Urgensi Kompetensi Kesusastraan dalam Pengajaran Sastra

  • Update: 25/02/2021

HUMANIORA - 25/02/2021 Topik seputar kompetensi sastra dan nilai-nilai karakter kebangsaan dalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris menjadi salah satu bahasan menarik dalam diskusi bertajuk Colloquium Series on Linguistics and Literature yang digelar secara virtual oleh Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (Kamis, 25/02/20121). Kegiatan ini merupkan kerjasama antara Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Linguistics and Literature Association (LITA) di bawah Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA).
Turut hadir dalam seminar tiga narasumber, yaitu Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd. (Presiden LITA), Dr. Muzakki Afifuddin, M.Pd. (Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), dan Bahren Nurdin, M.A. (Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).
Seminar kali ini mengambil tema Bringing Literature into Classroom. Tema ini sangat penting untuk didiskusikan guna memperkaya wawasan tenaga pendidik, baik dosen maupun guru, tentang bagaimana seharusnya sastra diajarkan. “Pengajaran Bahasa Inggris di perguruan tinggi tidak hanya terkait kompetensi linguistik belaka namun juga kompetensi kesusasteraan karena mahasiswa perlu memiliki kepekaan sosial dan kehalusan akal budi seiring dengan meningkatnya kemampuan komunikasi mereka. Dan, hal ini dapat terwujud apabila sastra dibawa serta dalam kelas bahasa,” ujar Rina Sari, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Sastra Inggris dalam sambutannya secara daring di hadapan ratusan peserta.
Seminar dibuka dengan keynote speech¬ yang disampaikan oleh Prof. Zuliati Rohmah. Dalam paparannya, Zuliati menyampaikan tentang pentingnya pendidikan karakter dan nilai-nilai spiritualitas dalam pengajaran di pendidikan tinggi. “Hal ini dapat dilakukan, misalnya, dengan menggunakan karya sastra untuk pembelajaran Bahasa Inggris,” ujar Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Sementara itu, Dr. Muzakki Afifuddin banyak mengulas seputar kompetensi kesusasteraan dalam pengajaran Bahasa Inggris. Menurutnya, pengajaran sastra selama ini terkesan kaku. Banyak orang senang menikmati karya sastra tetapi tidak semua orang bisa enjoi belajar sastra. Sehingga dibutuhkan strategi yang tepat untuk mengaharkan sastra kepada mahasiswa. “Dibutuhkan kompetensi kesusastraan yang memadai untuk bisa mengajarkan sastra. Karena menikmati karya sastra tidak hanya terkait memahami kalimat dalam teks, tetapi lebih kompleks yang melibatkan konteks ujaran, retorika, pengetahuan, dan harapan pembaca,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bahren Nurdin menjelaskan secara spesifik tentang integrasi nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme di kelas bahasa dan sastra. Dalam karya sastra terkandung nilai-nilaitermasuk di dalamnya nilai nasionalisme. “Kita bisa mengajarkan nilai nasionalisme melalui sastra kepada mahasiswa,” ujarnya.
Seminar daring yang dipandu oleh Muhamad Edy Toyyib, salah seorang dosen Foklor di Program Studi Sastra Inggris, mendapatkan sambutan luar biasa dari peserta. Tidak kurang dari 250 peserta, baik kalangan dosen, sastrawan, kritikus sastra, maupun mahasiswa, ikut menyimak dengan cermat hingga usai acara.[mh]

Template Settings

Theme Colors

Blue Brown Orange Pink

Layout

Wide Boxed Framed Rounded
Patterns for Layour: Boxed, Framed, Rounded
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…