{"id":762,"date":"2015-06-25T10:09:53","date_gmt":"2015-06-25T10:09:53","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=690"},"modified":"2015-06-25T10:09:53","modified_gmt":"2015-06-25T10:09:53","slug":"budaya-nusantara-untuk-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/budaya-nusantara-untuk-dunia\/","title":{"rendered":"Budaya Nusantara untuk Dunia"},"content":{"rendered":"<p>NUSANTARA UNTUK DUNIA: Dari kiri, Zawawi Imron, Halimi Zuhdy, Azhar Ibrahim ketika menyampaikan materi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eksistensi Nusantara yang mempunyai banyak suku di dalamnya bukanlah hanya sebagai slogan semata. Namun, Nusantara merupakan sebuah kebudayaan yang juga bisa diterima di berbagai belahan dunia, bahkan mampu menggemparkan seluruh isi dunia. Hal tersebut sebagimana diungkapkan oleh D. Zawawi Imron dalam Seminar Bahasa dan Budaya &#8220;Islam dan Kebudayaan Nusantara&#8221; di Fakultas Humaniora, (3\/6).<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut sastrawan yang sudah mashur di Indonesia ini, kebudayaan Nusantara bisa eksis di dunia bisa dilihat dari berbagai peran aktif masyarakat nusantara di berbagai organisasi dunia.\u201dNusantara mampu menginspirasi semua orang di dunia, lihat saja mereka yang menjadi orang penting di berbagai negara di dunia,\u201d tegas sastrawan asli Madura ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zawawi Imron juga mengunkapkan bahwasanya, diterimanya orang-orang Nusantara tersebut tidak lain adalah karena mereka mempunyai akhlak-akhlak yang baik yang mereka pelajari di dalam ajaran Islam.\u201dIslam masuk ke nusantara tanpa perlawanan, karena agama Islam mampu menginspirasi kita sebagai orang nusantara menjadi orang-orang yang mudah diterima karena akhlak baik kita,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cOrang Nusantara adalah rahmatan lil alamiin,\u201d papar bapak yang berasal dari Kabupaten Sumenep itu kepada para mahasiswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas, siapakah yang termasuk orang-orang Nusantara, sastrawan yang sudah banyak makan garam ini mengatakan orang nusantara adalah suku-suku yang berada di Indonesia dan sekitarnya, seperti Bugis, Jawa, Melayu, dll.\u201dMeskipun kita berbeda pulau, namun eksistensi pulau itu yang ada di antara benua hindia dan pasifik adalah penyatu kita sebagai orang nusantara,\u201d jelasnya dibarengi dengan tepuk tangan riuh para mahasiswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zawawi Imron juga menghimbau kepada para mahasiswa untuk bisa berperan aktif dalam melestarikan nusantara. Dia mengatakan kepada mahasiswa untuk jangan pernah takut dan keder menjadi orang nusantra,\u201dJika kalian bentengi diri kalian dengan akhlak yang baik, nusantara juga akan bisa mengaung di belahan dunia,\u201d jelas sastrawan kelahiran 1 Januari 1945 ini. (rif)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NUSANTARA UNTUK DUNIA: Dari kiri, Zawawi Imron, Halimi Zuhdy, Azhar Ibrahim ketika menyampaikan materi. Eksistensi Nusantara yang mempunyai banyak suku di dalamnya bukanlah hanya sebagai slogan semata. Namun, Nusantara merupakan sebuah kebudayaan yang juga bisa diterima di berbagai belahan dunia, bahkan mampu menggemparkan seluruh isi dunia. Hal tersebut sebagimana diungkapkan oleh D. Zawawi Imron dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-762","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=762"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/762\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}