HUMANIORA – (22/9/2025) Komunikasi menjadi kunci utama dalam menjaga kehidupan manusia tetap bermakna. Tanpa komunikasi, manusia akan kehilangan arah, sebab hanya melalui komunikasi nilai, pengalaman, dan identitas dapat dibangun. Pesan penting ini disampaikan oleh Prof. Dr. Azhar Ibrahim dari Department of Malay Studies, National University of Singapore (NUS), saat hadir sebagai pembicara dalam kuliah internasional International Expert Talk (I-TALK) Series yang digelar Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (22/9).
Baca juga:
- I-TALK 2025: Dekan Humaniora Tekankan Urgensi Komunikasi untuk Multikulturalisme
- Indonesia, Pusat Keragaman Etnolinguistik Dunia yang Perlu Dijaga
Kehadiran Prof. Azhar langsung mendapat sambutan hangat karena topik yang ia angkat sangat dekat dengan realitas mahasiswa saat ini, yakni komunikasi dalam kerangka multikulturalisme dan transformasi sosial. Dalam pemaparannya, Prof. Azhar menjelaskan bahwa komunikasi tidak cukup dipahami hanya sebagai proses menyampaikan informasi dari satu orang ke orang lain. Lebih dari itu, komunikasi adalah proses dialogis yang membentuk partisipasi aktif, melahirkan pembebasan, dan memberi pencerahan.

“Multikulturalisme yang sehat tidak lahir dari dominasi atau pemaksaan, tetapi dari komunikasi kritis dan humanis,” tegasnya.
Selanjutnya, Prof. Azhar menekankan lima urgensi komunikasi dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Pertama, komunikasi membantu mencegah konflik sosial. Di tengah keberagaman etnis, bahasa, dan agama, komunikasi yang terbuka dapat menghindarkan masyarakat dari prasangka dan permusuhan. Kedua, komunikasi melatih kesadaran kritis, yakni kemampuan mendengar, mengajukan pertanyaan, serta menguji gagasan secara bersama. Ketiga, komunikasi menjadi sarana pendidikan multikultural yang mampu membebaskan pikiran dari bias dan stereotip.

Untuk itu, Prof. Azhar mengingatkan mahasiswa bahwa komunikasi berperan dalam menghadapi tantangan global, mulai dari krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, hingga isu intoleransi. Tanpa komunikasi yang sehat, masalah-masalah ini hanya akan melahirkan jarak dan perpecahan.
“Komunikasi bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi komitmen etis untuk berdialog, mendidik, memediasi, sekaligus memperjuangkan keadilan,” tegasnya.
Bagi mahasiswa Humaniora, pesan ini sangat relevan. Kehidupan kampus yang penuh keberagaman membuat komunikasi menjadi keterampilan penting, baik dalam diskusi kelas, organisasi, maupun kegiatan sosial. Prof. Azhar menekankan bahwa mahasiswa adalah calon intelektual muda yang akan terjun ke masyarakat, sehingga kemampuan berkomunikasi kritis, etis, dan inklusif harus terus diasah.
Kehadiran Prof. Azhar tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga meneguhkan posisi Fakultas Humaniora sebagai ruang akademik yang terbuka terhadap gagasan global. Dengan komunikasi yang benar, mahasiswa diharapkan mampu membangun identitas sebagai generasi yang berwawasan luas, berpikir global, namun tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan kemanusiaan.
Kuliah internasional ini menutup sesi dengan dialog interaktif, di mana mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan seputar komunikasi lintas budaya, peran bahasa dalam membangun solidaritas, hingga cara menghadapi tantangan media digital. Diskusi ini semakin memperjelas bahwa komunikasi adalah jembatan penting bagi mahasiswa Humaniora dalam menyiapkan diri menghadapi dunia yang semakin kompleks dan beragam. (asf)





