{"id":350,"date":"2012-04-03T05:55:52","date_gmt":"2012-04-03T05:55:52","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=350"},"modified":"2012-04-03T05:55:52","modified_gmt":"2012-04-03T05:55:52","slug":"proposal-harus-visible-dan-spesifik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/proposal-harus-visible-dan-spesifik\/","title":{"rendered":"Proposal Harus Visible dan Spesifik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Pelaksanaan seminar proposal fakultas Humaniora dan Budaya (Hudaya) tahap kedua telah dimulai kemarin (2\/3). Seminar yang bertempat di lantai satu dan dua ini berlangsung tegang. Pasalnya, bukan hanya dosen yang memberikan\u00a0<em>feed back\u00a0<\/em>kepada presenter, para audiens pun juga ikut andil untuk memberikan\u00a0<em>feed back\u00a0<\/em>ataupun pertanyaan setelah presenter menjelaskan proposalnya.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti seminar yang terlihat di Home Theatre, para audiens pun saling beradu argumen dengan presenter. Hal tersebut terjadi karena menurut para audiens, para presenter masih kurang jelas dalam mempresentasikan proposalnya. Menurut Dr. H. Langgeng Budianto, M. Pd, proposal yang akan dipresentasikan harus menarik, baik bagi peneliti sendiri ataupun para audiens. \u201dSebuah penelitian seharusnya bisa i<em>nteresting, visible,\u00a0<\/em>serta\u00a0<em>specific<\/em>,\u201d jelas dosen jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, dosen yang juga menjabat sebagai koordinator PKPBI ini menyarankan kepada para mahasiswa yang akan melakukan penelitian untuk tidak hanya memilih topik yang menarik, tapi juga harus bisa menyelesaikan masalah yang diangkat dari penelitian mereka.\u00a0<em>\u201dResearcher should know the way how to overcome the problem,\u201d\u00a0<\/em>tambah dosen mata kuliah speaking ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-349\" src=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2012\/04\/seminarproposal123-1c8.jpg\" border=\"0\" width=\"640\" height=\"244\" srcset=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2012\/04\/seminarproposal123-1c8.jpg 640w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2012\/04\/seminarproposal123-1c8-300x114.jpg 300w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2012\/04\/seminarproposal123-1c8-18x7.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan hanya Langgeng saja yang memberikan saran kepada para preseter, Dr. Kun Aniroh, SST. Par. MM. M. Pd juga memberikan saran terhadap hal-hal yang harus dilakukan oleh para presenter ketika membuat proposal. Menurut dosen BSI ini, para mahasiswa harus bisa mengelaborasi kalimatnya, khususnya dalam pembuatan latar belakang. \u201dKetika sudah melihat\u00a0<em>previous study<\/em>, proposal kalian harus beda dengan penelitian tersebut.\u201d papar dosen mata kuliah Guiding ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meinarni Susilowatipun juga tidak kalah untuk memberikan saran kepada para presenter. Dosen yang akarab dipanggil Bu Mei ini menjelaskan kepada para presenter untuk tidak membuat celah dalam mempresentasikan proposalnya, khususnya dalam mendeskripsikan data. \u201dCaranya adalah, harus bisa menjawab\u00a0<em>basic question\u00a0<\/em>dalam\u00a0<em>research\u00a0<\/em>yaitu\u00a0<em>Why,<\/em>\u201d jelas dosen yang mempunyai hobi berkebun ini. (rif)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pelaksanaan seminar proposal fakultas Humaniora dan Budaya (Hudaya) tahap kedua telah dimulai kemarin (2\/3). Seminar yang bertempat di lantai satu dan dua ini berlangsung tegang. Pasalnya, bukan hanya dosen yang memberikan\u00a0feed back\u00a0kepada presenter, para audiens pun juga ikut andil untuk memberikan\u00a0feed back\u00a0ataupun pertanyaan setelah presenter menjelaskan proposalnya.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":349,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-350","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/349"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}