Tantangan Pendidikan Agama dan Penguatan Karakter di Era Milenial

Era milenial telah membawa pengaruh yang nyata di tengah kehidupan. Wujudnya adalah generasi Milenial lebih suka berlama-lama dan berselancar dalam dunia maya (internet) dengan tanpa batas. Bahkan mereka menjadikannya sebagai sumber rujukan dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Masalahnya adalah sejauh mana seseorang bisa memanfaatkan internet (dunia maya) itu untuk kepentingan yang produktif-positif. Hal itu kembali kepada diri kita masing-masing. Di sinilah dibutuhkan penguatan karakter bagi setiap individu.

Pokok pikiran itu disampaikan oleh Dr. Istiadah saat diundang dalam memberikan Orasi Akademik dalam acara Wisuda Sarjana ke XIX di Sekolah Tinggi Agama Islam Balikpapan pada Sabtu (15/9/2018). Menurutnya, penguatan karakter bagi generasi milenial seperti sekarang ini merupakan suatu keharusan. Jika tidak, mereka akan kehilangan kontrol. Terjebak pada pusaran dunia maya tanpa dapat mengambil manfaat sedikitpun.

Beberapa penelitian tentang perilaku generasi Milenial terhadap media sosial menyebutkan bahwa dunia maya (internet) telah dijadikan sebagai sumber utama dalam memperoleh pengetahuan menggantikan sumber informasi yang berbasis mesin cetak seperti buku. Mereka lebih memilih mengambil jalan singkat untuk memperoleh pengetahuan. Akibatnya, pengetahuan yang didapat pun lebih bersifat tidak mendalam alias sangat simplistis (pengetahuan yang dangkal).

“Dalam konteks ini, pendidikan agama dan karakter sangat dibutuhkan karena tidak bisa digantikan dengan mesin. Pembelajaran harus dilaksanakan secara kreatif, adaptif, dan produktif melalui pengembangan konten yang inovatif,” ungkap Dr. Istiadah yang menjadi dosen jurusan Sastra Inggris Fakultas Humaniora.

Mengajarkan agama tidak sebatas penyampaian materi di dalam kelas, tetapi juga harus diupayakan dalam bentuk film kreatif, misalnya, sehingga peserta didik lebih bisa menghayati. Tidak sekedar mendengarkan materi pelajaran yang diceramahkan. Oleh karena itu, pengembangan konten pelajaran melalui internet menjadi cara yang harus diupayakan dan dilakukan. Pengembangan dan penguasaan terhadap media ajar menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pendidik di kelas.

Terdapat beberapa karakter yang harus ditanamkan kepada dan sangat dibutuhkan oleh generasi milenial. Diantaranya, disiplin dan tanggungjawab, kejujuran, kreatif, dan toleransi. Karakter ini sangat diperlukan karena terkait dengan penggunaan media sosial. Mengingat, media sosial sekarang ini cenderung disalah-gunakan menjadi ajang untuk mengumbar ujaran kebencian dan mengarah pada tindakan intoleran.

“Jika generasi ini menggunakan media sosial secara tidak bertanggungjawab dan jujur, maka akan melahirkan sampah-sampah informasi yang tidak mendidik, tetapi semakin merusak perilaku anak bangsa ini,” tegasnya.

Dalam paparannya, Dr. Istiadah juga menyampaikan pentingnya penanaman karakter cinta Allah bagi generasi milenial. Menurutnya, Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini dalam ragam yang berbeda-beda, baik ras, suku, budaya, dan bahasanya. Perbedaan itu tidak harus menjadikan antar sesama untuk saling memaki-maki. Perbedaan itu harus dipahami dan dijalani sebagai harmoni kehidupan. Memahami perbedaan merupakan modal sosial yang dapat mengantarkan kehidupan manusia ke arah kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, di atas semua karakter yang dibutuhkan oleh generasi milenial, maka penanaman karakter cinta Allah menjadi katakter penting yang tidak boleh dilalaikan. [mff]

 

 

Jl. Gajayana 50 Malang 65144 - Jawa Timur - Indonesia

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy humaniora@uin-malang.ac.id

Ikuti kami :

Visitor

We have 60 guests and no members online