{"id":8366,"date":"2025-10-29T00:32:32","date_gmt":"2025-10-29T00:32:32","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=8366"},"modified":"2025-10-29T00:32:32","modified_gmt":"2025-10-29T00:32:32","slug":"peserta-i-yes-tampilkan-ragam-budaya-dunia-dalam-cultural-diversity-performance","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/peserta-i-yes-tampilkan-ragam-budaya-dunia-dalam-cultural-diversity-performance\/","title":{"rendered":"Peserta I-YES Tampilkan Ragam Budaya Dunia dalam Cultural Diversity Performance"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA<\/strong> \u2014 (29\/10\/2025) Suasana penuh warna dan keberagaman budaya kembali menghiasi rangkaian <em>International Youth Enhance Study<\/em> (I-YES) 2025 yang digelar Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada hari kedua pelaksanaan, para peserta internasional tampil memukau dalam acara <em>Cultural Diversity Performance<\/em> yang dipusatkan di depan Gedung Fakultas Humaniora, Selasa (28\/10).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Read too:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/740fb6c3\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/peserta-internasional-borong-kemenangan-di-folk-games-i-yes-2025-tawa-dan-semangat-warnai-kompetisi\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Peserta Internasional Borong Kemenangan di Folk Games I-YES 2025, Tawa dan Semangat Warnai Kompetisi<\/mark><\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/740fb6c3\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/folk-games-i-yes-2025-sportivitas-dan-kegembiraan-dalam-satu-arena\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Folk Games I-YES 2025: Sportivitas dan Kegembiraan dalam Satu Arena<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak awal, antusiasme para peserta begitu terasa. Panggung menjadi titik temu budaya dunia, tempat di mana bahasa, musik, dan tarian menyatu dalam harmoni yang saling merayakan perbedaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara dibuka dengan penampilan puisi dari berbagai negara. Ma Jun dari China memukau audiens dengan puisi berbahasa Mandarin. Disusul Mohammed Ibrahim Mohammedseid dari Ethiopia yang membawakan puisi tentang tanah kelahirannya. Sorak kagum kembali terdengar saat Faroq Ali Ali Hussein Qazwan dari Yaman melantunkan puisi dengan fasih dalam bahasa Indonesia, membuat peserta lokal bangga dan terkesima.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/740fb6c3\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8368\" srcset=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21-300x225.jpeg 300w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21-768x576.jpeg 768w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21-16x12.jpeg 16w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/WhatsApp-Image-2025-10-28-at-19.30.21.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Memasuki sesi musik, suasana semakin meriah. Anas Ngeonchareon dari Thailand membuka penampilan lagu, kemudian Bagayoko dari Mali, Madina dari Pakistan, Demitila Okola Opetu dari Kenya, Islam Abdalla Mohamed Ahmed dari Sudan, Bian Abulraheem Motea Alaqab dari Yaman, serta Heba Salah Ahmed Soliman dari Mesir tampil dengan suara emasnya melalui lagu-lagu Indonesia yang mereka nyanyikan penuh penghayatan. Para penonton pun ikut bernyanyi bersama, menciptakan keakraban tanpa sekat budaya maupun bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Cultural diversity<\/em> juga semakin terasa ketika panggung bergoyang dengan tarian penuh energi dari Prince Sheku Tongos Marah (Sierra Leone), Abdulhamid Hilal Kabir (Nigeria), dan Omary Ahmed Mohamed (Tanzania). Tepuk tangan panjang mengiringi aksi mereka yang menularkan semangat dan sukacita.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sesi wawancara, Heba dari Mesir menyampaikan rasa senangnya bisa berpartisipasi.<br>\u201cPerforma ini luar biasa karena aku melihat banyak budaya baru. Ada yang bernyanyi, membaca puisi, menari. Semuanya menarik dan menyenangkan,\u201d ujarnya antusias.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga membagikan pengalaman saat naik ke panggung membawakan lagu.<br>\u201cAwalnya aku tidak siap, tapi teman-teman sangat mendukung. Alhamdulillah aku bisa bernyanyi juga, dan rasanya luar biasa,\u201d ungkapnya dengan senyum lebar.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain penampilan internasional, peserta dari Indonesia seperti Raka dan Ira turut mempersembahkan lagu berbahasa Indonesia yang membuat suasana semakin hangat dan meriah. Kolaborasi spontan antara Umar dan Mufti di atas panggung juga mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penonton.<\/p>\n\n\n\n<p>Serangkaian performa tersebut menjadi bukti bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan perbedaan. Melalui panggung sederhana inilah, para peserta I-YES 2025 menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya untuk dihormati, tetapi juga dirayakan bersama. <strong>(mar)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA \u2014 (29\/10\/2025) Suasana penuh warna dan keberagaman budaya kembali menghiasi rangkaian International Youth Enhance Study (I-YES) 2025 yang digelar Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada hari kedua pelaksanaan, para peserta internasional tampil memukau dalam acara Cultural Diversity Performance yang dipusatkan di depan Gedung Fakultas Humaniora, Selasa (28\/10). Baca juga: Sejak awal, antusiasme [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8367,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-8366","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8366","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8366"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8366\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8369,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8366\/revisions\/8369"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8366"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8366"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8366"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}