{"id":2799,"date":"2025-03-06T00:35:25","date_gmt":"2025-03-06T00:35:25","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=2608"},"modified":"2025-03-06T00:35:25","modified_gmt":"2025-03-06T00:35:25","slug":"perbedaan-shouman-dan-shiyaman-dalam-puasa-makna-dan-implementasinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/artikel\/perbedaan-shouman-dan-shiyaman-dalam-puasa-makna-dan-implementasinya\/","title":{"rendered":"Perbedaan Shouman dan Shiyaman dalam Puasa: Makna dan Implementasinya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>HUMANIORA<\/strong> (6\/3\/2025) \u2013 Ketika berbicara tentang puasa, sebagian besar umat Islam mungkin hanya mengenal istilah <em>Shiyam<\/em> sebagai rujukan. Namun, dalam kajian bahasa Arab, ternyata ada dua istilah yang memiliki perbedaan makna mendalam: <em>Shouman<\/em> dan <em>Shiyaman<\/em>. Topik ini menjadi sorotan utama dalam podcast bersama Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa dan sastra Arab dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang\u200b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Shouman vs. Shiyaman: Apa Bedanya?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Ustadz Halimi, meskipun kedua istilah ini memiliki akar kata yang sama, yaitu <em>Sha-wa-ma<\/em> (\u0635-\u0648-\u0645), terdapat perbedaan makna yang cukup signifikan.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Shouman (<\/strong><strong>\u0635\u064e\u0648\u0652\u0645\u064b\u0627)<\/strong><br \/> <em>Shouman<\/em> lebih merujuk pada aspek fisik dari puasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan seperti makan, minum, dan hubungan suami istri. Istilah ini digunakan dalam Al-Qur&#8217;an pada QS. Maryam ayat 26 ketika Sayyidah Maryam berkata bahwa ia bernazar untuk berpuasa (tidak berbicara). Ini menunjukkan bahwa <em>Shouman<\/em> memiliki fokus pada penahanan diri secara fisik\u200b.<\/li>\n<li><strong>Shiyaman (<\/strong><strong>\u0635\u0650\u064a\u064e\u0627\u0645\u064b\u0627)<\/strong><br \/> Sementara itu, <em>Shiyaman<\/em> memiliki makna yang lebih luas. Selain mencakup menahan diri dari makan dan minum, istilah ini juga meliputi pengekangan dari perkataan dan perbuatan tercela. Al-Qur&#8217;an menggunakan kata ini pada QS. Al-Baqarah ayat 183 untuk menunjukkan kewajiban puasa bagi umat Islam. Dengan demikian, <em>Shiyaman<\/em> bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga sikap dan tutur kata\u200b.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Makna Filosofis di Balik Shouman dan Shiyaman<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan ini memiliki makna filosofis yang dalam. <em>Shouman<\/em> menggambarkan pengendalian diri pada aspek fisik, sementara <em>Shiyaman<\/em> mencerminkan pengendalian diri secara holistik, baik fisik maupun spiritual. Ustadz Halimi menjelaskan bahwa memahami perbedaan ini penting agar umat Islam tidak hanya berfokus pada aspek lahiriah dari puasa, tetapi juga aspek batiniah yang memperkuat hubungan dengan Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari penjelasan Ustadz Halimi, terlihat bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik tetapi juga latihan spiritual. Perbedaan antara <em>Shouman<\/em> dan <em>Shiyaman<\/em> mengingatkan kita untuk menjadikan puasa sebagai momen memperbaiki diri secara menyeluruh. Dengan memahami kedua istilah ini, diharapkan umat Islam dapat menjalani puasa Ramadhan dengan lebih bermakna dan berkualitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga penjelasan ini bisa memperkaya wawasan kita tentang puasa dan membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik di bulan suci Ramadhan. <strong>[mum\/alv]<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA (6\/3\/2025) \u2013 Ketika berbicara tentang puasa, sebagian besar umat Islam mungkin hanya mengenal istilah Shiyam sebagai rujukan. Namun, dalam kajian bahasa Arab, ternyata ada dua istilah yang memiliki perbedaan makna mendalam: Shouman dan Shiyaman. Topik ini menjadi sorotan utama dalam podcast bersama Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa dan sastra Arab dari UIN [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[517],"tags":[40,29,76,467],"class_list":["post-2799","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-humaniora","tag-internasional","tag-juara","tag-uinmalang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2799","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2799"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2799\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2799"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2799"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2799"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}