Peran Serta Dosen BSA dalam AICIS 2014

Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI baru saja menyelenggarakan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-14 pada 21-24 Nopember 2014 di Balikpapan. Tema AICIS ke-14 tersebut adalah Merespon Tantangan Masyarakat Multikultural: Kontribusi Kajian Islam Indonesia (Responding the Challenges of Multicultural Societies: The Contribution of Indonesian Islamic Studies)”. Ahmad Kholil, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora turut serta sebagai presenter dalam forum terhormat tersebut.

Di samping sebagai dosen sastra, Ahmad Kholil konsen juga pada persoalan budaya dan sufisme. Makalah yang dikirimkan dalam ajang kompetisi para dosen, peneliti dan berbagai praktisi keilmuan untuk bisa mempresentasikan tulisannya itu adalah persoalan local wisdom yang berkaitan dengan tradisi di tanah kelahirannya. Menurut pengakuannya, ia mempresentasikan tulisan yang diberi judul “Nalar Keagamaan Suku Using di Banyuwangi: Potret Multikulturalisme Masyarakat Pinggiran."

Dalam makalahnya, Ahmad Kholil menyatakan bahwa agama adalah hal yang vital bagi masyarakat di manapun. Agama secara historis merupakan keyakinan individu dalam komunitas tertentu yang tidak lepas dari konteks budaya dan sejarah di sekitarnya. Agama terbentuk oleh konstruksi sosial di mana agama itu hidup, di samping oleh kontribusi individu sebagai pengemban amanatnya. Agama bukan hanya deretan teks mati sebagai narasi doktrinal yang menuntun warga kepada jalan kebenaran, tetapi juga budaya yang terbentuk (terkonstruksi) secara dialektis antara pemahaman penganutnya terhadap ajaran agama, budaya dan tradisi masyarakat yang terus berkembang.

Dalam pemahaman masyarakat Using di Banyuwangi, agama adalah penuntun untuk hidup yang lebih baik dan nyaman. Sifat kepenuntunan agama bagi masyarakat Using harus aktual sesuai dengan konteks, agar agama tidak ditinggal pemeluknya. Dalam pemahaman keagamaan yang seperti itu, kebutuhan terhadap interpretasi ajaran agama adalah keniscayaan. Oleh karena itu, dalam kehidupan masyarakat Using, tradisi sosial-keagamaan yang merupakan warisan budaya leluhur tetap hidup bahkan semakin semarak, walaupun penganut “fanatik” budaya tersebut sudah tiada. Masyarakat Using juga bisa hidup rukun dan damai, tanpa konflik dengan berbagai pemikiran dan keyakinan yang berbeda. Inilah fakta multikultaralisme di masyarakat Using. Pesan teologis agama bagi mereka adalah percaya kepada Tuhan, sedangkan pesan sosialnya adalah menciptakan tatanan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera. Demikian menurut Ahmad Kholil.

 

 

Jl. Gajayana 50 Malang 65144 - Jawa Timur - Indonesia

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy humaniora@uin-malang.ac.id

Ikuti kami :

Visitor

We have 160 guests and no members online