{"id":2798,"date":"2025-03-06T00:34:45","date_gmt":"2025-03-06T00:34:45","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=2607"},"modified":"2025-03-06T00:34:45","modified_gmt":"2025-03-06T00:34:45","slug":"membedah-lafal-niat-puasa-ramadhan-antara-ramadhana-dan-ramadhani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/artikel\/membedah-lafal-niat-puasa-ramadhan-antara-ramadhana-dan-ramadhani\/","title":{"rendered":"Membedah Lafal Niat Puasa Ramadhan: Antara Ramadhana dan Ramadhani"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>HUMANIORA<\/strong> (6\/3\/2025) \u2013 Di bulan Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Salah satu amalan yang tak terpisahkan adalah berpuasa, yang harus diawali dengan niat. Namun, ada perbedaan dalam melafalkan niat puasa, terutama pada kata <em>Ramadhan<\/em>. Perbedaan ini menjadi topik menarik dalam sebuah podcast yang menghadirkan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa dan sastra Arab dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang\u200b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ramadhana vs. Ramadhani: Mana yang Benar?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Ustadz Halimi, secara hukum, kedua lafal <em>Ramadhana<\/em> (dengan fathah) dan <em>Ramadhani<\/em> (dengan kasrah) sama-sama sah. Namun, jika dilihat dari segi kaidah nahwu, <em>Ramadhani<\/em> dianggap lebih tepat karena mengikuti aturan i\u2019rab pada <em>Isim Ghairu Munshorif<\/em>. Lafal ini seharusnya dibaca kasrah saat disandarkan (di-idhofahkan) atau didahului <em>alif-lam<\/em>. Sebaliknya, jika tidak disandarkan, maka lafalnya menggunakan fathah menjadi <em>Ramadhana<\/em>\u200b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal penting lainnya adalah konsistensi dalam melafalkan niat. Jika menggunakan <em>Ramadhana<\/em> (fathah), maka lafaz <em>Hadzihis Sanah<\/em> juga harus dibaca fathah menjadi <em>Hadzihis Sanata<\/em>. Sedangkan jika menggunakan <em>Ramadhani<\/em> (kasrah), maka harus konsisten dengan membaca <em>Hadzihis Sanati<\/em>. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah menggabungkan dua harakat berbeda, misalnya melafalkan <em>Ramadhana<\/em> tetapi mengkasrohkan <em>Hadzihis Sanati<\/em>. Hal ini, meskipun tidak membatalkan puasa, sebaiknya diperbaiki agar sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar\u200b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Niat: Diucapkan atau Cukup di Dalam Hati?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam masyarakat, muncul perbedaan pendapat tentang apakah niat harus diucapkan atau cukup di dalam hati. Merujuk pada pandangan Imam Syafi\u2019i, Ustadz Halimi menjelaskan bahwa yang terpenting adalah niat dalam hati, sedangkan melafalkannya tidak wajib secara hukum. Ini sejalan dengan pemahaman mayoritas masyarakat Indonesia yang mengikuti Mazhab Syafi\u2019i\u200b.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan dalam melafalkan niat tidak membatalkan puasa selama niat itu hadir dalam hati. Yang terpenting adalah memahami esensi niat sebagai bentuk ketulusan dan kesungguhan dalam beribadah. Podcast ini memberikan wawasan baru bagi umat Islam, khususnya mahasiswa, untuk memperdalam ilmu agama dan memahami bahasa Arab dengan lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui pembahasan ini, kita diingatkan bahwa beribadah bukan hanya tentang melafalkan teks dengan benar, tetapi juga memahami dan menghayati maknanya. Semoga Ramadhan kali ini membawa berkah dan meningkatkan ketakwaan kita. <strong>[mum\/alv]<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA (6\/3\/2025) \u2013 Di bulan Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Salah satu amalan yang tak terpisahkan adalah berpuasa, yang harus diawali dengan niat. Namun, ada perbedaan dalam melafalkan niat puasa, terutama pada kata Ramadhan. Perbedaan ini menjadi topik menarik dalam sebuah podcast yang menghadirkan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[517],"tags":[40,29,76,467],"class_list":["post-2798","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-humaniora","tag-internasional","tag-juara","tag-uinmalang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2798"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2798\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}