HUMANIORA – (25/9/2025) Komunitas Srikandi Humaniora, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menginisiasi kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pelestarian Tari Topeng Malangan di Kalangan Remaja” di Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kegiatan ini melibatkan tim dosen yang terdiri dari Sri Muniroch, Asni Furaida, dan Misbahus Surur, serta segenap mahasiswa dari Komunitas Srikandi.
Baca juga:
- Dominasi Bahasa Inggris Standar vs World Englishes: Preferensi Dosen dan Mahasiswa di Indonesia
- Mahasiswa PTKI Hadapi Pergulatan Identitas dan Bahasa dalam Program Mobilitas Internasional
Program ini diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu, 3 September 2025, yang menghadirkan aparat desa, tokoh masyarakat, pelaku seni, serta tokoh pemuda setempat. Diskusi difokuskan pada penggalian potensi, kendala, dan harapan masyarakat terkait upaya pelestarian Tari Topeng Malangan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Workshop Tari Topeng Malangan pada Sabtu, 6 September 2025, dan Pelatihan Tari Topeng Malangan pada Minggu, 7 September 2025. Pelatihan akan berlangsung secara intensif sebanyak delapan kali pertemuan hingga Oktober 2025, dengan agenda pementasan pada acara puncak Bersih Desa Landungsari pada 5 Oktober 2025.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa dan sambutan antusias dari masyarakat. Mereka menilai inisiatif ini menjawab harapan lama masyarakat akan adanya wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas seni, khususnya dalam bidang tari.

“Kami sangat bersyukur ada kegiatan seperti ini. Potensi seni tari di Landungsari sebenarnya besar, hanya saja belum terkelola dengan baik. Semoga kegiatan ini bisa berkelanjutan dan tidak berhenti setelah program berakhir. Kami juga berharap kerja sama dengan tim pengabdian UIN Malang terus terjalin, tidak hanya untuk pelestarian tari tetapi juga untuk program-program lain ke depannya,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Selain memberi manfaat bagi masyarakat, keterlibatan Komunitas Srikandi Humaniora juga menjadi sarana pembelajaran berharga. Para mahasiswa dapat mengasah keterampilan seni tari yang dimiliki sekaligus menggunakannya untuk kepentingan pengembangan masyarakat.
“Kami berharap Komunitas Srikandi tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak terbentuknya kelompok tari remaja di Desa Landungsari. Dengan begitu, generasi muda bisa lebih mencintai dan melestarikan budaya daerah mereka sendiri,” tambah seorang perwakilan pemuda desa.
Keterlibatan Komunitas Srikandi dalam program ini tidak terbatas pada tim inti. Anggota lain juga turut ambil bagian dalam setiap tahapan kegiatan, menunjukkan semangat kolektif untuk melestarikan warisan budaya. Dengan dukungan penuh masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi penguatan identitas budaya lokal sekaligus pemberdayaan generasi muda melalui seni. (al)





