MIU Login

I-YES 2025: Menggugah Kekayaan Budaya Indonesia Lewat Harmoni Gamelan

HUMANIORA – (29/10/2025) Semangat belajar dan pemahaman budaya semakin menguat pada hari kedua pelaksanaan International Youth Enhancing Study (I-YES) 2025 di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui sesi Cultural Class: Folk Music, para peserta internasional diajak menyelami kekayaan budaya Nusantara melalui alat musik tradisional Indonesia, yakni gamelan.

Baca juga:

Sesi ini dipandu oleh pakar musik tradisional, Bagus Wignyo Priyonggo, S.I.Kom., yang dengan penuh antusias mengajak peserta mengenal filosofi, sejarah, hingga pengalaman langsung memainkan gamelan.

Di awal sesi, Bagus menjelaskan bahwa gamelan tidak sekadar alat musik, tetapi simbol harmoni budaya Indonesia.
“Gamelan adalah kesatuan instrumen yang saling melengkapi. Keindahannya tercipta ketika semua berperan bersama,” jelasnya. Filosofi tersebut mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi karakter kuat masyarakat Nusantara.

Ia juga memperkenalkan berbagai instrumen penting dalam gamelan seperti Gong, Kempul, Demung, Saron, Peking, Slentem, Bonang Barung, Bonang Penerus, Kenong, dan Kendang—masing-masing dengan fungsi dan karakter unik.

Bagus turut menjelaskan bahwa gamelan telah hadir sejak abad ke-8 pada masa Hindu–Buddha, digunakan dalam upacara keagamaan. Pada masa dakwah Islam, Walisongo memanfaatkan gamelan sebagai media syiar.

“Siapa yang ingin menonton gamelan harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Cara kreatif ini membuat dakwah Islam berkembang cepat,” tuturnya.

Peserta juga diajak memahami perbedaan sistem nada gamelan yang menggunakan ji, ro, lu, pat, mo, nem, pi, berbeda dengan sistem solmisasi Barat.

Selain itu, ia menjelaskan variasi bentuk gamelan dari beberapa wilayah seperti Solo, Yogyakarta, Bali, Banyuwangi, hingga Sunda, yang memiliki kekhasan masing-masing, baik dalam instrumen maupun warna musik.

Puncak sesi terjadi ketika para peserta mulai memainkan gamelan secara langsung. Meski sebagian besar belum mengenal gamelan sebelumnya, mereka tampak antusias mempelajari teknik pukulan serta tempo ritmis yang harus selaras.

Dengan bimbingan sabar dari Bagus, akhirnya seluruh peserta berhasil menampilkan lagu Jawa klasik “Suwe Ora Jamu” bersama-sama. Suasana ruang gamelan pun berubah riuh oleh harmoni nada dan senyum penuh kebanggaan.

Sesi ini memberi pengalaman berharga bagi para peserta internasional, bukan hanya dalam memahami seni musik tradisional Indonesia, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ada kebersamaan, harmoni, dan identitas budaya yang luhur

Folk Music menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam rangkaian I-YES 2025. Para peserta merasa lebih dekat dengan budaya Indonesia dan mengapresiasi keindahan tradisi yang diwariskan hingga kini. Melalui gamelan, I-YES 2025 menegaskan misinya: menyatukan dunia melalui kebudayaan dan harmoni antarbangsa sebagaimana gamelan menyatukan setiap instrumen untuk menciptakan keindahan. (tba)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait