{"id":16306,"date":"2026-06-16T08:41:25","date_gmt":"2026-06-16T01:41:25","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=16306"},"modified":"2026-06-16T08:43:25","modified_gmt":"2026-06-16T01:43:25","slug":"tahun-hijriyah-jejak-bahasa-sejarah-dan-peradaban-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/tahun-hijriyah-jejak-bahasa-sejarah-dan-peradaban-islam\/","title":{"rendered":"Tahun Hijriyah: Jejak Bahasa, Sejarah, dan Peradaban Islam"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><em>Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A.*<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap kali memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya tahun baru Hijriyah. Bagi sebagian orang, momen ini berlalu tanpa banyak makna selain pergantian angka pada kalender. Namun bagi kalangan akademisi bahasa dan sastra Arab, tahun baru Hijriyah menyimpan kekayaan kebahasaan, historis, dan kultural yang layak direnungkan bersama, khususnya dalam rangka memperkuat literasi keislaman berbasis bahasa Arab di lingkungan kampus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/mahasiswa-humaniora-raih-juara-2-lomba-esai-festival-pesantren-2026\/\" data-type=\"link\" data-id=\"humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/mahasiswa-humaniora-raih-juara-2-lomba-esai-festival-pesantren-2026\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Mahasiswa Humaniora Raih Juara 2 Lomba Esai Festival Pesantren 2026<\/mark><\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/kerusakan-alam-dalam-sastra-ungkap-krisis-lingkungan-dan-kesadaran-ekologis\/\" data-type=\"link\" data-id=\"humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/kerusakan-alam-dalam-sastra-ungkap-krisis-lingkungan-dan-kesadaran-ekologis\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Kerusakan Alam dalam Sastra Ungkap Krisis Lingkungan dan Kesadaran Ekologis<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Akar Kata \u201cHijrah\u201d dalam Khazanah Leksikografi Arab<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara leksikal, kata \u201c<em>hijrah<\/em>\u201d (\u0647\u0650\u062c\u0652\u0631\u064e\u0629) berasal dari akar kata tiga huruf h-j-r (\u0647-\u062c-\u0631). Dalam kamus-kamus klasik seperti Lis\u0101n al-\u2018Arab karya Ibn Manz\u0125\u016br maupun Al-Mu\u2019jam al-Was\u012b\u1e6d yang disusun Majma\u2018 al-Lughah al-\u2018Arabiyyah, akar kata ini dimaknai sebagai \u201cmeninggalkan, memutuskan hubungan, atau berpindah dari satu keadaan menuju keadaan lain\u201d. Menariknya, makna ini tidak hanya berlaku untuk perpindahan fisik<em> (al-hijrah al-mak\u0101niyyah)<\/em>, tetapi juga perpindahan sikap, keyakinan, dan perilaku <em>(al-hijrah al-ma\u2019nawiyyah).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sisi morfologi<em> (sharaf),<\/em> kata hijrah merupakan bentuk mashdar dari <em>fi\u2019il h\u0101jara-yuh\u0101jiru<\/em>, yang kemudian melahirkan derivasi-derivasi seperti <em>muh\u0101jir <\/em>(orang yang berhijrah), <em>hijratain <\/em>(dua kali hijrah), dan <em>mahjar <\/em>(tempat hijrah\/diaspora).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu ayat yang sering dikaji dalam konteks ini adalah firman Allah dalam QS. An-Nis\u0101\u2019 (4): 100:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u0648\u0645\u0646 \u064a\u0647\u0627\u062c\u0631 \u0641\u064a \u0633\u0628\u064a\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u064a\u062c\u062f \u0641\u064a \u0627\u0644\u0623\u0631\u0636 \u0645\u0631\u0627\u0641\u062c\u0627 \u0643\u062b\u064a\u0631\u0627 \u0648\u0633\u0639\u0629<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artinya: \u201cSiapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapati di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.\u201d <strong>(QS. An-Nis\u0101\u2019 [4]: 100)<\/strong><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari segi gramatika, ayat ini menjadi contoh klasik penggunaan<em> fi\u2019il mudh\u0101ri\u2019 <\/em>(yuh\u0101jiru) dalam pola<em> fi\u2019il muta\u2019addi<\/em> yang berkonsekuensi pada makna \u201cberproses menuju sesuatu\u201d \u2014 sebuah nuansa yang kerap dibahas dalam perkuliahan Sharaf maupun Tafsir Lughawi di program studi Bahasa dan Sastra Arab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penetapan Kalender Hijriyah: Catatan Sejarah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sisi sejarah, penanggalan Hijriyah baru ditetapkan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu \u2018Anhu, sekitar tahun 17 H, atas usulan sejumlah sahabat yang merasa perlu adanya sistem penanggalan baku untuk administrasi negara Islam yang semakin luas. Yang menarik untuk dicermati, titik awal <em>(mabda\u2019)<\/em> penanggalan ini tidak dipilih dari tahun kelahiran Nabi Muhammad \u2018Alaihissalam,, juga bukan dari tahun kenabian <em>(bi\u2019tsah),<\/em> melainkan dari peristiwa hijrah beliau dari Makkah ke Madinah pada 622 M.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pilihan ini sarat makna simbolik: hijrah dijadikan sebagai titik tolak peradaban<em> (tamaddun)<\/em> Islam, sebab di Madinah-lah masyarakat Islam pertama kali terbentuk sebagai sebuah entitas sosial-politik yang utuh \u2014 lengkap dengan konstitusi <em>(Sahifah Madinah)<\/em>, tatanan sosial, dan sistem ekonomi. Fenomena ini menjadi contoh konkret bagaimana bahasa, dalam hal ini penamaan dan penanggalan, berfungsi sebagai wadah ingatan kolektif<em> (collective memory) <\/em>sebuah peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dimensi Sastra: Hijrah, Rihlah, dan Ghurbah dalam Syair Arab<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi sastra Arab klasik, tema hijrah, <em>rihlah <\/em>(perjalanan), dan <em>ghurbah <\/em>(perantauan) banyak diangkat dalam syair sebagai metafora pencarian jati diri dan transformasi spiritual. Para penyair pada masa permulaan Islam kerap menggambarkan hijrah bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai proses kelahiran kembali <em>(al-wil\u0101dah al-jad\u012bdah) <\/em>\u2014 sebuah motif yang relevan untuk dikaji mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab dalam mata kuliah kajian sastra maupun semantik historis<em> (al-dal\u0101lah al-t\u0101r\u012bkhiyyah).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Relevansi bagi Kajian Bahasa dan Sastra Arab Kontemporer<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi sivitas akademika Bahasa dan Sastra Arab, momentum tahun baru Hijriyah dapat menjadi pintu masuk berbagai kajian. Pertama, semantik diakronik untuk melihat pergeseran makna kata hijrah dari konteks klasik (perpindahan menuju Madinah) ke konteks kontemporer (migrasi, diaspora, mobilitas global tenaga kerja). Kedua, analisis wacana<em> (tahl\u012bl al-khit\u0101b) <\/em>pada media Arab modern yang memakai istilah hijrah untuk isu migrasi dan pengungsi <em>(al-l\u0101ji\u02be\u012bn)<\/em>. Ketiga, kajian leksikografi <em>(\u2018ilm al-mu\u2018jam) <\/em>untuk melacak perkembangan entri \u201c<em>hijrah<\/em>\u201d dari kamus klasik seperti Lis\u0101n al-\u2018Arab hingga kamus modern seperti Al-Mu\u2019jam al-Was\u012b\u1e6d, sebagai bagian dari upaya memahami evolusi makna kata dalam bahasa Arab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahun baru Hijriyah, dengan demikian, bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum literasi \u2014 mengajak kita untuk terus menggali kekayaan bahasa Arab sebagai jendela memahami sejarah dan peradaban Islam, sekaligus memperkuat relevansi kajian Bahasa dan Sastra Arab dalam menjawab persoalan kekinian. Selamat Tahun Baru Hijriyah.1448, semoga Allah senantiasa menganugerahkan segala hal kebaikan dan keberkahan dalam setiap keadaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">*<em> Dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A.* Setiap kali memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya tahun baru Hijriyah. Bagi sebagian orang, momen ini berlalu tanpa banyak makna selain pergantian angka pada kalender. Namun bagi kalangan akademisi bahasa dan sastra Arab, tahun baru Hijriyah menyimpan kekayaan kebahasaan, historis, dan kultural yang layak direnungkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":16307,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[517,634,13],"tags":[],"class_list":["post-16306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-bahasa-dan-sastra-arab","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16308,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16306\/revisions\/16308"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}