MIU Login

Pelukan Hangat Ketua I-YES Jadi Simbol Haru dan Sukacita di Pengujung Program 2025

HUMANIORA – (31/10/2025) Momen haru mewarnai ruang teater Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Jumat (31/10) sore itu dipenuhi haru. Di tengah gemuruh tepuk tangan peserta dan panitia, pelukan hangat antara Ketua Pelaksana International Youth Enhancing Study (I-YES) 2025, Dr. Lina Hanifiyah, M.Pd., dengan perwakilan peserta internasional—Khosiyat Sultonova dari Tajikistan dan Fanta Jaiteh dari Gambia—menjadi simbol perpisahan yang penuh kesan mendalam.

Baca juga:

Air mata kebahagiaan mengalir di pipi, ketika keduanya menyampaikan kesan dan pesan penutup mewakili peserta. Khosiyat, dengan suara serak, mengungkapkan betapa program I-YES telah menjadi pengalaman berharga yang akan ia kenang selamanya.

“Saya sangat bersyukur atas pengalaman yang luar biasa ini. Semua yang saya alami dan pelajari selama I-YES sangat berharga. Saya bangga sekaligus terharu bisa bertemu dengan teman-teman hebat dari berbagai negara. Mereka semua membuka mata saya tentang makna keberagaman,” tuturnya.

Sementara itu, Fanta Jaiteh dari Gambia tak kuasa menahan rasa haru saat berbagi kisahnya di hadapan ratusan peserta. Ia menyebut pengalaman mengikuti I-YES 2025 sebagai “life-changing experience”—sebuah perjalanan yang bukan hanya mengenalkan budaya, tetapi juga menumbuhkan persaudaraan lintas bangsa.

“Setiap momen saya alami di sini, menunjukkan betapa ramahnya budaya Indonesia, khususnya Malang. Interaksi dengan masyarakat lokal membuat saya merasa seperti berada di rumah sendiri,” ungkapnya.

Fanta menambahkan bahwa pengalaman tersebut telah mengubah caranya memandang dunia dan menanamkan semangat untuk membawa nilai-nilai persahabatan lintas budaya ke tanah airnya.

“Saya berharap pengalaman ini akan membawa perubahan positif, tidak hanya bagi saya pribadi, tetapi juga bagi masyarakat di negeri saya,” imbuhnya.

Momen haru tak terbendung ketika Dr. Lina Hanifiyah, dengan mata yang berkaca-kaca, spontan melangkah maju dan merangkul kedua peserta itu dalam pelukan hangat penuh kasih. Suasana seketika hening, hanya terdengar isak haru dan desahan napas yang menahan tangis. Pelukan itu bukan sekadar sapaan perpisahan, melainkan ungkapan tulus dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama—penuh tawa, perjuangan, dan kebersamaan lintas budaya. Tepuk tangan bergemuruh dari peserta lain, bukan hanya sebagai apresiasi, tetapi sebagai luapan emosi yang menandai berakhirnya sebuah kisah indah yang akan tetap hidup dalam ingatan mereka. Dalam pelukan itu, seolah tersimpan pesan: bahwa setiap perjumpaan, seberapa singkat pun, dapat meninggalkan jejak mendalam di hati.

Sore itu, I-YES 2025 resmi berakhir dalam suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan kenangan yang tak terlupakan. Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekali lagi membuktikan perannya sebagai ruang pertemuan budaya dunia—tempat ilmu, seni, dan kemanusiaan bertemu dalam harmoni. (al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait