HUMANIORA – (17/9/2026) Pengalaman belajar mahasiswa tidak selalu tumbuh dari ruang perkuliahan. Kesempatan menggunakan bahasa Inggris, mengembangkan kepemimpinan, mengasah kreativitas, serta berinteraksi dalam lingkungan akademik dan lintas budaya juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Read too:
Pengalaman tersebut dirasakan tujuh mahasiswa English Literature Study Program Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang setelah menuntaskan rangkaian Access Scholarship Program Site Malang. Penyelesaian program ditandai dengan penyerahan sertifikat internasional yang berlangsung di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (14/9/2026).
Tujuh mahasiswa tersebut adalah Azka Putra Alghifari, Becik Dewanta, Izza Nafisa A.P., Mazza Luna Fonzen, M. Afif Alvino, Silvi Nurul Alfiani, dan Syech Nabila Alya Fathiyyah.

Bagi mereka, sertifikat yang diterima menjadi penanda berakhirnya rangkaian program sekaligus rekam jejak dari proses pengembangan diri yang telah dijalani. Selama mengikuti Access Scholarship Program, peserta memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus memperkuat kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan berinteraksi dalam lingkungan akademik maupun lintas budaya.
Tujuh mahasiswa tersebut adalah Azka Putra Alghifari, Becik Dewanta, Izza Nafisa A.P., Mazza Luna Fonzen, M. Afif Alvino, Silvi Nurul Alfiani, dan Syech Nabila Alya Fathiyyah.

Bagi mahasiswa English Literature, kesempatan mengikuti program semacam ini memiliki relevansi yang dekat dengan proses pendidikan mereka.
Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai objek akademik. Kemampuan tersebut juga perlu digunakan dalam situasi nyata untuk membangun komunikasi, menyampaikan gagasan, berinteraksi dengan orang lain, dan membuka akses terhadap pengalaman yang lebih luas.
Karena itu, Access Scholarship Program memberikan ruang pengembangan yang melampaui kemampuan linguistik.
Mahasiswa juga berhadapan dengan proses yang mendorong tumbuhnya kepercayaan diri, kreativitas, kemampuan kepemimpinan, dan keterampilan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam.
Kompetensi-kompetensi tersebut semakin relevan ketika mahasiswa memasuki dunia akademik dan profesional yang menuntut kemampuan berkomunikasi sekaligus beradaptasi.
Dalam konteks pendidikan Humaniora, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses membentuk mahasiswa yang tidak hanya kuat dalam pengetahuan disiplin ilmu, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membawa pengetahuan tersebut ke ruang sosial dan profesional yang lebih luas.
Access Scholarship Program dilaksanakan dengan melibatkan Indonesian International Education Foundation (IIEF) serta dukungan U.S. Embassy Jakarta.
Keterlibatan berbagai pihak dalam program memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lingkungan pembelajaran yang lebih luas.
Bagi tujuh mahasiswa Sastra Inggris Humaniora, pengalaman ini juga menjadi bagian dari proses membangun perspektif global. Interaksi dalam lingkungan akademik dan lintas budaya memungkinkan mahasiswa memahami bahwa penguasaan bahasa memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan memahami orang lain.
Bahasa pada akhirnya bukan sekadar persoalan struktur dan kosakata. Ia menjadi jembatan untuk berkomunikasi, bertukar perspektif, membangun jejaring, serta memahami keragaman pengalaman dan budaya.
Di tengah meningkatnya mobilitas akademik dan keterhubungan global, mahasiswa perlu memiliki kesiapan untuk masuk ke ruang yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Kemampuan berbahasa menjadi modal, tetapi keterbukaan, kepercayaan diri, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi membuat modal tersebut dapat digunakan secara lebih bermakna.
Acara penutupan sekaligus penyerahan sertifikat dihadiri jajaran pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, perwakilan U.S. Embassy Jakarta, perwakilan IIEF, peserta program, serta orang tua penerima beasiswa.
Kehadiran orang tua memberikan warna tersendiri pada momentum tersebut. Penyelesaian program bukan hanya menjadi capaian mahasiswa, tetapi juga menjadi momen yang dapat disaksikan bersama oleh keluarga yang mendampingi perjalanan pendidikan mereka.
Rangkaian acara berlangsung hangat. Kegiatan diawali dengan penampilan tari, kemudian dilanjutkan sambutan dari sejumlah perwakilan penyelenggara dan mitra program.
Salah satu momen utama adalah prosesi penyerahan sertifikat kepada peserta yang dilakukan secara langsung oleh perwakilan U.S. Embassy Jakarta. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
Di balik prosesi tersebut, sertifikat memiliki makna sebagai penanda perjalanan belajar.
Nilainya bukan hanya terletak pada dokumen yang diterima, tetapi pada proses yang telah dilalui mahasiswa selama mengikuti program dan kompetensi yang berkembang dari pengalaman tersebut.
Bagi mahasiswa, pengalaman mengikuti program di luar rutinitas perkuliahan dapat memberikan ruang untuk mengenali kemampuan dirinya.
Ketika mahasiswa harus berkomunikasi, berkolaborasi, menyampaikan gagasan, atau berinteraksi dalam lingkungan yang berbeda, mereka belajar menerapkan pengetahuan sekaligus membangun kepercayaan diri.
Proses semacam ini penting karena kesiapan menghadapi masa depan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi akademik.
Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi, mengambil peran, bekerja bersama orang lain, berpikir kreatif, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Access Scholarship Program menjadi salah satu ruang bagi tujuh mahasiswa Sastra Inggris Humaniora untuk mengembangkan kapasitas tersebut.
Apa yang diperoleh selama program selanjutnya dapat menjadi modal untuk terlibat dalam berbagai aktivitas akademik, organisasi, maupun kesempatan lain di tingkat nasional dan internasional.
Keikutsertaan tujuh mahasiswa English Literature dalam Access Scholarship Program juga memperlihatkan pentingnya pengalaman belajar yang beragam dalam perjalanan pendidikan mahasiswa Humaniora.
Kampus menjadi tempat mahasiswa membangun fondasi akademik. Namun, proses pertumbuhan mereka dapat berlangsung melalui banyak ruang: organisasi, kompetisi, program pengembangan kapasitas, interaksi lintas budaya, hingga berbagai forum nasional dan internasional.
Semakin beragam pengalaman yang diperoleh, semakin besar pula kesempatan mahasiswa untuk mengenali potensinya.
Bagi Faculty of Humanities, pengalaman seperti ini sejalan dengan upaya menjadikan fakultas sebagai rumah tumbuh mahasiswa—ruang yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan, karakter, serta kesiapan untuk memasuki lingkungan yang lebih luas.
Khusus bagi mahasiswa English Literature, pengalaman internasional dan lintas budaya memiliki relevansi tersendiri. Kompetensi bahasa memperoleh makna yang lebih nyata ketika digunakan untuk berinteraksi, membangun relasi, memahami perspektif berbeda, dan menyampaikan gagasan kepada orang lain.
Penyelesaian Access Scholarship Program pada akhirnya bukan titik akhir bagi tujuh mahasiswa tersebut.
Pengalaman yang mereka peroleh dapat menjadi pijakan untuk mengambil kesempatan berikutnya—baik dalam pengembangan akademik, kepemimpinan, kreativitas, maupun keterlibatan pada berbagai program yang mempertemukan mereka dengan lingkungan nasional dan internasional.
Bagi Azka Putra Alghifari, Becik Dewanta, Izza Nafisa A.P., Mazza Luna Fonzen, M. Afif Alvino, Silvi Nurul Alfiani, dan Syech Nabila Alya Fathiyyah, sertifikat yang diterima menjadi penanda bahwa satu proses telah mereka tuntaskan.
Namun, nilai yang lebih penting berada pada kompetensi dan pengalaman yang dibawa setelah program berakhir.
Dari kemampuan berbahasa Inggris hingga kepemimpinan, dari kreativitas hingga interaksi lintas budaya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa Humaniora untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, adaptif, terbuka terhadap perbedaan, dan siap mengambil peran dalam ruang yang semakin global. [unr-sof/Infopub]





