{"id":7547,"date":"2025-09-23T01:17:12","date_gmt":"2025-09-23T01:17:12","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=7547"},"modified":"2025-09-23T01:28:20","modified_gmt":"2025-09-23T01:28:20","slug":"literasi-digital-sebagai-jalan-kemanusiaan-dan-solidaritas-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/literasi-digital-sebagai-jalan-kemanusiaan-dan-solidaritas-global\/","title":{"rendered":"Literasi Digital sebagai Jalan Kemanusiaan dan Solidaritas Global"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA<\/strong> \u2013 (23\/9\/2025) Pentingnya memahami literasi digital tidak hanya sebatas keterampilan teknis, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga nilai kemanusiaan, memperkuat demokrasi, dan membangun solidaritas global, menjadi pesan utama dalam kuliah eksklusif yang disampaikan oleh Prof. Azhar di hadapan mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Read too:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/pakar-internasional-datang-ke-humaniora-berikan-kuliah-eksklusif\/\">Pakar Internasional Datang ke Humaniora, Berikan Kuliah Eksklusif<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/komunikasi-kunci-harmoni-sosial-dan-transformasi-masyarakat\/\">Komunikasi Kunci Harmoni Sosial dan Transformasi Masyarakat<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kuliah bertajuk <em>\u201cDigital Literacy for Humanity, Democracy and Global Solidarity: The Role of Liberative Education\u201d<\/em>, Prof. Azhar menegaskan bahwa euforia kemajuan teknologi digital kerap membuat masyarakat terjebak dalam anggapan bahwa penguasaan teknologi adalah ukuran mutlak kemajuan. Padahal, menurutnya, teknologi bukanlah instrumen yang netral, melainkan bisa dimanfaatkan untuk membentuk pola pikir, menciptakan mitos modern, hingga melanggengkan dominasi kapitalisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan perlunya liberative education atau pendidikan yang membebaskan, yang tidak sekadar menjadikan mahasiswa sebagai konsumen teknologi, tetapi sebagai subjek yang kritis, produktif, dan emansipatif. \u201cPendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi teknologi. Teknologi hanyalah alat, sementara pendidikan harus berfungsi untuk membentuk kesadaran, membebaskan, serta memperjuangkan nilai kemanusiaan,\u201d tegas Prof. Azhar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam paparannya, Prof. Azhar juga menyinggung pentingnya pendekatan kritis terhadap literasi digital, yang mampu menghubungkan pemanfaatan teknologi dengan isu-isu keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, hingga penegakan demokrasi. Ia menambahkan, mahasiswa perlu menempatkan diri sebagai agen perubahan yang mampu menjadikan teknologi sebagai sarana solidaritas, bukan sekadar instrumen pasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kuliah eksklusif ini berlangsung interaktif, dengan mahasiswa Humaniora antusias mengikuti dan menanggapi gagasan yang disampaikan. Melalui forum tersebut, Prof. Azhar mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kesadaran kritis, mengasah kemampuan reflektif, sekaligus memperkuat komitmen etis dalam menghadapi tantangan global era digital. <strong>(al)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA \u2013 (23\/9\/2025) Pentingnya memahami literasi digital tidak hanya sebatas keterampilan teknis, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga nilai kemanusiaan, memperkuat demokrasi, dan membangun solidaritas global, menjadi pesan utama dalam kuliah eksklusif yang disampaikan oleh Prof. Azhar di hadapan mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Baca juga: Dalam kuliah bertajuk \u201cDigital Literacy for [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7548,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-7547","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7547","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7547"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7547\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7554,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7547\/revisions\/7554"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7548"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7547"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7547"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7547"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}