{"id":19509,"date":"2026-09-10T07:45:00","date_gmt":"2026-09-10T00:45:00","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=19509"},"modified":"2026-09-09T15:44:20","modified_gmt":"2026-09-09T08:44:20","slug":"perjalanan-tak-terduga-menuju-thailand-bersama-i-smash","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/perjalanan-tak-terduga-menuju-thailand-bersama-i-smash\/","title":{"rendered":"Perjalanan Tak Terduga Menuju Thailand Bersama I-SMASH"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>HUMANIORA &#8211; (10\/9\/2026) <\/strong>Halo teman-teman, perkenalkan, namaku Khoirunnisa, mahasiswi <a href=\"https:\/\/uin-malang.ac.id\/id\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">UIN Maulana Malik Ibrahim Malang<\/mark><\/a> dari <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/bsa\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Program Studi Bahasa dan Sastra Arab<\/mark><\/a>. Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi pengalaman tentang sebuah perjalanan yang tidak pernah benar-benar kurencanakan, tetapi justru menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Sebuah perjalanan jauh ke luar negeri, tepatnya ke Thailand, dalam rangka melaksanakan amanah dan tanggung jawab akademik melalui program <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/i-smash\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">I-SMASH<\/mark><\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/mengapa-memilih-prodi-sastra-inggris\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Mengapa Memilih Prodi Sastra Inggris?<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/dari-ruang-kuliah-menuju-perspektif-global-sastra-inggris-perkuat-atmosfer-internasional\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Dari Ruang Kuliah Menuju Perspektif Global, Sastra Inggris Perkuat Atmosfer Internasional<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi mahasiswa <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Fakultas Humaniora<\/mark><\/a>, program <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/i-smash\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">International Student Mobility and Sharing (I-SMASH)<\/mark><\/a> menjadi salah satu bentuk kegiatan internasional yang juga diakui sebagai pengganti Praktik Kerja Lapangan (PKL). Saat pertama kali mendengar penjelasan dari Bapak Dekan <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Fakultas Humaniora<\/mark><\/a> bahwa mengikuti <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/i-smash\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">I-SMASH<\/mark><\/a> berarti PKL kami dianggap terlaksana, aku mulai melihat program ini sebagai kesempatan besar\u2014bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk menguji keberanian diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal pertama yang ingin kusampaikan adalah rasa terima kasih kepada diriku sendiri karena telah berani mengambil langkah ini. Jujur, sebelumnya aku sama sekali tidak menyangka akan ikut, apalagi sampai benar-benar berangkat ke luar negeri. Namun, begitulah takdir Allah, sering kali datang dengan cara yang tak terduga dan jauh lebih indah dari apa yang sempat kita bayangkan. Aku juga sangat berterima kasih kepada keluargaku yang telah memberikan izin, kepercayaan, dan doa. Dukungan mereka menjadi kekuatan besar yang membuatku mantap melangkah dan berani menjalani perjalanan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awalnya, ketika pengumuman pendaftaran <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/i-smash\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">I-SMASH<\/mark><\/a> dibuka, peminatnya masih sangat sedikit. Salah satu alasannya adalah biaya yang cukup besar, sehingga banyak mahasiswa yang masih mempertimbangkan untuk ikut. Aku pun termasuk salah satu yang awalnya tidak terlalu berminat. Namun, setelah kupikir-pikir, aku berkata pada diriku sendiri, <em>\u201cNisa, ini kesempatan langka. Kapan lagi bisa ikut kegiatan internasional? Kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Coba saja tanyakan dulu ke keluarga.\u201d<\/em> Ternyata, respons keluargaku sangat positif. Mereka langsung mendukung, dan dari situlah niatku semakin kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lucunya, aku baru mendaftar pada malam terakhir menjelang tenggat waktu, sekitar pukul sebelas malam. Rasanya seperti keputusan yang mendadak dan tidak terlalu serius. Akan tetapi, justru dari momen itulah semuanya bermula. Keesokan harinya, nama-nama pendaftar diumumkan untuk seleksi. Jujur saja, sebagai mahasiswa angkatan 2023, aku merasa peluangku kecil karena belum masuk masa PKL dan tentu prioritas utama lebih banyak diberikan kepada kakak tingkat. Namun ternyata Allah memberi jalan yang begitu mudah. Semua peserta yang mendaftar langsung dinyatakan lolos. Saat itu, aku benar-benar kaget sekaligus bahagia. Rasanya tidak percaya bahwa aku akan pergi ke luar negeri tanpa keluarga, sekaligus menjalankan tanggung jawab mengajar di negara dengan bahasa dan budaya yang sangat berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alhamdulillah, selama proses persiapan kami mendapat pendampingan dari Pak Ridho dan dosen wali kami, Ustadzah Penny. Pak Ridho sendiri sudah cukup akrab dengan Thailand karena pernah KKN di sana dan fasih berbahasa Thai. Beliau juga memiliki banyak kenalan yang sangat membantu kami dalam memahami berbagai hal teknis sebelum keberangkatan. Mulai dari pengurusan paspor, tiket pesawat, hingga perlengkapan yang perlu disiapkan, semuanya dibimbing dengan sangat detail.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rencana awalnya, kami akan tinggal di Thailand selama satu bulan. Namun, karena banyak peserta yang belum membuat paspor, jadwal keberangkatan harus diundur dan akhirnya masa kegiatan dipangkas menjadi 25 hari. Dalam proses pembuatan paspor, aku banyak dibantu oleh temanku, Asiah. Aku benar-benar bersyukur atas bantuannya. Dengan motornya, ia mengantarkanku mengurus berbagai keperluan sehingga aku tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak. Sebagai tanda terima kasih, sesekali aku mentraktirnya. Hal kecil seperti itu terasa sangat berarti di tengah persiapan yang cukup melelahkan. Setelah pasporku selesai dibuat di kantor imigrasi, barulah aku merasa sedikit lega. Rasanya seperti satu pintu besar telah berhasil kulewati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa hari sebelum keberangkatan, kami berkumpul bersama Pak Ridho untuk membahas persiapan terakhir sekaligus menanyakan hal-hal yang masih membuat bingung. Malam sebelum berangkat pun kami sibuk <em>packing<\/em>. Ada teman-teman yang sampai mengirim foto barang bawaannya ke grup WhatsApp. Aku sendiri memilih membawa barang secukupnya. Tidak ada tas jinjing tambahan, karena menurutku itu justru akan merepotkan. Semua pakaian kusimpan di koper dan ransel. Dari pengalaman ini, aku belajar satu hal sederhana: jika bepergian jauh, apalagi ke luar negeri, bawalah barang secukupnya saja. Menjadi minimalis justru membuat perjalanan terasa lebih ringan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keesokan harinya, sebelum berangkat ke bandara, kami dikumpulkan bersama para dosen, termasuk Bapak <a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Dekan Fakultas Humaniora<\/mark><\/a>. Kami diberi nasihat, membaca doa bersama, lalu menandatangani surat izin orang tua. Suasana pagi itu terasa campur aduk\u2014ada semangat, ada haru, dan ada rasa gugup yang sulit dijelaskan. Setelah berpamitan, kami pun berangkat menuju Bandara Juanda dengan bus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesampainya di bandara, kami menunggu proses <em>check-in<\/em> dan <em>boarding pass<\/em>, lalu akhirnya benar-benar terbang menuju Bangkok. Masyaallah, rasanya sungguh tidak percaya. Di usia yang masih muda, aku diberi kesempatan untuk menjejakkan kaki ke luar negeri. Semua itu terasa seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. Saat berada di dalam pesawat, pengumuman dan instruksi disampaikan dalam bahasa Thailand. Tentu saja aku tidak paham, kecuali satu ungkapan yang cukup akrab di telinga: <em>khop khun kha<\/em>, yang berarti terima kasih. Rasanya unik sekaligus seru, karena sejak di pesawat saja aku sudah dihadapkan pada suasana yang benar-benar baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setibanya di Bangkok, kami dijemput dengan mobil khas Thailand yang menurutku desainnya unik dan estetik sekali. Aku sampai terpesona melihat bentuknya. Jalan raya di Bangkok pun terasa berbeda. Jalannya lebar, kendaraan tidak terlalu padat, dan lalu lintasnya tampak tertib. Selama tiga hari pertama, kami tinggal sementara di tempat pengabdian dua teman kami. Pada masa jeda itu, kami sempat mengunjungi beberapa tempat seperti Wat Arun, ICONSIAM, dan tentu saja Seven Eleven yang langsung menjadi tempat favorit kami. Aku dan teman-teman jatuh cinta pada Sevel karena makanannya enak, pilihannya banyak, dan harganya pun masih terasa ramah, hampir seperti di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah tiga hari di Bangkok, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pengabdian masing-masing. Aku ditempatkan di Songkhla, tepatnya di Chana. Untuk sampai ke sana, kami harus menempuh perjalanan dengan kereta kelas tiga selama kurang lebih 16 jam. Awalnya aku cukup kaget karena kondisi keretanya sederhana. Akan tetapi, lama-kelamaan perjalanan itu justru terasa menyenangkan. Jendelanya bisa dibuka, sehingga angin masuk cukup deras dan membuat kami mudah tertidur. Sesekali aku terbangun, melihat pemandangan di luar, lalu tertidur lagi. Meskipun badan terasa pegal, perjalanan panjang itu meninggalkan kesan tersendiri yang sampai sekarang masih kuingat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesampainya di Songkhla, kami dijemput oleh seorang alumni <a href=\"https:\/\/uin-malang.ac.id\/id\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">UIN Malang<\/mark><\/a> asal Thailand yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Kehadirannya benar-benar sangat membantu kami beradaptasi di awal. Kami diajak singgah ke rumahnya terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum bertemu dengan Baba, pimpinan sekolah Chariyatam, beserta keluarganya. Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe sekitar pukul sebelas siang. Di sana, kami berkenalan dengan pimpinan sekolah, istrinya, beberapa perwakilan murid, serta Ustadz Syukur yang bertanggung jawab dalam urusan bahasa dan hubungan internasional. Beliaulah yang kemudian mendampingi kami selama masa pengabdian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sambutan mereka begitu hangat, jauh dari kesan formal yang kaku. Bahkan, anak dari pimpinan sekolah pun ikut menemani kami mengobrol hingga waktu hampir habis. Setelah itu, kami diantar menuju asrama khusus yang telah disediakan untuk kami. Kamarnya luas, bersih, dan yang paling membuatku bersyukur adalah adanya kipas angin yang sangat membantu di tengah panasnya cuaca Thailand.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keesokan paginya, Ustadz Syukur mengajak kami ke sekolah Chariyatam. Untuk menuju ke sana, kami naik <em>songtew<\/em>, kendaraan umum khas Thailand yang mirip angkot di Indonesia, bersama anak-anak asrama. Dalam perjalanan, kami saling menyapa. Kadang kami mencoba berbicara, kadang hanya saling tersenyum. Meskipun bahasa menjadi tantangan, kehangatan mereka membuat semuanya terasa mudah. Sesampainya di sekolah, kami diperkenalkan di depan seluruh warga sekolah, lalu menunggu pengesahan dari Pak Ridho dan Ustadzah Penny sebagai tanda bahwa kami resmi mengabdi di sana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak lama kemudian, Ustadz Syukur memperkenalkan dua guru asal Indonesia yang akan mendampingi kami selama di Chariyatam, yaitu Kak Dina dan Kak Bella. Ternyata, mereka juga berasal dari Jawa dan sudah cukup akrab dengan lingkungan di sana. Kehadiran mereka benar-benar menjadi penolong bagi kami. Mereka sangat baik, sabar, dan selalu siap membantu, baik dalam proses mengajar maupun menjalankan program-program yang telah kami rancang. Guru-guru lain di sekolah pun sangat ramah, begitu juga murid-muridnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari demi hari kami jalani dengan penuh pengalaman baru. Rasanya luar biasa bisa mengajar di negeri orang, menghadapi perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan sehari-hari. Namun, semua tantangan itu terasa jauh lebih ringan karena sambutan mereka begitu hangat. Sedikit demi sedikit aku belajar bahwa pengabdian bukan hanya soal datang untuk mengajar, tetapi juga tentang belajar memahami, menyesuaikan diri, dan membangun hubungan dengan orang-orang yang bahkan sebelumnya sama sekali tidak kita kenal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal: tentang keberanian mengambil keputusan, tentang rasa syukur atas dukungan keluarga, tentang pentingnya mempersiapkan diri, dan tentang kehangatan orang-orang yang kita temui di tempat asing. Aku datang ke Thailand dengan modal nekat, penasaran, dan sedikit rasa takut. Namun, aku pulang membawa begitu banyak pelajaran, kenangan, dan rasa syukur yang tidak akan pernah habis untuk kuceritakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terima kasih kepada seluruh guru, murid, dan keluarga besar Chariyatam yang telah menerima kami dengan penuh kehangatan. Terima kasih telah membuat negeri yang awalnya terasa asing menjadi tempat yang begitu ramah untuk pulang dalam ingatan. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan untuk kalian semua. Kenangan bersama kalian akan selalu kusimpan dan kuingat sepanjang hidupku. <strong>[Khoirunnisa]<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA &#8211; (10\/9\/2026) Halo teman-teman, perkenalkan, namaku Khoirunnisa, mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab. Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi pengalaman tentang sebuah perjalanan yang tidak pernah benar-benar kurencanakan, tetapi justru menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Sebuah perjalanan jauh ke luar negeri, tepatnya ke Thailand, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":19511,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"page_builder":"","footnotes":""},"categories":[634,13,637,642],"tags":[],"class_list":["post-19509","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-dan-sastra-arab","category-berita","category-cerita","category-i-smash"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19509","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19509"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19509\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19526,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19509\/revisions\/19526"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19509"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19509"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19509"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}