{"id":498,"date":"2013-04-23T03:36:38","date_gmt":"2013-04-23T03:36:38","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=473"},"modified":"2013-04-23T03:36:38","modified_gmt":"2013-04-23T03:36:38","slug":"pentingnya-discourse-untuk-penelitian-lingusitik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/pentingnya-discourse-untuk-penelitian-lingusitik\/","title":{"rendered":"Pentingnya Discourse untuk Penelitian Lingusitik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Hudaya<\/strong>\u00a0&#8211; Untuk menjadi peneliti linguistik, salah astu hal yang harus dilakukan adalah mendalami pengetahuan tentang\u00a0<em>Discourse<\/em>. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Djatmika dalam Seminar Linguistik bertajuk \u201cKompetisi Wacana bagi Pembelajar\/Pengkaji Bahasa\u201d bahwa\u00a0<em>discourse<\/em>\u00a0merupakan hal terpenting yang harus dipahami oleh peneliti untuk melakukan penelitian linguistik.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam seminar yang dilaksanakan oleh jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini, Prof. Djatmika menjelaskan secara panjang lebar tentang penggunaan\u00a0<em>discourse<\/em>. Hal yang paling menarik adalah, hampir semua kebahasaan menurutnya, mengandung\u00a0<em>discorse<\/em>. \u201d<em>Discourse<\/em>\u00a0tidak hanya digunakan dalam bahasa Inggris saja, tapi bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, juga punya,\u201d jelas dosen Universitas Negeri Solo ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia juga menjelaskan beberapa contoh\u00a0<em>discourse<\/em>\u00a0yang biasa dilakukan, baik\u00a0<em>British English<\/em>,\u00a0<em>American English<\/em>, ataupun\u00a0<em>Australian English<\/em>. Tak hanya itu, bahasa Jawa pun juga dibahas, khususnya dalam beberapa pamflet ataupun papan-papan pengumuman. \u201dMeskipun hanya mengandung sedikit\u00a0<em>discourse<\/em>, tapi jika dikuasai akan sangat membantu,\u201d ujar dosen kelahiran Solo ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak hanya\u00a0<em>discourse<\/em>, Prof. Djatmika juga membahas tentang penggunaan\u00a0<em>Critical Discourse Analysis<\/em>. Menurutnya, ilmu tersebut bisa digunakan untuk menganalisis wacana, khususnya dalam bidang politik, ataupun pernyataan orang-orang yang mempunyai kekuasaan. \u201dCDA digunakan untuk menganalisis penggunaan bahasa sebagai power,\u201d terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para peserta yang memadati Home Theatre pun bersorak riah kala mendengarkan materi yang disampaikan. Terlebih ketika Prof. Djatmika mengungkapkan bahwa Bahasa Jawa lebih kaya dari pada bahasa Inggris. Menurutnya, Jawa mempunyai banyak kosa kata, khususnya dalam penggunaan bahasa yang menurut bahasa Jawa tabu. \u201dUntuk\u00a0<em>misuh<\/em>, orang Inggris hanya punya beberapa, tapi kalau bahasa Jawa hampir semua kata bisa digunakan,\u201d ungkapnya dibarengi dengan gelak tawa para mahasiswa yang kebanyakan dari semester empat dan enam.(rif)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hudaya\u00a0&#8211; Untuk menjadi peneliti linguistik, salah astu hal yang harus dilakukan adalah mendalami pengetahuan tentang\u00a0Discourse. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Djatmika dalam Seminar Linguistik bertajuk \u201cKompetisi Wacana bagi Pembelajar\/Pengkaji Bahasa\u201d bahwa\u00a0discourse\u00a0merupakan hal terpenting yang harus dipahami oleh peneliti untuk melakukan penelitian linguistik.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-498","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/498\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}