan panas atau terbakar:
رمضانُ أرمضني بعاداتٍ على
عددِ الطبائعِ والفصولِ الأربعه
“Ramadan membakarkanku dengan kebiasaan-kebiasaan sebanyak tabiat dan empat musim.”
Ada juga yang memeprminkan dengan permainan bunyi yang indah Puasa (ṣawm), hujan deras (ṣawb), rindu (ṣabābah), dan sikap berpaling (ṣudūd) berkelindan dalam satu tarikan napas. Ramadan digambar sebagai montase: panas disiplin, hujan rahmat, rindu yang mengalir. Ini bukan sekadar bulan ibadah, melainkan perubahan cuaca batin.
Puncak spiritualitas Ramadan dalam syair klasik tampak dalam puisi-puisi tentang Laylat al-Qadr. Pada masa Al-Ayyubi, Ibn ‘Arabī menulis:
أرى ليلةَ القدرِ المعظمِ قدرها
ترفعُ مني في الشهودِ ومن قدري
“Aku melihat malam al-Qadr, agung kemuliaannya; ia mengangkatku dalam penyaksian dan dalam martabatku.”
Dan tentang batasnya ia berkata:
وذلك شطرُ الدهرِ عندي لأنها
تكون بما فيها إلى مطلعِ الفجر
“Bagiku ia seperti setengah umur, sebab ia hadir hingga terbit fajar.”
Di sini Ramadan mencapai bentuk paling kontemplatif. Malam tidak lagi sekadar rentang waktu, tetapi pengalaman kesadaran (الشهود). Fajar menjadi tirai yang menutup panggung spiritual. Bahasa puisi menjadikan Laylat al-Qadr sebagai tamu agung yang datang, mengangkat derajat, lalu pergi meninggalkan kelapangan dada.
Memasuki zaman modern, simbol Ramadan mengalami perluasan makna. Aḥmad Shawqī, penyair besar Mesir, mengangkat hilal—bulan sabit Ramadan—ke tingkat kosmis:
يا هلالَ الصيامِ مثلك في السامين
Hilal menjadi “cahaya dahi semesta”, mahkota bagi makhluk. Dalam imaji Shawqī, Ramadan adalah arsitektur cahaya. Simbol kecil di langit menjelma pena kosmik yang menulis makna di atas gelap malam. Estetika visual ini menunjukkan bagaimana Ramadan juga dibaca sebagai keindahan, bukan hanya kewajiban.
Namun modernitas juga melahirkan kritik sosial yang tajam. Ma‘rūf al-Ruṣāfī, dalam puisinya tentang meja makan, menyindir fenomena “balas dendam” malam hari. Ia menulis:
ولكن لا أصومُ صيامَ قومٍ
تكاثرَ في فطورِهم الطعامُ
“Aku tak ingin berpuasa seperti kaum yang makan berlimpah saat berbuka.”
Dan dengan satire getir:
وقالوا: يا نهارُ لئن تُجعنا
فإن الليلَ منك لنا انتقامُ
“Mereka berkata: Wahai siang, jika kau membuat kami lapar, maka malam adalah balas dendam atasmu.”
Di sini Ramadan menjadi cermin sosial. Puasa kehilangan makna jika malam hanya dipenuhi pelampiasan. Detail tentang perut kenyang dan sabuk yang hampir putus membuat kritik al-Ruṣāfī terasa sangat konkret. Ia mengingatkan bahwa esensi Ramadan adalah pengendalian, bukan sekadar pergantian jadwal makan.
Dari klasik hingga modern, satu benang merah tetap terlihat: kontras. Siang dan malam, lapar dan kenyang, gelap dan cahaya. Kontras ini memberi Ramadan daya puitik yang luar biasa. Penyair klasik menekankannya melalui metafora kosmik dan pengalaman mistik; penyair modern memperluasnya dengan kritik sosial dan simbol visual.
Ramadan dalam syair Arab tidak pernah tunggal. Ia bisa menjadi keluhan jenaka tentang waktu yang memanjang, bisa pula menjadi ekstase mistik yang mengangkat derajat jiwa. Ia bisa tampil sebagai hilal bercahaya di langit, atau sebagai meja makan yang dipenuhi ironi. Semua wajah itu sah, karena Ramadan memang pengalaman total, fisik, spiritual, sosial.
Barangkali justru di situlah keindahan syair Ramadan: ia tidak menutup ruang bagi ambiguitas. Ia membiarkan manusia hadir apa adanya, lapar, rindu, khusyuk, bahkan tergoda. Dan dari keragaman suara itulah kita belajar bahwa Ramadan, seperti puisi, bukan sekadar ritual yang diulang setiap tahun, tetapi perjalanan makna yang selalu baru.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





