{"id":1531,"date":"2021-12-09T09:06:36","date_gmt":"2021-12-09T09:06:36","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=959"},"modified":"2021-12-09T09:06:36","modified_gmt":"2021-12-09T09:06:36","slug":"warga-arjosari-konsultasi-manuskrip-pada-pakar-filologi-fakultas-humaniora","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/warga-arjosari-konsultasi-manuskrip-pada-pakar-filologi-fakultas-humaniora\/","title":{"rendered":"Warga Arjosari Konsultasi Manuskrip pada Pakar Filologi Fakultas Humaniora"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" size-full wp-image-958\" src=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/manuskrip_dalam-6ca.jpg\" alt=\"\" width=\"1599\" height=\"1200\" \/><\/p>\n<p><strong>Humaniora &#8211; <\/strong>(02\/12\/2021) Fakultas Humaniora kedatangan tamu pada Kamis, 2 Desember 2021. Ia adalah Bapak Sucipto yang merupakan warga Arjosari Malang. Kedatangannya ke Fakultas Humaniora dengan membawa sebuah manuskrip raksasa bersampul kulit hewan. Manuskrip berukuran dengan 56 x 77 cm itu tak lain adalah Al-Quran 30 juz\u00a0 asli tulisan tangan.<\/p>\n<p>Maksud kedatangan mereka adalah hendak berkonsultasi dengan pakar filologi Fakultas Humaniora. \u201cSaya mendapat informasi dari beberapa kolega saya bahwa di Fakultas Humaniora ada pakar filologi bernama M. Faisol\u201d, ungkap Sucipto ketika ditemui petugas keamanan Fakultas Humaniora pagi itu. Menurut pengakuananya, manuskrip Al-Quran itu didapatnya dari salah seorang keluarganya. Hanya saja ia belum sempat mendapat informasi banyak dari pemiliknya karena yang punya telah meninggal dunia. \u201cSaya sangat penasaran dengan manuskrip ini, dan kira-kira kapan ini dibuatnya\u201d. Ujarnya.<\/p>\n<p>Setelah menerima tamu tersebut, M. Faisol pengampu matakuliah Filologi yang juga Dekan Fakultas Humaniora lantas memeriksa dengan seksama manuskrip tersebut di lobi Fakultas. Disaksikan pemilik manuskrip tersebut serta beberapa dosen, ia menafsir bahwa naskah ini diproduksi awal abad 20. \u201cJenis kertas ini adalah kertas lokal rangkap. Kemungkinan naskah ini dibuat tahun 1900-an.\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, M. Faisol membandingkan jenis kertas manuskrip ini dengan koleksi manuskrip yang ada di Fakultas Humaniora yang jenis kertasnya berbeda-beda. Ada kertas daluwang, kertas Eropa, dan kertas lokal. \u201cDari karakter kertas ini, ini terbuat dari daluwang yang bahan bakunya dari kayu\u201d. Ujranya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut M. Faisol mengamati jenis tinta yang dipakai dalam penulisan manuskrip Al-Qur\u2019an tersebut. \u201cTinta ini mirip spidol, namun jika dilihat ornamennya memakai tinta Cina, terlihat corak emasnya yang seperti ini\u201d<\/p>\n<p>Kedua tamu tersebut merasa lega karena berkesempatan untuk diskusi dan mendapat informasi langsung dari pakar filologi yang sudah sejak lama ingin ditemuinya. \u201cBegitu mendapat khabar Beliau bisa ditemui, saya langsung berangkat menuju ke sini membawa manuskrip ini\u201d.<\/p>\n<p>Sejak dulu, leluhur kita telah memiliki budaya literasi dan arsipasi yang rapi, yang mencerminkan jatidiri bangsa kita yang luhur. Naskah-naskah kuno itu sangat penting untuk dilestarikan, karena di dalamnya terkandung pesan moral, ajaran, dan nilai-nilai luhur budaya nusantara. \u201cKalau kita mampu menggali dan memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya, sebenarnya kita punya cukup bekal dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan di era disrupsi hari ini\u201d, tegas M. Faisol. <strong>[LYN]<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Humaniora &#8211; (02\/12\/2021) Fakultas Humaniora kedatangan tamu pada Kamis, 2 Desember 2021. Ia adalah Bapak Sucipto yang merupakan warga Arjosari Malang. Kedatangannya ke Fakultas Humaniora dengan membawa sebuah manuskrip raksasa bersampul kulit hewan. Manuskrip berukuran dengan 56 x 77 cm itu tak lain adalah Al-Quran 30 juz\u00a0 asli tulisan tangan. Maksud kedatangan mereka adalah hendak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1633,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1531"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1531\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1633"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}