MIU Login

Bahasa Arab dan Generasi Z: Ibaa Qudah Ajak Mahasiswa Humaniora Menjadi Pionir Literasi Digital Arab

HUMANIORA – (22/10/2025) Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghadirkan forum akademik internasional bertajuk International Scholar Engagement (ISE), menghadirkan narasumber kenamaan asal Timur Tengah, Ibaa Qudah, pakar media, peneliti bahasa, sekaligus kreator konten linguistik dari Universitas Yordania.

Kegiatan yang digelar pada Rabu, 22 Oktober 2025 ini mengusung tema menarik “Pentingnya Bahasa Arab bagi Generasi Kontemporer dan Ragam Bidangnya dengan Fokus Khusus pada Generasi Z.”

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Humaniora, Dr. M. Faisol, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan kebahasaan sekaligus memahami relevansi bahasa Arab dalam dunia modern yang semakin digital.

“Bahasa Arab bukan hanya bahasa agama dan tradisi, tetapi juga bahasa komunikasi global, ilmu pengetahuan, dan budaya. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin menanamkan kesadaran bahwa generasi Z harus mampu memanfaatkan bahasa Arab sebagai sarana berpikir kritis, kreatif, dan produktif di era global,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparannya, Ibaa Qudah menyoroti bagaimana bahasa Arab memiliki daya hidup yang luar biasa di tengah perubahan zaman. Ia memaparkan bahwa Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010, merupakan generasi digital yang tumbuh bersama internet, media sosial, dan kecerdasan buatan. Bagi Qudah, tantangan utama bukanlah apakah generasi ini mudah terdistraksi, tetapi bagaimana menjadikannya pemimpin revolusi pengetahuan dan kreativitas digital berikutnya.

“Generasi muda hari ini tidak hanya perlu mempelajari bahasa Arab, tetapi juga harus menggunakannya untuk mencipta dalam video, tulisan, riset, dan media sosial. Bahasa adalah identitas, tetapi juga jembatan menuju masa depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Qudah menjelaskan bahwa bahasa Arab adalah jembatan peradaban yang menghubungkan manusia lintas bangsa dan budaya. Bahasa ini bukan sekadar kumpulan kata, tetapi sarana untuk memahami Islam dari sumber aslinya serta memperluas cakrawala akademik dan profesional.

Ia juga menyoroti luasnya peluang karier bagi pembelajar bahasa Arab di era digital, mulai dari penerjemahan berbasis teknologi, analisis bahasa dalam sistem AI, pengembangan konten kreatif digital, hingga desain budaya dan media internasional. Bahasa Arab kini, katanya, telah menjadi bahasa industri kreatif dan komunikasi lintas bangsa.

Menutup sesinya, Qudah menyampaikan pesan reflektif kepada mahasiswa agar memandang pembelajaran bahasa Arab sebagai proyek kesadaran, identitas, dan peradaban.

“فكّر بعمق في ما تهتم به وما تميزك به موهبتك، واسأل نفسك ما السبيل الذي تريد أن يستخدمك الله فيه بالعربية.”

(Pikirkanlah secara mendalam apa yang kamu cintai dan apa yang menjadi keunikanmu, lalu tanyakan pada dirimu: jalan apa yang kamu ingin Allah gunakan melalui bahasa Arab?)

Kegiatan International Scholar Engagement ini disambut antusias oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Humaniora. Forum ini tidak hanya memperkaya perspektif akademik, tetapi juga memperkuat komitmen fakultas untuk menjembatani dialog keilmuan lintas negara, budaya, dan generasi. Melalui forum ini, Fakultas Humaniora kembali menegaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang relevan, dinamis, dan visioner dimana bahasa yang tidak hanya mengakar pada warisan Islam dan peradaban klasik, tetapi juga menyongsong masa depan digital dengan semangat inovasi dan kreativitas. (unr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait