HUMANIORA – (7/10/2026) Dua puluh juz Al-Qur’an yang dijaga dalam ingatan membawa Sabila Izzati Yursadiyah ke salah satu podium tertinggi PORSI JAWARA II 2026. Mahasiswa semester tiga Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu berhasil meraih Juara I atau Gold Medal cabang Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) kategori 20 Juz.
Read too:
Capaian tersebut diraih dalam Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II Tahun 2026 yang berlangsung pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Ajang ini mempertemukan mahasiswa dari 18 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Jawa dan Madura dalam berbagai cabang olahraga, seni, dan ilmiah.

Bagi Sabila, medali emas tersebut tidak hanya menjadi hasil sebuah kompetisi. Di balik podium juara, ada kesempatan untuk menguji kemampuan yang selama ini dikembangkan sekaligus bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang membawa pengalaman dan kapasitas masing-masing.
“Saya senang karena bisa menambah pengalaman dan bertemu dengan orang-orang baru yang tak kalah hebat. Semoga rencana diadakannya PORSI JAWARA selanjutnya dapat terealisasikan agar para mahasiswa tetap memiliki wadah untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkap Sabila.
Pernyataan itu memperlihatkan sisi lain dari sebuah kompetisi mahasiswa. PORSI JAWARA bukan semata ruang untuk menentukan siapa yang berada di podium, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa bertemu, mengukur kemampuan, belajar dari peserta lain, serta memperoleh pengalaman yang tidak selalu ditemukan melalui perkuliahan.

Bagi Faculty of Humanities, capaian Sabila sekaligus memperlihatkan luasnya ruang aktualisasi mahasiswa. Potensi mahasiswa tidak berhenti pada kemampuan akademik yang secara langsung berkaitan dengan program studi, tetapi berkembang melalui berbagai kompetensi personal yang mereka tekuni secara konsisten.
Sebagai mahasiswa Arabic Language and Literature, pengalaman Sabila juga berada dalam lingkungan akademik yang dekat dengan bahasa Arab dan tradisi keilmuan Islam. Namun, keberhasilannya pada MHQ 20 Juz tetap lahir dari kapasitas personal yang membutuhkan ketekunan tersendiri. Menjaga hafalan, mempersiapkan diri untuk tampil, serta menghadapi kompetisi antarmahasiswa menjadi proses yang berjalan berdampingan dengan perjalanan akademiknya di perguruan tinggi.
Medali emas Sabila semakin bermakna karena bukan satu-satunya capaian mahasiswa Humaniora pada PORSI JAWARA II. Pada ajang yang sama, mahasiswa BSA juga berhasil meraih Juara II atau Medali Perak cabang Debat Bahasa Arab.
Tim tersebut diperkuat Siti Najahatul Imtihan, Nasruddin Rafa’i, dan Rizal Rafid Arriqoh. Jika Sabila hadir melalui kemampuan menjaga hafalan Al-Qur’an, tim debat membawa kemampuan berbahasa Arab, menyusun argumentasi, berpikir kritis, dan bekerja sebagai satu tim ke arena kompetisi.
Dua capaian tersebut menghadirkan spektrum prestasi yang menarik dari mahasiswa Arabic Language and Literature Humaniora. Emas MHQ 20 Juz dan perak Debat Bahasa Arab memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat bertumbuh melalui jalur kemampuan yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan disiplin, keberanian tampil, serta konsistensi dalam mengembangkan potensi.
Prestasi itu juga sejalan dengan upaya Faculty of Humanities membangun lingkungan akademik yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh secara utuh. Pembelajaran di kelas menjadi salah satu fondasi, sementara kompetisi, organisasi, komunitas, dan berbagai pengalaman di luar kelas menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji serta memperluas kapasitas dirinya.
Dalam konteks tersebut, PORSI JAWARA menjadi salah satu ruang penting bagi mahasiswa untuk membawa kemampuan yang telah mereka bangun ke lingkungan yang lebih kompetitif. Pertemuan dengan mahasiswa dari 18 PTKIN se-Jawa dan Madura juga memberikan kesempatan untuk memperluas jejaring sekaligus melihat standar kemampuan peserta dari perguruan tinggi lain.
Bagi Sabila sendiri, pengalaman di Pekalongan menjadi satu tahapan dalam perjalanan yang masih panjang. Ia baru berada di semester tiga, sehingga medali emas tersebut dapat menjadi pijakan untuk terus menjaga kemampuan sekaligus membuka diri terhadap berbagai kesempatan pengembangan berikutnya.
Pada akhirnya, Gold Medal MHQ 20 Juz yang dibawa pulang Sabila bukan hanya menambah daftar penghargaan mahasiswa Faculty of Humanities. Bersama capaian Medali Perak Debat Bahasa Arab, prestasi tersebut menunjukkan satu hal yang lebih penting: mahasiswa Humaniora memiliki beragam ruang untuk tumbuh, dan ketika potensi itu diasah dengan konsisten, ruang akademik dapat berkembang menjadi jalan menuju prestasi yang lebih luas. [sof-unr/Infopub]





