MIU Login

Mahasiswa PTKI Hadapi Pergulatan Identitas dan Bahasa dalam Program Mobilitas Internasional

HUMANIORA – (24/9/2025) Globalisasi dan internasionalisasi pendidikan tinggi mendorong semakin banyak mahasiswa Indonesia menempuh studi ke luar negeri melalui berbagai program mobilitas. Salah satunya adalah MORA Overseas Student Mobility Awards (MOSMA), beasiswa dari Kementerian Agama yang memberi kesempatan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk belajar di kampus luar negeri. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di LLT Journal edisi Oktober 2025 mengungkapkan bagaimana pengalaman ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga pergulatan identitas, bahasa, dan religiusitas.

Baca juga:

Riset berjudul “Re-understanding Indonesian Student Mobility: Intricate Entanglements of Identity Formation and Language Learning” ini ditulis oleh Muhammad Edy Thoyib, Agwin Degaf, Zainur Rofiq, dan Jihan Al Humairoh dari Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Malang. Mereka mewawancarai empat alumni MOSMA asal Jawa Timur yang sempat menempuh studi satu semester di Amerika Serikat dan Malaysia. Melalui pendekatan naratif, para peneliti menelusuri motivasi, tantangan, dan negosiasi identitas yang dialami mahasiswa sejak sebelum keberangkatan, selama belajar di luar negeri, hingga kembali ke Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mahasiswa tidak hanya berhubungan dengan peningkatan kemampuan bahasa Inggris, tetapi juga dorongan untuk meraih pengalaman global, membangun jejaring, serta menguji diri di lingkungan akademik internasional. Namun kenyataannya, banyak yang menghadapi keraguan diri dan “insecure” terhadap kemampuan bahasa. Perbedaan aksen, interaksi dengan penutur asli, hingga kesulitan menjalin pertemanan dengan mahasiswa lokal menjadi tantangan tersendiri.

Salah satu mahasiswa misalnya merasa canggung ketika berhadapan dengan aksen Afro-Amerika yang sulit dipahami. Ada pula yang lebih nyaman bergaul dengan sesama mahasiswa Indonesia karena kesulitan menembus lingkaran sosial lokal. Kondisi ini memperlihatkan bahwa belajar di luar negeri tidak serta-merta membuat mahasiswa fasih berbahasa Inggris, melainkan memaksa mereka untuk terus menegosiasikan identitas sebagai pembelajar, pengguna bahasa, sekaligus duta budaya Indonesia.

Menariknya, pengalaman religius juga muncul sebagai aspek penting. Mahasiswa yang belajar di Amerika Serikat, misalnya, justru merasakan kedekatan spiritual yang lebih intens karena hidup sebagai minoritas Muslim. Mereka mengaku lebih disiplin beribadah dan menemukan makna baru dalam praktik keagamaan. Sebaliknya, mahasiswa yang ditempatkan di Malaysia mendapatkan kesempatan memperkaya wawasan tentang keragaman praktik Islam di tengah masyarakat multikultural.

Studi ini juga menyoroti bagaimana identitas mahasiswa terus bergeser. Saat berada di luar negeri, mereka membangun citra diri sebagai pelajar global dengan modal bahasa, budaya, dan spiritualitas. Namun ketika kembali ke tanah air, mereka kerap mengalami kesulitan menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan asal yang belum tentu menghargai sepenuhnya pengalaman internasional mereka.

Para peneliti menegaskan bahwa pengalaman studi ke luar negeri bukan jalur mulus menuju kefasihan bahasa atau kosmopolitanisme. Sebaliknya, ia adalah proses yang penuh ketidakpastian, negosiasi, dan ketimpangan kekuasaan, terutama terkait standar bahasa dan diskriminasi terhadap penutur non-native. Meski demikian, justru di sinilah terbuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan identitas lebih reflektif, kritis, dan berdaya dalam menghadapi tantangan global.

Penelitian ini memberi pesan penting bagi perguruan tinggi Islam di Indonesia: program mobilitas internasional harus dipandang lebih dari sekadar peningkatan bahasa. Diperlukan dukungan menyeluruh, mulai dari persiapan linguistik, penguatan kompetensi lintas budaya, hingga bimbingan spiritual, agar mahasiswa mampu memetik manfaat maksimal dari pengalaman belajar di luar negeri dan menjadikannya modal untuk kontribusi nyata setelah kembali ke tanah air. (al)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait