Cerita dari BIPA

(24/02/2014) Peserta berkumpul di ruangan BIPA gedung fakultas Humaniora lantai dua di samping layanan mahasiswa SEC. Jam menunjukkan pukul 12.30, saat-saat adzan sedang bergaung. Sangat dekat. Bapak Miftahul Huda, M.Pd duduk di depan ruangan yang lengang dan sedikit berantakan, 4 orang peserta memperhatikan Beliau. Bangku-bangku lipat besi berantakan. Dinding digantungi foto-foto kegiatan BIPA, foto-foto lanskap kota Malang dan hasil lukisan berfigura lain. Siang itu akan ada kegiatan wawancara dari BIPA bagi peserta yang sebenarnya membutuhkan tiga orang.

Muhammad Subhi Mahmasoni, Imam, Alfian, dan Agung saling bertukar cerita tentang alasan ikut pendaftaran BIPA.  Rupa Bapak Miftahul Huda cukup membuat mereka deg-degan. Mereka membayangkan akan ditanyai seperti orang yang mendaftar pekerjaan. Hanya Alfian yang bukan seorang musyrif (pendamping) dari lembaga MSAA (Ma’had Sunan Ampel Al’ Ali) di antara mereka.

Bapak Miftahul mengedarkan senyuman manis kepada semua peserta dan memulai percakapan. Beliau menuturkan bagaimana sebenarnya latar belakang dicari pendamping untuk BIPA. Supaya para peserta mendapat gambaran keadaan BIPA sekarang. Lowongan itu datang dari rasa prihatin dan peduli bagi mahasiswa asing kampus UIN Malang yang kuliah di sini. Sebuah niat yang mulia.

Bagaimana bahasa asing bisa cepat dikuasai bagi yang bukan penutur asli?

Para mahasiswa baru asing yang akan dibimbing berjumlah 10 orang dengan rincian 7 Somalia, 2 Sudan, dan 1 Rusia. BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) memberikan kuliah bahasa Indonesia selama 6 minggu sebelum mereka benar-benar hadir dalam kelas perkuliahan dan permasalahannya adalah dalam kurun waktu tersebut tak mudah bagi mereka untuk menguasainya. Pengalaman dari mahasiswa asing terdahulu adalah mereka kewalahan mengikuti perkuliahan karena keterbatasan dalam memahami bahasa Indonesia. Terutama yang di jurusan SAINTEK. Bahkan dosen fakultas SAINTEK sendiri yang melapor ke panitia BIPA karena mahasiswa mereka kesulitan saat kuliah.

Karena sebahagian dari mahasiswa asing tersebut menunjukkan atensi tinggi berkuliah, maka tentor BIPA sungguh-sungguh ingin membantu mereka.

Sejenak dari penjelasan Bapak Miftahul Huda, Beliau beranjak dan kembali dengan membawa kertas-kertas tugas mahasiswa asing. Tertera di sana nama Saad, Muhammad Ahmad Hasan, Yusuf Abdi Digow, Muhammad Ahmed Muhammed, dan Abdur Rosyid. Tentor memberikan tugas observasi tempat dan menuliskan laporan. Para peserta cukup terkejut, karena hasil tulisan mereka sangat mirip dengan kemampuan menulis anak-anak SD. Berantakan.

Dari peserta diminta komitmen dalam pembimbingan bahasa Indonesia nanti. Para peserta akan diturunkan langsung untuk bergaul dengan mereka. Mau mengajak berkomunikasi aktif. Karena ada sebagian dari mahasiswa asing yang memang benar-benar belajar praktik belajar bahasa Indonesia di luar kelas BIPA.

Satu dari masalah dari mahasiswa asing adalah seperti mahasiswa Somalia yang enggan berbaur dengan mahasiswa lokal. Dan lebih suka berkumpul dengan sebangsa dengannya. Problem yang memperlambat penguasaan bahasa Indonesia.

Berawal dari permasalahan tidak menguasai bahasa Indonesia yang resmi, menyebabkan mereka bergantung kepada tentor BIPA menyelesaikan masalah hidup mereka. Seperti mengurus surat perpanjangan hidup di kantor migrasi, memogram KHS, pembimbingan dengan wali dosen, berobat, di bank dan lain sebagainya.

Para peserta akan bertugas mengubah militansi mereka dari yang berbahasa Indonesia modikatif menjadi komunikatif.

Jangan sampai dalam bimbingan belajar bahasa Indonesia menjadi berganti haluan menjadi bimbingan bahasa Inggris dan Arab bagi peserta. Dalam permasalahan ini juga dikarenakan para dosen ada yang tidak mampu berbahasa asing, sehingga tidak bisa diberdayakan.

Dalam setiap pertemuan nanti, bagi para peserta akan dianggarkan Rp. 15.000,00. Penyelenggara BIPA akan menyerahkan SAP agar pembimbingan terstandar. Mereka tak harus melakukan presentasi dialogis seperti dosen.

Tentor memang kreatif memberikan simulasi kepada mahasiswa asing. Dengan menugaskan mereka melakukan observasi, jalan-jalan ke lemabaga layanan masyarakat atau pasar, akan merangsang pengetahuan dan khasanah bahasa lokal Indonesia. Seperti di bulan ini para mahasiswa akan ditugaskan untuk berjalan-jalan ke alun-alun, pasar besar, dan lain sebagainya, dan menuliskan hasil perjalanan mereka.

Ini sangat membantu mereka nanti ketika akan menulis makalah, sedikit demi sedikit kosa kata bahasa Indonesia mereka akan lebih banyak dan mereka akan mampu berkomunikasi saat kuliah.

Dan semula dibutuhkan hanya tiga pendamping, melihat pentingnya tugas pembimbingan ini, Bapak Miftahul Huda akan menerima empat peserta pendamping. Di antara hari Ka’mis dan Jum’at nanti mahasiswa asing dan para pendamping akan saling berkenalan dan bertemu. (Sal)

14 Februari 2014 adalah hari pertama berduka atas terjadinya erupsi di gunung Kelud, Kediri. Dampak dari asap gunung Kelud sampai juga ke beberapa tetangga Malang, kota Batu. Namun reaksi para aktivis seakan lebih cepat dari pada turunnya air mata lelah dan sedih para korban yang dievakuasi. Beberapa mahasiswa terpaksa tidak bisa menghadiri hari perdana kuliah yang dimulai, tanggal 17 Februari 2014. Karena ada penutupan jalan seperti di Ngantang dan lain sebagainya.

Selain itu mahasiswa yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera, harus bersabar tidak mengikuti perkuliahan di minggu pertama karena penutupan sementara jalur transportasi.

Di kelas sastra, diisi oleh Bapak H. Halimi Zuhdi, M.Pd dengan mata kuliah teks-teks sastra (an nusus al adabiyah) di gedung C, UIN Malang. Bapak Halimi sedang mengikuti kompetisi menulis puisi Arab  yang diselenggarakan oleh University King Saud, Arab Saudi. Beliau telah mengirimkan naskah puisi di bulan Januari dan akan diumumkan di akhir bulan April. Beliau memberitahukan akan ada pergantian kurikulum khususnya tentang kesastraan. Beliau akan mengampu mata kuliah baru dalam bahasa dan sastra Arab, yang berkaitan dengan menulis kreatif. Sebagai mata kuliah yang baru dalam kurikulum 2014 sekarang.

Ketika di semester tiga BSA angakatan 2011, Beliau membagikan angket untuk penelitian Beliau kepada mahasiswa BSA angkatan 2011 tentang maharoh al kitabah al ibda’iyah (keterampilan menulis Kreatif). Kekurangan jurusan Bahasa dan Sastra Arab adalah mata kuliah tentang  menulis kreatif. Yang dimaksud menulis kreatif adalah menulis puisi dan prosa. Beliau juga telah berhasil menuliskan buku tentang menulis kreatif tadi, namun dengan bahasa Arab.

Di mata kuliah teks-teks sastra nanti, Beliau akan memulai mengajak mahasiswa untuk bersastra. Terlebih Beliau menekankan dalam kuliahnya untuk membincangkan pendapat tentang kesastraan.

Berbeda dengan ketua jurusan, M. Faisol, M.Ag,  Pengampu mata kuliah fiqhu al lughoh II yang bertransformasi menjadi Filologi. Dalam perdana kuliahnya, Beliau sudah menyodorkan gambar tentang manuskrip dengan tulisan asing seperti kode-kode, simbol, morse, dan gambar asli tulisan tangan. Beliau menilai pentingnya mata kuliah ini untuk membangkitkan lagi semangat melestarikan kebudayaan identitas yang sedang kita miliki. Sehingga Pak Faisol juga menawarkan dalam setiap pertemuan dengan Beliau nanti mahasiswa harus mengenakan pakaian batik. Ternyata dari usulan itu, disinyalir bahwa pak Faisol adalah dosen yang senang membeli batik dari motif yang berbeda-beda sesuai dengan kota yang ia kunjungi.

Berkaitan dengan filologi, Pak Faisol berpendapat bahwa pembahasan mata kuliah  fiqhu al lughoh I tumpang tindih dengan fiqhu al lughoh II, maka Pak Faisol telah menyiapkan materi-materi baru tentang filologi ini. Dengan memberikan gambaran, nanti mahasiswa akan disuruh membawa meteran untuk mengukur manuskrip. Semua mahasiswa tampak antusias.

Bagi yang memilih profesi terjemah, Pak Faisol juga telah menyiapkan novel yang akan diterjemah dengan kualitas sedang.

Bagi yang profesi ta’lim, H. Sutaman M.A, memberi stimulus berpikir tentang pendidikan. Para mahasiswa diajak meninjau ulang evaluasi pembelajaran di jenjang SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Beliau menekankan defenisi pengukuran dan penilaian dalam evaluasi pembelajaran kepada mahasiswa ta’lim. Kuliah saat itu menjadi semacam penyadaran bagaimana pemerintah begitu mudah mengukur kemampuan siswa yang sekolah selama 3 dan 6 tahun, namun ditentukan keberhasilan pendidikannya hanya dalam waktu seminggu. Begitu berbeda antara pengukuran dan penilaian. Pengukuran hanya menggunakan satu pendekatan untuk memutuskan kategori. Sedangkaan penilaian menggunakan beberapa aspek dalam menentukan kategori.

Berhubungan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, di bulan Januari mendapatkan akreditasi dari BAN PT, agaknya status itu memberi dampak kepada kedisiplinan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan. Semua dosen selalu menekankan dan mengingatkan tentang peraturan terbaru untuk prasyarat mendapatkan kelulusan dalam setiap mata kuliah. Yakni diwajibkan untuk selalu hadir dan minimal tidak hadir sebanyak tiga kali. Konsekuensinya adalah ketika nanti melanggar atau lebih dari tiga kali tidak masuk, maka nama peserta ujian tidak akan tertera dan dianggap sudah tidak lulus pada mata kuliah yang bersangkutan. Selain itu dosen tidak lagi menggunakan presensi manual, namun langsung menggunakan sistem click dalam siakad. Jadi dosen tidak lagi menjadi penentu kelayakan mahasiswa untuk mengikuti ujian. Namun dalam kalimat yang sederhana, mahasiswa itu sendiri yang menentukan jalan perkuliahannya. (Sal)

 

Jl. Gajayana 50 Malang 65144 - Jawa Timur - Indonesia

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy+1 (0341) 551354

  • dummy humaniora@uin-malang.ac.id

Ikuti kami :

Visitor

We have 72 guests and no members online