MIU Login

Muda Berkelana, Tua Bercerita Belajar Mengabdi dan Bertumbuh di Surat Thani

HUMANIORA – (2/9/2026) Ada perjalanan yang tidak pernah direncanakan secara matang, tetapi justru menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup. Bagi saya, perjalanan ke Thailand melalui program I-SMASH Humaniora adalah salah satunya. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu negara ke negara lain, melainkan sebuah proses belajar yang mempertemukan saya dengan tantangan, perbedaan, rasa syukur, dan pemahaman baru tentang arti pengabdian.

Baca juga:

Ketika saya berangkat dari Surabaya menuju Bangkok. Sebagai seorang anak perempuan pertama dalam keluarga yang berkesempatan mengabdi ke negeri orang, perjalanan ini terasa begitu besar dan bermakna. Di dalam pesawat, saya menyaksikan senja yang begitu indah dari balik jendela—sebuah pemandangan sederhana yang justru terasa menenangkan di tengah segala rasa gugup yang saya simpan. Alhamdulillah, perjalanan berlangsung lancar hingga kami mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, pada pukul 20.30 waktu setempat.

Namun, sebagaimana perjalanan pada umumnya, langkah awal itu tidak sepenuhnya mulus. Kami sempat menghadapi kendala di bagian imigrasi akibat miskomunikasi bahasa. Situasi tersebut sempat membuat saya cemas, terlebih ketika menyadari bahwa tidak semua orang di sekitar kami dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar. Beruntung, pembina kami segera membantu menjelaskan situasi kepada petugas imigrasi sehingga persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Dari peristiwa kecil itu, saya langsung belajar bahwa perjalanan ke luar negeri tidak hanya menuntut kesiapan fisik dan administratif, tetapi juga kesiapan mental untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.

Setelah keluar dari bandara, kami menuju Amanah Suksa Sasana di daerah Prawet, Bangkok, salah satu titik persinggahan awal selama di Thailand. Sambutan hangat dari pihak sekolah menjadi kesan pertama yang menenangkan. Kami disuguhi makan malam, dipersilakan beristirahat, lalu mempersiapkan diri untuk agenda city tour keesokan harinya. Di tengah suasana baru itu, saya sempat merenung: tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan sampai di titik ini, berdiri di negeri yang sebelumnya bahkan tidak pernah masuk dalam daftar tujuan hidup saya. Namun, di situlah saya kembali menyadari bahwa hidup sering kali membawa seseorang ke tempat-tempat yang tidak direncanakan, tetapi justru paling dibutuhkan untuk bertumbuh.

Beberapa hari kemudian, saya bersama tim diantar menuju lokasi penempatan utama, yaitu Darussalam Witthaya School di Surat Thani. Di sekolah inilah kami akan menjalani masa pengabdian. Setibanya di sana, kami kembali disambut dengan sangat ramah. Pihak sekolah menjamu kami dengan baik, memperkenalkan lingkungan sekitar, serta mengantar kami ke asrama yang akan menjadi tempat tinggal selama program berlangsung. Asrama itu cukup luas dan nyaman, membuat proses adaptasi terasa lebih ringan.

Pada masa-masa awal, tantangan terbesar yang saya rasakan adalah persoalan komunikasi. Sebagian besar warga sekolah, baik guru maupun masyarakat sekitar, tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Dalam situasi seperti itu, Google Translate menjadi alat bantu yang sangat penting bagi kami untuk menyampaikan maksud-maksud sederhana dalam keseharian. Meski demikian, saya tidak merasa proses adaptasi di Surat Thani terlalu sulit. Justru yang lebih menantang adalah soal makanan. Tidak semua makanan lokal langsung cocok di lidah saya. Cita rasa asam dan manis yang cukup dominan terkadang membuat saya rindu pada makanan Indonesia—mulai dari sambal terasi hingga jajanan sederhana yang akrab di lidah. Namun, kerinduan itu tidak pernah membuat saya merasa tidak betah. Sebaliknya, saya belajar bahwa tinggal di negeri orang berarti belajar menerima kebiasaan baru, termasuk soal rasa, selera, dan cara hidup yang berbeda.

Hari-hari berikutnya di Surat Thani justru menjadi bagian yang paling berkesan. Saya dan teman-teman diterima dengan sangat baik oleh para guru dan siswa. Antusiasme mereka terhadap kehadiran kami terasa begitu tulus. Setiap pagi, saya sering masih bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar nyata? Saya bisa berada di Thailand, belajar, mengajar, dan hidup bersama orang-orang dengan latar budaya yang berbeda. Rasa syukur itu terus hadir, terutama ketika melihat bagaimana guru dan siswa selalu berusaha mengajak kami berinteraksi, meski komunikasi kami tidak selalu berjalan sempurna. Di balik keterbatasan bahasa, saya justru menemukan kehangatan yang tidak membutuhkan banyak penjelasan. Senyum, sapaan, dan perhatian kecil dari mereka sudah cukup membuat saya merasa diterima.

Tentu, perbedaan budaya menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam pengalaman ini. Salah satu hal sederhana yang cukup mengejutkan saya adalah cara siswa menghormati guru. Jika di Indonesia murid umumnya mencium tangan guru sebagai bentuk takzim, di sekolah ini siswa hanya berjabat tangan seperti biasa. Bagi saya, perbedaan itu sempat terasa asing, tetapi kemudian saya memahami bahwa penghormatan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama. Nilai sopan santun tetap ada, hanya diekspresikan dengan cara yang berbeda. Dari sini saya belajar bahwa memahami budaya lain berarti juga belajar melepaskan ukuran-ukuran yang selama ini kita anggap paling benar, lalu membuka diri terhadap cara pandang yang lain.

Rutinitas mengajar di sekolah menjadi inti dari seluruh pengalaman saya di Surat Thani. Bagi saya, mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga soal hadir sebagai teladan, teman belajar, dan jembatan kecil yang menghubungkan para siswa dengan pengalaman baru. Setiap sapaan hangat yang mereka berikan, setiap antusiasme yang mereka tunjukkan di kelas, selalu mampu menghapus rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Ada kebanggaan tersendiri ketika saya melihat mereka bersemangat mengikuti pembelajaran yang kami bawa.

Bersama teman satu tim, saya mengajarkan berbagai lagu dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris kepada para siswa. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa metode seperti ini mungkin akan terasa membosankan bagi mereka. Namun, dugaan itu ternyata salah. Justru melalui nyanyian, suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Para siswa tampak sangat antusias, bahkan guru-guru menyampaikan rasa syukur karena lagu-lagu tersebut membuat anak-anak lebih tertarik menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam pembelajaran. Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa belajar bahasa tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Terkadang, pendekatan yang sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan dunia anak justru jauh lebih efektif.

Di sela-sela aktivitas mengajar, saya dan teman-teman juga berkesempatan mengenal Surat Thani lebih dekat melalui kunjungan ke beberapa destinasi wisata di sekitarnya. Kami mengunjungi kawasan hutan mangrove, Cheow Lan Lake, Khao Sok National Park, Khao Ta Phet, Rajjaprabha Dam, San Chao Market Surat Thani, hingga Surat Thani Rajabhat University. Setiap tempat menyimpan kesan yang berbeda, tetapi semuanya sama-sama meninggalkan rasa takjub.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat mengunjungi Cheow Lan Lake di kawasan Khao Sok. Sebelumnya saya mengira tempat itu adalah laut, tetapi ternyata merupakan danau buatan yang luar biasa indah. Airnya jernih berwarna hijau, dikelilingi tebing-tebing tinggi dan hamparan pepohonan yang lebat. Di beberapa titik, tampak resort terapung yang menambah pesona tempat itu. Sepanjang perjalanan menyusuri danau, saya berkali-kali hanya bisa memuji keindahan ciptaan Allah dalam hati. Saya tidak pernah membayangkan akan berada di tempat seindah itu, terlebih melalui jalan yang sama sekali tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Momen-momen seperti inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa takdir Allah selalu memiliki cara yang indah untuk mempertemukan manusia dengan pengalaman terbaiknya.

Menariknya, sebelum berangkat, Thailand bukanlah negara yang pernah saya bayangkan akan saya kunjungi. Ia tidak pernah masuk daftar destinasi impian saya. Namun, justru karena itulah pengalaman ini terasa sangat istimewa. Surat Thani mengajarkan saya bahwa tempat yang tidak pernah kita rencanakan sekalipun bisa menjadi ruang yang paling nyaman untuk belajar dan bertumbuh. Saya datang dengan banyak pertanyaan, tetapi pulang dengan banyak jawaban—tentang keberanian, rasa syukur, penerimaan, dan makna pengabdian.

Kalimat “muda berkelana, tua bercerita” terasa sangat dekat dengan perjalanan ini. Bagi saya, berkelana di masa muda bukan semata-mata soal bepergian ke banyak tempat, tetapi tentang memperluas pengalaman hidup, memperkaya cara pandang, dan mengumpulkan pelajaran yang kelak akan menjadi cerita berharga. Pengalaman mengabdi di Thailand telah membuat saya lebih kuat, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih peka terhadap makna kecil yang sering luput disadari. Saya belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami. Bahasa yang tidak selalu sama, kebiasaan yang berbeda, dan lingkungan yang asing justru mengajarkan saya cara baru untuk berkomunikasi: dengan empati, kesabaran, dan ketulusan.

Pada akhirnya, perjalanan ini meninggalkan satu keyakinan penting dalam diri saya: bahwa kesempatan untuk keluar dari zona nyaman adalah anugerah yang patut disyukuri. Dari Thailand, khususnya Surat Thani, saya membawa pulang lebih dari sekadar foto, kenangan, atau cerita perjalanan. Saya membawa pulang versi diri yang lebih matang, lebih berani, dan lebih siap menghadapi dunia yang lebih luas. Dan seperti doa yang terus saya simpan, semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke tempat ini bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk menghadirkan kenangan baru bersama orang-orang yang saya cintai. Karena kelak, ketika usia bertambah dan waktu membawa saya pada fase hidup yang berbeda, saya ingin tetap memiliki cerita yang bisa dikenang dengan bangga: bahwa di masa muda, saya pernah berkelana, pernah mengabdi di negeri orang, dan pernah belajar bahwa dunia yang luas ini selalu punya cara untuk mendewasakan manusia. [Pradita Awaliyah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait