{"id":8013,"date":"2025-10-17T01:55:25","date_gmt":"2025-10-17T01:55:25","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=8013"},"modified":"2025-10-17T03:06:14","modified_gmt":"2025-10-17T03:06:14","slug":"sastra-arab-dan-tantangan-modernitas-dr-halimi-dorong-mahasiswa-gali-relevansi-khazanah-intelektual-arab-di-era-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/sastra-arab-dan-tantangan-modernitas-dr-halimi-dorong-mahasiswa-gali-relevansi-khazanah-intelektual-arab-di-era-global\/","title":{"rendered":"Sastra Arab dan Tantangan Modernitas: Dr. Halimi Dorong Mahasiswa Gali Relevansi Khazanah Intelektual Arab di Era Global"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA<\/strong> \u2013 (17\/10\/2025) Sastra Arab tidak sekadar warisan masa lalu, melainkan khazanah intelektual yang terus hidup dan relevan di tengah arus modernitas. Hal itu disampaikan oleh dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Halimi dalam seminar bertajuk \u201cMenggali Khazanah Sastra Arab: Warisan Intelektual, Identitas Budaya, dan Relevansinya di Era Modern\u201d yang diselenggarakan oleh Program Studi BSA UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Rabu, 15 Oktober 2025, di Gedung BEC UIN KHAS Jember.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Read too:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/dosen-humaniora-jadi-visiting-professor-di-unisza-malaysia-bahas-teknologi-digital-untuk-bahasa-arab\/\">Dosen Humaniora Jadi Visiting Professor di UniSZA Malaysia, Bahas Teknologi Digital untuk Bahasa Arab<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/workshop-madina-humaniora-dorong-mahasiswa-kuasai-jurnalistik-kreatif-dan-media-digital\/\">Workshop MADINA: Humaniora Dorong Mahasiswa Kuasai Jurnalistik Kreatif dan Media Digital<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dihadiri lebih dari 200 peserta, yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan jajaran dekanat, seminar ini menjadi ruang akademik yang menggugah kesadaran akan pentingnya menggali nilai-nilai intelektual yang terkandung dalam karya sastra Arab.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"500\" src=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1-1024x500.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8015\" srcset=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1-1024x500.jpeg 1024w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1-300x146.jpeg 300w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1-768x375.jpeg 768w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1-18x9.jpeg 18w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/image-1.jpeg 1274w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam pemaparannya yang berjudul <em>\u201cSastra Arab di Indonesia: Peran dan Relevansinya di Era Modern,\u201d<\/em> Dr. Halimi Zuhdy menelusuri jejak panjang perjalanan sastra Arab di Nusantara. Ia menjelaskan bahwa pengaruh sastra Arab telah masuk ke wilayah kepulauan Indonesia sejak abad ke-13, bersamaan dengan datangnya para ulama dan penyebar Islam. Jejak itu terekam dalam berbagai karya keagamaan, hikayat, dan puisi keislaman yang memperkaya identitas sastra lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSastra Arab bukan hanya warisan estetika, tetapi juga warisan intelektual yang membentuk karakter dan identitas budaya Islam di Nusantara,\u201d ujar Dr. Halimi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga menyoroti tokoh-tokoh ulama dan sastrawan Nusantara yang mahir menulis puisi dalam bahasa Arab, serta bagaimana karya-karya mereka menjadi medium dakwah dan penguatan nilai moral. Menurutnya, relevansi sastra Arab di era digital justru semakin penting karena mampu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan keilmuan di tengah derasnya arus informasi global.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Dr. Halimi mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pembaca pasif, tetapi juga peneliti dan pencipta karya sastra yang kritis dan kontekstual.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau bukan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab yang peduli, siapa lagi? Di era ini, mahasiswa harus aktif membuat kajian, penelitian, dan karya agar sastra Arab terus berkembang dan dikenal luas,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seminar ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik peserta, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya peran sastra Arab dalam membangun dialog lintas budaya dan peradaban. Sastra, menurut para narasumber, menjadi jembatan intelektual yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus ruang refleksi untuk membangun masa depan yang lebih beradab.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kegiatan ini, UIN KHAS Jember berupaya memperkuat posisi studi sastra Arab sebagai salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter akademik dan spiritual mahasiswa, sekaligus memperluas jejaring keilmuan antaruniversitas di bidang humaniora dan kebudayaan Islam<strong>. (unr)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA \u2013 (17\/10\/2025) Sastra Arab tidak sekadar warisan masa lalu, melainkan khazanah intelektual yang terus hidup dan relevan di tengah arus modernitas. Hal itu disampaikan oleh dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Halimi dalam seminar bertajuk \u201cMenggali Khazanah Sastra Arab: Warisan Intelektual, Identitas Budaya, dan Relevansinya di Era Modern\u201d yang diselenggarakan oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8014,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,630],"tags":[],"class_list":["post-8013","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-rekognisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8013"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8013\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8018,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8013\/revisions\/8018"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}