HUMANIORA – (3/9/2025) Metodologi penelitian bukan sekadar perangkat teknis, melainkan pijakan filosofis yang menentukan arah lahirnya pengetahuan. Pesan itu menjadi garis besar dalam kuliah umum Research Methodology yang disampaikan oleh Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si., CIQnR., CISHR., CIQaR. di Gedung Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (2/9/2025).
Kegiatan ilmiah ini dihadiri Ketua Program Studi Doktor PBA, Prof. Dr. Hj. Muassomah, M.Pd., Sekretaris Prodi, Dr. Hj. Mamluatul Hasanah, M.Pd., serta segenap mahasiswa kandidat doktoral UIN Malang. Suasana forum terasa intens namun hangat ketika Prof. Mudjia, pakar metodologi bersertifikasi internasional tersebut, mengurai esensi riset ilmiah dari perspektif filosofis. Ia menekankan bahwa metodologi sejatinya merupakan kerangka epistemologis yang mengarahkan bagaimana pengetahuan diproduksi, divalidasi, sekaligus dipertanggungjawabkan.

“Metodologi penelitian tidak bisa direduksi hanya menjadi prosedur teknis yang bersifat mekanis. Lebih dari itu, ia adalah cara pandang peneliti terhadap realitas,” tegasnya.
Dalam paparannya, Rektor UIN Malang Periode 2013-2017 tersebut membedakan antara karakter ilmu alam dan ilmu sosial. Ilmu alam bergerak dalam ruang kepastian dengan hukum-hukum yang ajek, terukur, dan dapat diprediksi. Sebaliknya, ilmu sosial selalu berhadapan dengan realitas yang sarat ketidakpastian. Hal ini ia contohkan dengan fenomena demonstrasi yang dewasa ini marak terjadi: satu peristiwa yang sama, dapat diuraikan dari berbagai perspektif yang berbeda, tergantung paradigma sosial yang digunakan.
Hal ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa manusia sebagai subjek penelitian bersifat kompleks dan tidak dapat diprediksi. Oleh karena itu, penelitian kualitatif hadir sebagai keniscayaan, sebab ia berupaya menyingkap makna, nilai, dan konstruksi sosial di balik fenomena, bukan sekadar menjelaskan gejala permukaan.
“Peneliti kualitatif sejatinya adalah seorang filsuf,” ujar Prof. Mudjia. “Ia dituntut untuk bernalar tajam, menggali hakikat kebenaran secara berulang-ulang, dan mampu menemukan nilai tambah dari setiap pemahaman yang dibangun.”
Salah satu peserta, Arief Rahman Hakim, M.Pd., menyampaikan kesannya usai sesi perkuliahan, “Mengikuti kuliah bersama Prof. Mudjia telah membuka wawasan saya. Saya menjadi lebih memahami bahwa penelitian tidak hanya soal teknik, tapi juga filosofi di balik setiap langkah ilmiah. Penekanan beliau pada pemahaman realitas manusia yang kompleks sangat relevan bagi kami, para dosen, agar dapat membimbing mahasiswa dengan lebih bijak dan menghasilkan penelitian yang bermakna.”
Kuliah umum ini sekaligus menjadi ruang pembaruan pengetahuan metodologi bagi para dosen dan mahasiswa doktoral. Dengan pemahaman yang utuh tentang paradigma, instrumen, hingga perkembangan jenis data baru seperti cyber data, para peneliti diharapkan tidak hanya menghasilkan penelitian yang valid, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. (fid)





