idaren

Menggugah Hasrat Ingin Tahu

  • Admin Humaniora Written by Admin Humaniora
  • Update: 28/03/2012

Ada ungkapan ”use it or loose it” yang jika kata itu ditujukan kepada kita artinya kurang lebih ‘pergunakan apa yang kau miliki atau kau akan kehilangan fungsinya’. Setiap manusia lahir dengan organ fisik yang memiliki fungsi tertentu demi menunjang eksistensinya. Organ itu, dalam bahasa keseharian kita disebut panca indra, yang terdiri dari mata, telinga, hidung,lidah, dan kulit. Panca berasal dari bahasa Sanskerta (pañca) yang artinya lima. Demikian indra luar yang dimiliki manusia sebagai alat mengetahui dan berkomunikasi dengan yang di luar dirinya di atas ada lima.

Kelima indra di atas memilki fungsinya masing-masing untuk menunjang keberadaan manusia dan meningkatkan eksistensinya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk menghirup, lidah untuk mengetahui rasa, dan kulit untuk meraba. Bila satu dari lima indra itu tidak ada, berarti ada bagian yang kurang untuk menunjang perannya. Namun bukan berarti orang yang memiliki organ kurang lengkap tersebut juga kurang perannya atau kurang optimal keberadaannya. Tuhan Maha Adil dan Maha Bijaksana, dengan sifat adil-Nya, orang yang memiliki kekurangan pada bagian tertentu akan dilebihkan kemampuan fungsi organ yang lain. Misalnya, seseorang memiliki pandangan yang  agak terbatas bahkan buta, ia akan memiki sensivitas lebih untuk pendengaran dan perabaannya. Namun demikian, kemampuan yang ada pada organ itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus belajar dan dilatih. Dalam proses belajar dan berlatih itu pasti akan mengalami kelelahan. Dan, jika berputus asa atau tidak dipergunakan dengan benar, indra itu akan kehilangan daya gunanya

Semua manusia lahir dalam keadaan terbatas, meskipun organ tubuhnya lengkap, tentu saja semuanya belum bisa berfungsi dengan benar.  Tentu saja, agar dapat berfungsi dengan benar harus belajar. Masa pembelajaran masing-masing orang berbeda, karena kemampuan dasarnya memang  berbeda. Model dan sistemnya yang sesuai dengan konstruksi tubuhnya mungkin juga berbeda, karena alam lingkungan tempat hidupnya berbeda. Demikian juga kemampuan paling optimal setiap orang berbeda sebab dari “sana”  memang diberi “bekal” kemampuan yang berbeda. Tapi tidak ada orang yang sungguh-sungguh tahu bekal dari sana tersebut, kecuali dari gejala yang ditampakkan oleh yang punya dan kemudian dilatih secara optimal pula. Setelah upayanya optimal, hasil yang didapat tidak salah kalau disebut titik maksimal kemampuan atau taqdirnya .

Hidup ini akan menjadi baik dan terus membaik jika kemampuan organ itu difungsikan.Dalam hal ini, bukankah Alquran telah menegaskan supaya manusia mengamati fenomena dan apa yang terjadi di sekitarnya, untuk kemudian menjadikan apa yang terjadi dan diamanati tersebut sebagai guru. Barangkali ungkapan pengalaman adalah guru yang paling baik (bijaksana ) diambil dari dasar filosofi bahwa manusia harus mengamati yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, pengamatan yang digalakkan oleh kaum rasional yang positivis menafikan fungsi hati, sementara Alquran member  perintah agar menfunsikannya. Dalam bahasa Alquran, jika mata dan telinga tidak digunakan sama halnya dengan tidak memilikinya. Lebih parah jika seseorang menutup akses hati untuk bisa mengerti, ia lebih hina daripada binatang.

Mengamati sekitar adalah kerja awal penelitian dan setiap orang pada dasarnya adalah pengamat dan peneliti.  selama seseorang  ingin terus bertahan hidup ia harus mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Begitu juga, dengan tanpa mengamati orang akan terus terjatuh tanpa bisa bangun dan berkembang. Bukankah, ketika seorang anak muda yang hendak mengungkapkan cinta kepada seseorang harus melakukan pengamatan terlebih dulu. Lalu terkait dengan pengungkapan cintanya , ia harus memperhatikan pula kapan dan bagaimana cara yang tepat. Tanpa melakukan pengamatan, pasti cintanya akan kesasar atau berlabuh di tempat yang keliru. Sasaran yang keliru, ungkapan yang kurang simpati, dan waktu yang kurang tepat merupakan akibat dari kurangnya pengamatan, yang dengan bahasa lain bisa dikatakan miskinnya kemampuan meneliti.

Meneliti bukanlah pekerjaan susah, tapi bila tidak bisa melakukan penelitian orang akan diliputi rasa susah. Sebagai insan akademis, kita harus “mentakdirkan” diri sebagai peneliti. Hanya saja, penelitian selama ini terlalu ditekankan pada metodologi yang baku dan kaku padahal cara pandang dan cara memahami ilmu yang terkait dengan paradigma, teori, dan pendekatan itu selalu tidak sama antara satu tokoh dengan dengan tokoh lainnya. Seperti upaya mendefinisikan suatu obyek misalnya, demikian pula cara memahami sebuah teori atau pendekatan yang terkait dengan obyek tersebut, setiap kepala memiliki isi dan konsep sendiri-sendiri. Oleh karena itu, untuk mengembangkan kemampuan penelitian, yang terpenting terlebih dulu adalah mau membuat usulan (proposal) penelitian.

Pemahaman yang terkait metodologi dan cara penerapannya  akan diperoleh dengan benar dan berkembang dengan benar pula jika sudah praktik melakukan kerja yang disebut penelitian itu. Kalau disadari setiap manusi pada awalnya lahir tanpa kemampuan apapun kecuali bernafas, lalu berkat belajar dan latihan ia memiliki skill yang mumpuni di bidang yang digeluti, kenapa masih juga tidak mau melakukan sesuatu (apapun yang positif) hanya karena kwatir salah .

Benar memang, bahwa semua kemampuan itu pasti didasari oleh keinginan. Keinginan adalah rasa yang terkandung di jiwa yang merupakan respon atas sesuatu, baik yang berupa benda fisik maupun yang bersifat non-fisik. Bila rasa ingin itu tidak ada, mustahil orang mau melakukan sesuatu. Maka kewajiban kita saat ini adalah memancing  rasa ingin itu. Terkait dengan penelitian, perlu dirangsang rasa ingin tahu kita terhadap kebenaran suatu obyek. Kebenaran di sini, tentunya bukan kebenaran yang hakiki, namun hanya kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang memenuhi kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, tetap saja ia subjektif. Namun dalam dunia penelitian, subyektivitas setelah melakukan prosedur ilmiah yang benar adalah subyektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, sifat kebenarannya tetap disebut objektif.

Ahmad Kholil,
Sekretaris Unit Penelitian

Read 283 times
Share
More in this category: Wanita dan Tantangan Modernitas »
Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…