{"id":19716,"date":"2026-09-15T15:30:00","date_gmt":"2026-09-15T08:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=19716"},"modified":"2026-09-15T14:08:15","modified_gmt":"2026-09-15T07:08:15","slug":"perjalanan-tak-terlupakan-jejak-kenangan-di-rungrote-wittaya-school","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/perjalanan-tak-terlupakan-jejak-kenangan-di-rungrote-wittaya-school\/","title":{"rendered":"Perjalanan Tak Terlupakan: Jejak Kenangan di Rungrote Wittaya School"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman terbaik dalam hidup saya selama di Thailand terukir indah di dalam sanubari, semuanya terjadi di Rungrote Wittaya School (RWS). Ada begitu banyak kenangan berharga, tawa, dan tantangan yang membentuk diri saya, hingga mustahil rasanya untuk merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Setiap momen\u2014dari yang canggung hingga yang paling mengharukan\u2014terasa begitu hidup. Saya berharap suatu saat nanti dapat mengumpulkan seluruh kenangan ini menjadi sebuah buku, sebagai monumen kata dari perjalanan luar biasa ini. Bukan hanya tentang pengalaman pribadi, tetapi juga tentang hubungan, pembelajaran, dan proses tumbuh yang saya alami di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/mengapa-bahasa-dan-sastra-tetap-penting-di-tengah-perkembangan-teknologi\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Mengapa Bahasa dan Sastra Tetap Penting di Tengah Perkembangan Teknologi?<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/maulid-nabi-humaniora-rawat-integritas-dan-kebersamaan-sivitas-akademika\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Maulid Nabi, Humaniora Rawat Integritas dan Kebersamaan Sivitas Akademika<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu, saya langsung dihadapkan pada ribuan pasang mata siswa dan guru. Perasaan canggung dan malu merayap dalam diri, seolah saya berada di panggung besar yang sama sekali asing. Kendala bahasa menjadi tantangan utama, karena hanya sedikit dari mereka yang menguasai bahasa asing seperti Inggris atau Arab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, takdir mempertemukan kami dengan solusi yang hangat: Khruu Anuwat Sohwang, guru pamong sekaligus penerjemah kami. Beliau fasih berbahasa Indonesia karena pernah menimba ilmu di Indonesia. Sapaan \u201cKhruu\u201d terasa seperti jembatan yang menghubungkan hati kami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya membuka percakapan sederhana, \u201cPanas, ya?\u201d<br>Dan tawa riang para siswa langsung memecah kecanggungan itu. Suasana yang awalnya kaku berubah menjadi hangat dan penuh keakraban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah perkenalan itu, kami segera berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk menyusun rencana kerja.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Misi Mengajar Penuh Tantangan dan Inspirasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam rapat bersama, saya menyampaikan kemampuan yang saya miliki, terutama di bidang public speaking dan kepenulisan. Berbekal ilmu dari kampus, saya mengusulkan berbagai program seperti pelatihan pidato berbahasa Arab dan Melayu, seminar kepenulisan, serta pelatihan speaking bahasa Inggris dan Melayu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan dukungan penuh dari Ustadzah Hayati, guru pendamping saya, saya diberikan keleluasaan untuk menjalankan program tersebut. Meski jadwal mengajar cukup padat, saya justru merasa bersyukur karena setiap sesi menjadi ruang untuk merealisasikan rencana yang telah saya siapkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di kelas, saya tidak hanya mengajar materi, tetapi juga memperkenalkan Indonesia, <a href=\"https:\/\/uin-malang.ac.id\/id\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">UIN Malang<\/mark><\/a>, dan <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Fakultas Humaniora<\/mark><\/a>. Awalnya bahasa menjadi penghalang, namun ketika saya menggunakan bahasa Melayu, respons mereka mulai terlihat. Ustadzah Hayati yang menguasai Arab, Melayu, dan Thai membantu menerjemahkan setiap pesan agar tersampaikan dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika fasilitas seperti proyektor tidak berfungsi, saya dan beliau berinisiatif membuat media pembelajaran sederhana menggunakan kertas besar berisi teks dan kosakata. Dari situ saya belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan ruang untuk berinovasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Inovasi Pembelajaran yang Melahirkan Karya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik: cara berdiri, gestur tangan, ekspresi wajah, dan intonasi dalam berpidato. Siswa-siswa mengikuti dengan antusias.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelatihan kemudian saya lanjutkan ke sesi khusus yang dibagi antara siswa dan siswi agar mereka lebih nyaman. Meski awalnya masih ada rasa takut, kehadiran Amjad\u2014siswa yang fasih berbahasa Arab\u2014menjadi penghubung penting dalam proses pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program menulis yang awalnya berupa pelatihan puisi saya ubah menjadi seminar esai personal karena keterbatasan waktu. Saya meminta mereka menuliskan kisah hidup, perjuangan orang tua, dan pesan untuk masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengumpulan tugas dilakukan melalui Instagram, yang menjadi tantangan tersendiri karena mereka belum terbiasa menggunakan Word. Dengan sabar, saya menyalin satu per satu tulisan tersebut hingga terkumpul 81 esai dari para siswi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulisan-tulisan itu kemudian saya satukan, sunting, dan saya jadikan sebuah buku antologi sederhana. Meskipun bukan terbitan resmi, buku itu menjadi bukti bahwa setiap kisah mereka berharga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Perpisahan yang Menorehkan Jejak di Hati<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Buku antologi tersebut saya persembahkan pada acara perpisahan. Malam sebelumnya, saat membaca ulang tulisan mereka, saya terharu. Banyak di antara mereka menuliskan kesan mendalam yang membuat saya tak kuasa menahan air mata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada hari perpisahan, di hadapan guru dan ribuan siswa, tangis saya akhirnya pecah. Beberapa siswa juga menangis. Dalam momen itu, saya menyadari bahwa hubungan yang terjalin singkat dapat meninggalkan jejak yang sangat dalam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung perjalanan ini: orang tua, dosen <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Fakultas Humaniora UIN Malang<\/mark><\/a>, khususnya Ustadz Faisol, Ustadz Basid, Ustadz Rido, dan Ustadzah Peni, serta seluruh pihak yang terlibat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pembelajaran yang Tidak Tertulis di Kelas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum berangkat, saya membayangkan semua akan berjalan sesuai rencana. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda. Kendala bahasa menjadi tantangan terbesar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di titik itu saya belajar bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada kata-kata. Senyum, gestur, dan ketulusan sering kali lebih bermakna daripada bahasa yang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu momen paling berkesan adalah saat mengajarkan motivasi belajar. Saya bercerita tentang perjuangan sebagai mahasiswa di <a href=\"https:\/\/uin-malang.ac.id\/id\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">UIN Malang<\/mark><\/a>. Dari situ, saya melihat mata siswa berbinar\u2014mereka merasa terhubung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada pula momen ketika seorang siswi bernama Fatima yang awalnya sangat pemalu akhirnya berani menyampaikan pidato. Tangis bahagianya setelah berhasil berbicara menjadi bukti nyata perkembangan dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pulang ke Indonesia dengan hati yang penuh. Penuh kenangan, pelajaran, dan rasa syukur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rungrote Wittaya School bukan sekadar tempat pengabdian, tetapi ruang transformasi diri. Saya belajar tentang empati, ketulusan, kesabaran, dan makna pengaruh yang tidak diukur oleh waktu, tetapi oleh kedalaman hubungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun untuk terus berbagi ilmu dan kebaikan, karena dampaknya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.<strong> [Muhammad Nur]<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalaman terbaik dalam hidup saya selama di Thailand terukir indah di dalam sanubari, semuanya terjadi di Rungrote Wittaya School (RWS). Ada begitu banyak kenangan berharga, tawa, dan tantangan yang membentuk diri saya, hingga mustahil rasanya untuk merangkumnya dalam satu tulisan singkat. Setiap momen\u2014dari yang canggung hingga yang paling mengharukan\u2014terasa begitu hidup. Saya berharap suatu saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":19717,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[13,642,640],"tags":[],"class_list":["post-19716","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-i-smash","category-program-international"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19716","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19716"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19720,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19716\/revisions\/19720"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}