HUMANIORA – (18/12/2025) Selama ini, pembelajaran bahasa Inggris masih sering dilakukan dengan pendekatan tradisional yang berfokus pada penjelasan teoritis dan hafalan, sehingga tidak jarang menimbulkan kesan menjemukan bagi siswa. Padahal, bahasa akan lebih mudah dipahami ketika diajarkan melalui suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan peserta didik secara aktif. Di sinilah pendekatan Fun Learning menjadi penting untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa asing.
Baca juga:
- Kata Siapa Belajar Bahasa Arab Itu Membosankan?
- Dekan Humaniora Tekankan Kurikulum Adaptif dan Cara Mengajar yang Relevan dengan Generasi Zaman Kini
Pendekatan Fun Learning memandang bahwa bahasa sasaran tidak hanya dipelajari sebagai seperangkat aturan gramatikal, tetapi sebagai alat komunikasi yang hidup dan dekat dengan pengalaman belajar siswa. Melalui suasana belajar yang rileks, interaktif, dan menyenangkan, peserta didik didorong untuk berani berekspresi, berlatih, serta membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa asing tanpa rasa takut salah.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan pendampingan peningkatan kompetensi siswa belajar bahasa Inggris yang diselenggarakan melalui kerja sama Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Yayasan Pondok Pesantren Al Beer, yang berlokasi di Sangarejo Karangjati, Pandaan, Pasuruan, pada Selasa, 16 Desember 2025.
Dalam kegiatan ini, tim Prodi Sastra Inggris Fakultas Humaniora yang terdiri atas Dr. Ulil Fitriyah, M.Pd., Dr. Lina Hanifiyah, M.Pd., dan Zainur Rofiq, M.A., menerapkan berbagai strategi pembelajaran menyenangkan bagi para siswa Bahasa Inggris. Peserta pelatihan diajak untuk belajar melalui aktivitas bermain, bergerak, dan berinteraksi secara kolaboratif, sehingga proses pembelajaran terasa lebih hidup dan partisipatif.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses. Aktivitas bermain dalam pembelajaran dinilai mampu mengembangkan berbagai aspek perkembangan peserta didik, mulai dari kemampuan kognitif, sosial, emosional, hingga fisik, sekaligus menumbuhkan motivasi belajar yang lebih tinggi.
“Dengan gelora atau semangat yang tinggi, siswa akan menikmati perjalanan belajar. Ketika siswa menikmati proses belajar, mereka akan lebih mudah menerima ilmu baru dan mendapatkan pengalaman belajar yang membekas dalam benaknya,” tutur Dr. Ulil Fitriyah, M.Pd.
Melalui pendampingan ini, Fakultas Humaniora menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi pembelajaran bahasa asing yang kreatif, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik, sehingga stigma belajar bahasa asing sebagai sesuatu yang sulit dan membosankan dapat perlahan dihilangkan. [unr]





