idaren

Mahasiswa BSA, Kontributor Program Penerjemahan Balai Bahasa

HUMANIORA – (13/01/2022) Lilik Iswanti, mahasiswi Prodi Bahasa dan Sastra Arab, menjadi salah satu peserta lolos seleksi program penerjemahan karya sastra daerah yang diinisiasi oleh Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) tahun 2021. Ini adalah program penerjemahan karya sastra daerah ke dalam bahasa Indonesia, baik karya yang menggunakan bahasa Jawa, Using (baca: Osing) maupun bahasa Madura.

Lilik beserta 14 orang peserta lainnya lolos seleksi tes penerjemahan dengan menyisihkan sekitar 157 peserta lain yang telah lolos administrasi dari 269 orang pendaftar. Program penerjemahan BBJT ini menyasar baik karya cerita pendek, novel maupun puisi, berjumlah 20 judul. Lima (5) judul diterjemahkan oleh penerjemah dari BBJT sendiri, sementara lima belas (15) judul karya sastra sisanya diterjemahkan oleh 15 penerjemah dari luar BBJT.

Khusus untuk karya sastra berbahasa Jawa, BBJT mengambil atau menyeleksi karya-karya yang pernah menang atau pernah menjadi nomine penghargaan Sutasoma atau karya sastra yang pernah menang dalam penghargaan sastra Rancage—penghargaan nasional bagi sastrawan daerah yang menulis karya sastra dalam bahasa ibu, seperti bahasa Jawa, Bali, Sunda, Lampung, dan Madura.

Setelah lolos seleksi tes penerjemahan Lilik dikontrak untuk menerjemahkan sebuah novel lumayan cukup tebal dalam waktu 75 hari. Lilik kebetulan mendapatkan tugas menerjemahkan novel sastrawan Jawa asal Tulungagung, Tiwiek SA, berjudul Carang Carang Garing (Penerbit Alfina Primatama) yang pertama kali terbit tahun 2009. Terjemahan Lilik atas novel Tiwiek SA ini dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Ranting Ranting Kering (Sidoarjo: Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, 2021).

Pada mulanya Lilik mengikuti program tersebut secara tidak sengaja. Cerita Lilik, pada suatu ketika ia dibrondong informasi berupa pamflet mengenai seleksi penerjemahan karya sastra berbahasa daerah ke bahasa Indonesia dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, yang terdiri dari bahasa Jawa, Using dan Madura. Setelah mengecek di instagram balai bahasa dan pamflet tersebut betul-betul valid, Lilik lalu berpikir untuk mendaftar. Apalagi setelah saat itu ia juga sempat mendapatkan motivasi dari dosennya.

Lilik sempat ingin mendaftar di dunia tempat, yakni di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur maupun langsung di Badan Bahasa Kemendikbud pusat, Jakarta, dengan lomba berbeda. Tapi, menurut Lilik, informasi dari Balai Bahasa Jawa Timur saat itu lebih menarik minatnya untuk menjajal kemampuan. Sebab, menurut Lilik, pada waktu itu kebetulan ia memang sedang gandrung bahasa Jawa. [MS]

Read 34 times Last modified on Senin, 17 Januari 2022 08:23
Share
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…