{"id":7392,"date":"2025-09-18T04:56:50","date_gmt":"2025-09-18T04:56:50","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=7392"},"modified":"2025-09-18T04:57:40","modified_gmt":"2025-09-18T04:57:40","slug":"dr-mark-w-post-dokumentasi-bahasa-dan-budaya-lokal-kunci-memahami-peradaban-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/dr-mark-w-post-dokumentasi-bahasa-dan-budaya-lokal-kunci-memahami-peradaban-manusia\/","title":{"rendered":"Dr. Mark W. Post: Dokumentasi Bahasa dan Budaya Lokal Kunci Memahami Peradaban Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA <\/strong>\u2013 (18\/9\/2025) &nbsp;Dokumentasi bahasa dan budaya bukan hanya tugas akademisi, tetapi juga tanggung jawab kolektif umat manusia. Pesan ini ditegaskan oleh pakar linguistik internasional, Dr. Mark W. Post dari <em>The University of Sydney<\/em>, dalam kuliah umum internasional <em>\u201cEthnolinguistics and Its Significance: From the Himalayas to Indonesia\u201d<\/em> yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (18\/9\/2025).<\/p>\n\n\n\n<p>Read too:<br><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/etnolinguistik-ungkap-hubungan-erat-bahasa-dan-budaya-dalam-membentuk-identitas-manusia\/\">Etnolinguistik Ungkap Hubungan Erat Bahasa dan Budaya dalam Membentuk Identitas Manusia<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/buka-international-scholar-engagement-wd-ii-humaniora-tekankan-urgensi-kajian-ethnolinguistics\/\">Buka International Scholar Engagement, WD II Humaniora Tekankan Urgensi Kajian Ethnolinguistics<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dr. Post mengingatkan bahwa meskipun masyarakat modern kerap dianggap lebih \u201ckompleks\u201d, pengetahuan masyarakat tradisional justru sering kali jauh lebih mendalam. Ia mencontohkan nelayan Palauan yang mengenali lebih dari 300 spesies ikan beserta ekologi terkaitnya, atau suku Dyirbal di Queensland, Australia, yang hingga abad ke-20 mampu menamai lebih dari 600 jenis tumbuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJika pengetahuan tradisional ini tidak didokumentasikan bersama bahasa yang menyertainya, kita berisiko kehilangan warisan intelektual umat manusia,\u201d ungkap Dr. Post.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan bahwa dokumentasi keragaman linguistik dan budaya sangat mendesak dilakukan. Upaya ini tidak hanya dapat dilakukan oleh linguis atau antropolog dari universitas besar, tetapi juga harus melibatkan anggota komunitas setempat. Mereka, menurutnya, adalah pemilik pengetahuan yang paling otentik sekaligus penjaga warisan budaya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKomunitas lokal bisa dilatih untuk menjadi mitra aktif dalam proses dokumentasi. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat hasil riset, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar menjadi subjek, bukan sekadar objek penelitian,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan ini menjadi penegasan langkah Fakultas Humaniora UIN Malang dalam mendorong internasionalisasi akademik sekaligus memperkuat literasi global mahasiswanya. Dengan menghadirkan pakar berkelas dunia, fakultas ini berkomitmen menjadikan kampus sebagai pusat kajian bahasa dan budaya yang tidak hanya unggul di tingkat nasional, tetapi juga berdaya saing global. <strong>(al)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA \u2013 (18\/9\/2025) &nbsp;Dokumentasi bahasa dan budaya bukan hanya tugas akademisi, tetapi juga tanggung jawab kolektif umat manusia. Pesan ini ditegaskan oleh pakar linguistik internasional, Dr. Mark W. Post dari The University of Sydney, dalam kuliah umum internasional \u201cEthnolinguistics and Its Significance: From the Himalayas to Indonesia\u201d yang diselenggarakan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7394,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-7392","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7392","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7392"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7392\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7396,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7392\/revisions\/7396"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7394"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7392"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7392"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7392"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}