HUMANIORA — (28/10/2025) Rangkaian kegiatan hari pertama Humaniora International Youth Enhancing Study (I-YES) 2025 ditutup dengan pengalaman berkesan melalui kunjungan budaya ke Kampoeng Heritage Kajoetangan, salah satu kawasan ikonik di pusat Kota Malang yang sarat nilai sejarah.
Baca juga:
- Peserta I-YES 2025 Antusias Jelajahi Budaya Indonesia dalam Indonesia Insight
- Jelajah Museum Brawijaya: Peserta Humaniora I-YES 2025 Mengenal Jejak Patriotisme Nusantara
Para peserta internasional melanjutkan eksplorasi dengan berjalan santai menyusuri gang-gang bersejarah Kajoetangan. Kawasan yang dikenal sebagai kampung tertua di Malang ini tetap mempertahankan nuansa tempo dulu melalui rumah-rumah kolonial yang terawat baik dan tata lingkungan yang menyimpan banyak kisah masa lampau.
Sejumlah titik penting yang merekam jejak sejarah turut dikunjungi, seperti Makam Mbah Honggo, Kuburan Tandak, langgar tua, Pasar Talun, hingga terowongan peninggalan kolonial. Setiap lokasi menghadirkan cerita unik yang memberikan wawasan mendalam bagi peserta mengenai perjalanan sejarah masyarakat Malang.
Kajoetangan Heritage kini juga berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif tanpa meninggalkan identitas budaya. Banyak bangunan lama dialihfungsikan menjadi ruang wisata penuh daya tarik estetika, mulai dari spot foto antik dengan koleksi kamera dan perabot lawas hingga deretan toko yang menampilkan produk kreatif khas kota.

Saat senja berganti malam, suasana Kampoeng Heritage Kajoetangan kian memancarkan pesonanya. Lampu-lampu yang temaram, mural warna-warni di sepanjang kanal, dan tawa riang peserta menjadikan suasana semakin hangat dan memikat. Mereka juga berkesempatan menikmati kuliner khas Malang, Nasi Rawon, di Rumah D’Penghulu yang merupakan rumah bersejarah yang berdiri sejak tahun 1920 dengan arsitektur klasik yang masih terjaga.
Bagi sebagian peserta internasional, pengalaman ini menjadi sesuatu yang baru dan menyenangkan.
“Kampung ini sangat unik dan indah sekali. Saya belum pernah menemukan tempat seperti ini, baik di Indonesia maupun di negara saya sendiri,” ujar Mohammed Ibrahim, peserta asal Ethiopia, dengan kekaguman.
Kegiatan kemudian ditutup dengan waktu istirahat dan salat Maghrib bersama, menegaskan bahwa perjalanan budaya ini juga menjadi ruang pembangunan spiritual dan kebersamaan antarpeserta dari berbagai negara.
Melalui kunjungan ini, I-YES 2025 berhasil memperkenalkan kekuatan budaya lokal Kota Malang dengan menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, namun juga memperkaya pemahaman lintas budaya dan sejarah bagi generasi muda dunia. Dengan demikian, harmoni antara masa lalu dan modernitas yang hidup di Kampoeng Heritage Kajoetangan menjadi pelajaran penting tentang pelestarian identitas budaya di tengah perkembangan zaman. (asf)





