HUMANIORA –– (29/12/2025) Proses pembelajaran di kelas English Language Teaching (ELT) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali membuktikan bahwa praktik pedagogik dapat melahirkan karya kreatif yang memukau. Melalui pementasan drama bertajuk “From Whiteboard to Heartboard”, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris angkatan 2022 berhasil mengubah tugas akhir perkuliahan menjadi sebuah pertunjukan seni. Digelar pada Jumat, 28 November 2025 di ruang teater Fakultas Humaniora, drama ini menjadi output inovatif dari Mata Kuliah ELT yang diampu oleh Mira Shartika, M.A. dan Dr. Ulil Fitriah, M.Pd., M.Ed.

Baca juga:
Dorong Akselerasi Tugas Akhir Mahasiswa, Prodi BSA Gelar Mukhayyam al-Bahts al-Ilmy
Tingkatkan Kualitas Riset, Dosen Humaniora Isi Kuliah Tamu Penulisan Karya Ilmiah di UIN Palembang
Pertunjukan berdurasi 60 menit ini disutradarai oleh Ida Masayu Putri, yang mengisahkan dinamika kehidupan sehari-hari para siswa SMA ketika belajar bahasa Inggris di kelas—dengan fokus pada isu bullying dan proses menemukan keberanian untuk saling menghargai. Kisah sederhana namun relevan ini sukses menggugah penonton dengan alur yang emosional dan dekat dengan realitas sosial remaja saat ini.

Ketua pelaksana, Fibra Aura Tasyani, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut dengan baik dan lancar.
“Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan mendapat respon positif dari seluruh penonton, baik mahasiswa maupun dosen. Harapannya, acara ini dapat menjadi contoh, inspirasi, dan motivasi bagi teman-teman mahasiswa lainnya,” ujarnya.
Ia juga berterima kasih kepada dosen pembimbing, seluruh tim produksi, kru, serta pihak fakultas yang mendukung penuh terselenggaranya kegiatan ini.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Galuh Nur Rohmah, yang membuka secara resmi pementasan drama, menyampaikan apresiasi tinggi atas kreativitas dan kerja keras mahasiswa Sastra Inggris. Dalam sambutannya, Dr. Galuh menegaskan bahwa drama ini merupakan drama ELT pertama yang diproduksi oleh mahasiswa Fakultas Humaniora, dan menjadi terobosan baru dalam pembelajaran berbasis proyek.
“Selamat dan apresiasi kepada Bu Mira dan Bu Ulil, serta seluruh mahasiswa yang telah mewujudkan pementasan drama ini. Kegiatan ini memberikan kesan yang berbeda dalam mata kuliah ELT dan menawarkan perspektif baru bagi calon guru bahasa Inggris. Drama ini menjadi sarana yang bagus untuk memahami praktik pengajaran secara lebih kreatif dan humanis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari project-based learning dan selaras dengan Outcome Based Education (OBE) yang diterapkan Fakultas Humaniora. Dr. Galuh berharap pengalaman ini dapat menjadi sumber intelektual yang berharga bagi mahasiswa sebagai calon pendidik di masa depan.
“Harapan kami, mahasiswa mampu mengambil nilai penting dari proses ini—bahwa kreativitas, kolaborasi, dan empati adalah unsur kunci dalam menjadi guru bahasa yang unggul,” tambahnya.

Sementara itu, Mira Shartika, M.A., selaku dosen pembimbing, turut hadir memberikan dukungan penuh dan apresiasi atas performa mahasiswa. Ia menilai pementasan ini berhasil menunjukkan kerja keras, kekompakan, dan ketekunan seluruh tim produksi.
“Apresiasi sebesar-besarnya dihaturkan kepada seluruh pihak yang turut mensukseskan acara ini, terlebih teman-teman mahasiswa yang rela berlatih dan mempersiapkan segala keperluan dengan segala keterbatasan yang ada. Dramanya membawa pesan yang menyentuh, dan lebih istimewa lagi karena ini adalah penampilan drama pertama yang dibuat oleh mahasiswa Mata Kuliah ELT,” ungkapnya.
Bu Mira berharap pementasan ini menjadi model pembelajaran kreatif di lingkungan Fakultas Humaniora, sekaligus pembuktian bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai pendidikan.

Pementasan ini tidak hanya menjadi tugas akademik, tetapi juga ruang ekspresi untuk mengembangkan kreativitas, kerja kolaboratif, serta kemampuan komunikasi mahasiswa.
Penonton yang terdiri dari mahasiswa dan sivitas akademika mengaku terkesan dengan pengemasan cerita, akting para pemain, hingga pesan moral yang disampaikan. Banyak yang menilai bahwa drama ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi—mengajak mahasiswa melihat isu bullying sebagai persoalan serius yang perlu ditangani dengan empati dan keberanian.

Pementasan “From Whiteboard to Heartboard” menegaskan komitmen Fakultas Humaniora dalam melahirkan generasi kreatif dan kritis, sekaligus mendukung pembelajaran holistik yang memadukan teori, praktik, dan nilai-nilai kemanusiaan. Fakultas berharap kegiatan serupa terus digalakkan sebagai wadah pengembangan karakter dan kompetensi abad ke-21. [asf]





