HUMANIORA – (11/2/2025) Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, memberikan pengarahan kepada civitas akademika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Kampus 3, Jl. Locari, Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dalam kesempatan ini, beliau menekankan pentingnya profesionalisme dan moralitas dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi Islam.
Baca juga:
- Alumni Prodi Sasing Terpilih sebagai Ketua HPI Komda Jatim
- Humaniora Ikuti Penilaian Pendahuluan PMPZI Secara Online
Menurut Menteri Agama, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari pencapaian formal birokrasi seperti opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau kemegahan infrastruktur kampus. Lebih dari itu, indikator utama kesuksesan pendidikan adalah semakin dekatnya umat dengan ajaran agama. Beliau mengajak seluruh akademisi untuk merefleksikan realitas masyarakat saat ini dan mempertanyakan sejauh mana ajaran agama telah diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita tidak boleh terkecoh dengan kriteria formal yang dapat meninabobokan kita. Anggaran yang kita habiskan dalam dunia pendidikan harus berbanding lurus dengan kualitas moral yang dihasilkan. Kampus harus menjadi tempat yang berkontribusi dalam membentuk moralitas generasi masa depan,” tegas Menteri Agama.
Sebagai institusi pendidikan berbasis Islam, UIN Malang diingatkan untuk tidak sekadar menyandang nama besar Maulana Malik Ibrahim, tetapi juga mengartikulasikan nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan akademik. Menteri menegaskan bahwa peran UIN bukan hanya sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai institusi dakwah. Oleh karena itu, para dosen tidak hanya bertugas mengajar secara akademik, tetapi juga harus menjalankan fungsi dakwah yang melekat dalam pendidikan Islam.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan makrifat dalam pendidikan di UIN Malang. Ilmu yang diperoleh melalui olah nalar harus berjalan seiring dengan makrifat yang diperoleh melalui olah batin. “Semua orang arif itu pintar, tetapi tidak semua orang pintar itu arif. Hikmah itu lebih utama daripada sekadar ilmu,” ujar beliau.
Dalam konteks era digital, Menteri Agama juga mengajak civitas akademika untuk tidak hanya bergantung pada teknologi informasi, tetapi juga menjalin hubungan harmonis dengan alam. Ia memperkenalkan konsep Ecotheology, yang mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan sahabat manusia dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kepedulian terhadap ekosistem merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peradaban.
Sebagai bagian dari visi besar Kementerian Agama, Menteri mendeklarasikan Kurikulum Cinta di lingkungan UIN Malang. Kurikulum ini diharapkan dapat mencetak generasi Muslim yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga memiliki toleransi sejati dan nilai-nilai humanisme yang tinggi. “Islam harus mampu menjadi rahmat bagi semesta, bukan sekadar membangun koeksistensi, tetapi menciptakan harmoni yang sejati,” jelas beliau.
Dalam penutup arahannya, Menteri Agama berharap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat menjadi trendsetter dalam membentuk umat Islam yang moderat dan berwawasan global. Dengan perpaduan antara ilmu, makrifat, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, diharapkan kampus ini dapat berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik di masa depan. [al]





