{"id":7412,"date":"2025-09-19T01:51:25","date_gmt":"2025-09-19T01:51:25","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=7412"},"modified":"2025-09-19T01:52:26","modified_gmt":"2025-09-19T01:52:26","slug":"indonesia-pusat-keragaman-etnolinguistik-dunia-yang-perlu-dijaga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/indonesia-pusat-keragaman-etnolinguistik-dunia-yang-perlu-dijaga\/","title":{"rendered":"Indonesia, Pusat Keragaman Etnolinguistik Dunia yang Perlu Dijaga"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA <\/strong>\u2013 (19\/9\/2025)&nbsp; Indonesia dinilai sebagai salah satu negara dengan tingkat keragaman etnolinguistik tertinggi di dunia. Bahasa dan budaya tradisional yang masih hidup di berbagai daerah Nusantara bukan hanya warisan bangsa, melainkan juga aset berharga bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Read too:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/187ef454\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/dr-mark-w-post-dokumentasi-bahasa-dan-budaya-lokal-kunci-memahami-peradaban-manusia\/\">Dr. Mark W. Post: Dokumentasi Bahasa dan Budaya Lokal Kunci Memahami Peradaban Manusia<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/187ef454\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/etnolinguistik-ungkap-hubungan-erat-bahasa-dan-budaya-dalam-membentuk-identitas-manusia\/\">Etnolinguistik Ungkap Hubungan Erat Bahasa dan Budaya dalam Membentuk Identitas Manusia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini disampaikan dalam forum internasional <em>International Scholar\u2019s Engagement<\/em> di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (18\/9\/2025), yang menghadirkan pakar linguistik dunia, Dr. Mark W. Post dari <em>The University of Sydney<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, bahasa dan budaya tradisional Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius: kurang terdokumentasi, mengalami perubahan pesat, bahkan sebagian terancam punah. Padahal, warisan etnolinguistik ini menyimpan pengetahuan luas yang sangat berharga, mulai dari kearifan ekologi, filosofi hidup, hingga sistem sosial yang unik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBahasa dan budaya tradisional yang tersisa di dunia, termasuk di Indonesia, memiliki nilai yang sangat penting. Bukan hanya bagi masyarakat penuturnya, tetapi juga bagi ilmu pengetahuan seperti psikologi, antropologi, arkeologi, sejarah, dan linguistik,\u201d tegas Dr. Post.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, penelitian etnolinguistik di komunitas tradisional dapat membantu mendokumentasikan serta melestarikan pengetahuan yang mereka miliki. Proses ini tidak hanya bermanfaat bagi keberlangsungan komunitas itu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan kolektif umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan yang diangkat dalam forum tersebut menegaskan: Indonesia adalah salah satu negara terkaya dan terpenting di Asia dari perspektif etnolinguistik. Oleh karena itu, seluruh pihak\u2014akademisi, komunitas lokal, hingga pemerintah\u2014perlu berperan aktif dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan menunjukkan signifikansi keanekaragaman ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKeanekaragaman etnolinguistik Indonesia adalah harta karun peradaban. Jika kita tidak menjaganya, kita akan kehilangan salah satu warisan terbesar umat manusia. Pelestarian ini penting demi kepentingan generasi mendatang,\u201d pungkasnya. <strong>(al)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA \u2013 (19\/9\/2025)&nbsp; Indonesia dinilai sebagai salah satu negara dengan tingkat keragaman etnolinguistik tertinggi di dunia. Bahasa dan budaya tradisional yang masih hidup di berbagai daerah Nusantara bukan hanya warisan bangsa, melainkan juga aset berharga bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Baca juga: Hal ini disampaikan dalam forum internasional International Scholar\u2019s Engagement di Fakultas Humaniora [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7414,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-7412","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7412"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7415,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7412\/revisions\/7415"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7414"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}