MIU Login

Dominasi Bahasa Inggris Standar vs World Englishes: Preferensi Dosen dan Mahasiswa di Indonesia

HUMANIORA – (24/9/2025) Fenomena penggunaan Bahasa Inggris standar (British dan American English) versus World Englishes (WE) menjadi sorotan penelitian terbaru dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Artikel berjudul “The Preferences of Students and Lecturers toward Dominant English and/or World Englishes (WE)” yang ditulis Ribut Wahyudi, Mazroatul Ishlahiyah, dan Mira Shartika, dipublikasikan di jurnal Internasional Forum for Linguistic Studies edisi Oktober 2025.

Baca juga:

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa di ruang-ruang akademik, baik dosen maupun mahasiswa masih cenderung menempatkan British dan American English sebagai acuan utama. Namun, seiring perkembangan globalisasi, hadir konsep World Englishes yang mengakui keberagaman aksen dan variasi bahasa Inggris di berbagai negara, seperti India, Singapura, hingga Indonesia.

Melalui metode wawancara semi-terstruktur dengan dosen dan mahasiswa dari tiga universitas Islam negeri di Jawa, riset ini menemukan dinamika menarik. Mahasiswa misalnya, masih mengidolakan “native speaker” sebagai model ideal, namun dalam praktik sering mencampur bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah pencampuran tersebut tanda keterbatasan kemampuan, atau justru bagian dari praktik translanguaging yang sahih dalam pembelajaran?

Sementara itu, preferensi dosen ternyata banyak dipengaruhi latar belakang pendidikan dan pengalaman studi mereka. Dosen yang menempuh pendidikan di luar negeri, terutama di negara berbahasa Inggris, lebih terbuka menerima keragaman World Englishes. Sebaliknya, dosen yang latar belakangnya pendidikan linguistik domestik cenderung mempertahankan standar British dan American English sebagai “kiblat”.

Riset ini juga menyoroti adanya bias bahasa atau linguicism dan native speakerism dalam dunia pendidikan tinggi. Kedua fenomena ini membuat bahasa Inggris standar dianggap lebih unggul, sementara variasi lain dipandang kurang prestisius. Padahal, penulis penelitian menegaskan pentingnya membuka ruang bagi mahasiswa untuk berani menggunakan aksen lokal maupun mencampur bahasa, sepanjang komunikasinya tetap efektif.

Temuan ini membawa implikasi penting bagi kurikulum pendidikan bahasa Inggris di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi Islam. Pengakuan terhadap World Englishes dan penerapan praktik translanguaging dapat membantu mahasiswa lebih percaya diri sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis tentang politik bahasa. Dengan demikian, kelas bahasa Inggris bukan sekadar ajang meniru native speaker, melainkan juga ruang ekspresi identitas dan keadilan linguistik.

Penelitian dosen Fakultas Humaniora ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris tidak lagi tunggal. Ia hadir dalam beragam wajah dan aksen, sejalan dengan realitas global. Dengan membuka ruang diskusi tentang World Englishes, para peneliti berharap pendidikan bahasa Inggris di Indonesia mampu lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda di era kosmopolitan. (ff)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait