{"id":14604,"date":"2026-02-21T17:24:15","date_gmt":"2026-02-21T10:24:15","guid":{"rendered":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=14604"},"modified":"2026-03-03T12:01:21","modified_gmt":"2026-03-03T05:01:21","slug":"puasa-puisi-jiwa-yang-ditulis-dengan-tinta-takwa-ramadhan-dalam-cermin-sastra-arab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/puasa-puisi-jiwa-yang-ditulis-dengan-tinta-takwa-ramadhan-dalam-cermin-sastra-arab\/","title":{"rendered":"Puasa: Puisi Jiwa yang Ditulis dengan Tinta Takwa (Ramadhan dalam Cermin Sastra Arab)"},"content":{"rendered":"<p class=\"has-text-align-center\"><em>Oleh: Nur Hasaniyah<\/em>*<\/p>\n\n\n\n<p>Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam, di mana puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri dan penguatan spiritual. Dalam perspektif humaniora, khususnya bahasa dan sastra Arab, Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber inspirasi yang kaya akan makna simbolis dan estetis. Sebagai dosen yang mendalami bahasa dan sastra Arab, saya melihat Ramadhan sebagai \u201cbahasa\u201d yang hidup, di mana kata-kata, puisi, dan narasi klasik Arab merefleksikan perjuangan manusia dalam mencapai ketakwaan. Melalui lensa sastra, puasa menjadi \u201cpuisi\u201d yang ditulis dengan tinta pengorbanan dan harapan\u2014sebuah karya seni rohani yang indah sekaligus mendalam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Read too:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/05212db0\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/kalau-bukan-sekarang-kapan-lagi\/\"><\/a><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/kalau-bukan-sekarang-kapan-lagi\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?<\/mark><\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/103.17.76.28:10443\/proxy\/05212db0\/https\/humaniora.uin-malang.ac.id\/berita\/sah-sastra-inggris-uin-malang-raih-akreditasi-unggul-ban-pt-masuk-jajaran-prodi-elit-nasional\/\"><\/a><a href=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/sah-sastra-inggris-uin-malang-raih-akreditasi-unggul-ban-pt-masuk-jajaran-prodi-elit-nasional\/\"><mark style=\"background-color:rgba(0, 0, 0, 0)\" class=\"has-inline-color has-luminous-vivid-orange-color\">Sah! Sastra Inggris UIN Malang Raih Akreditasi Unggul BAN-PT, Masuk Jajaran Prodi Elit Nasional<\/mark><\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tradisi sastra Arab, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium untuk menangkap esensi kehidupan. Al-Qur\u2019an sendiri, sebagai puncak sastra Arab, menggambarkan Ramadhan dengan keindahan bahasa yang penuh hikmah. Ayat-ayat tentang puasa tidak hanya perintah, tetapi juga undangan untuk merenung. Ini sejalan dengan konsep \u0628\u0644\u0627\u063a\u0629 (bal\u0101ghah \u2013 retorika) dalam sastra Arab, di mana kata-kata dipilih untuk membangkitkan emosi dan pemahaman mendalam. Mari kita telusuri bagaimana sastra Arab merefleksikan Ramadhan, dengan didukung dalil-dalil keagamaan yang relevan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, mari kita mulai dari fondasi utama: Al-Qur\u2019an sebagai sumber inspirasi sastra. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183-185, Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p>\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0643\u064f\u062a\u0650\u0628\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0635\u0650\u0651\u064a\u064e\u0627\u0645\u064f \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u062a\u0650\u0628\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0644\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0651\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062a\u064e\u062a\u064e\u0651\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e \u2026 \u0634\u064e\u0647\u0652\u0631\u064f \u0631\u064e\u0645\u064e\u0636\u064e\u0627\u0646\u064e \u0627\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a \u0623\u064f\u0646\u0652\u0632\u0650\u0644\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0631\u0652\u0622\u0646\u064f \u0647\u064f\u062f\u064b\u0649 \u0644\u0650\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0633\u0650 \u0648\u064e\u0628\u064e\u064a\u0650\u0651\u0646\u064e\u0627\u062a\u064d \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0647\u064f\u062f\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0641\u064f\u0631\u0652\u0642\u064e\u0627\u0646\u0650&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Terjemahan: <em>\u201cHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa \u2026 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur\u2019an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)\u2026\u201d<\/em> (Terjemahan Kementerian Agama RI).<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat ini tidak hanya menetapkan kewajiban puasa, tetapi juga menekankan tujuannya: mencapai takwa, kemudahan, dan syukur. Dalam sastra Arab, bahasa ayat ini menjadi model keindahan: penggunaan kata \u0644\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u0651\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062a\u064e\u062a\u064e\u0651\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e (la\u2018allakum tattaq\u016bn \u2013 agar kamu bertakwa) mencerminkan irama yang harmonis, mengajak pembaca merenung. Al-Qur\u2019an, sebagai mukjizat sastra (\u0625\u0639\u062c\u0627\u0632 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0622\u0646 \u2013 i\u2018j\u0101z al-Qur\u2019\u0101n), menginspirasi penyair Arab untuk mengeksplorasi tema puasa sebagai perjuangan batin.<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits Nabi Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam juga memperkaya refleksi ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu \u2018anhu, Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0635\u064e\u0627\u0645\u064e \u0631\u064e\u0645\u064e\u0636\u064e\u0627\u0646\u064e \u0625\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627\u0646\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0627\u062d\u0652\u062a\u0650\u0633\u064e\u0627\u0628\u064b\u0627 \u063a\u064f\u0641\u0650\u0631\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0642\u064e\u062f\u064e\u0651\u0645\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0630\u064e\u0646\u0652\u0628\u0650\u0647\u0650<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cBarangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.\u201d<\/em> (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits ini menekankan aspek spiritual puasa: bukan sekadar rutinitas, tapi pencarian ampunan melalui keikhlasan. Dalam sastra Arab, tema ini sering muncul dalam puisi \u0642\u0635\u064a\u062f\u0629 (qa\u1e63\u012bdah) atau \u063a\u0632\u0644 (ghazal), dideruuurrrrrmana puasa digambarkan sebagai \u201cperjalanan jiwa\u201d menuju kebersihan hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat dari perspektif sastra Arab klasik, penyair seperti \u0623\u062d\u0645\u062f \u0634\u0648\u0642\u064a (A\u1e25mad Syauq\u012b, 1868-1932), dikenal sebagai \u0623\u0645\u064a\u0631 \u0627\u0644\u0634\u0639\u0631\u0627\u0621 (Am\u012br asy-Syu\u2018ar\u0101\u2019 \u2013 Pangeran Para Penyair), menulis puisi tentang Ramadhan yang penuh refleksi. Dalam puisinya yang terinspirasi dari keutamaan bulan suci, Syauqi menggambarkan Ramadhan sebagai pelindung dari godaan duniawi, menggemakan ayat Al-Qur\u2019an tentang \u0644\u064a\u0644\u0629 \u0627\u0644\u0642\u062f\u0631 (Lailatul Qadr \u2013 QS. Al-Qadr: 1-5). Puisi ini, dengan \u0628\u062d\u0631 (ba\u1e25r \u2013 irama) yang mengalir, merefleksikan bagaimana bahasa Arab klasik menggunakan metafor untuk menggambarkan Ramadhan sebagai \u0648\u0644\u064a (wal\u012b \u2013 pelindung), mengajak jiwa kembali ke esensi keislaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sastra Arab modern, tema Ramadhan juga muncul dalam karya penyair seperti \u0646\u0632\u0627\u0631 \u0642\u0628\u0627\u0646\u064a (Niz\u0101r Qabb\u0101n\u012b) atau \u0645\u062d\u0645\u0648\u062f \u062f\u0631\u0648\u064a\u0634 (Ma\u1e25m\u016bd Darw\u012bsy), meski lebih kontekstual dengan isu sosial. Namun, akarnya tetap pada bahasa Arab yang kaya sinonim: kata \u0635\u0648\u0645 (\u1e63aum \u2013 puasa) berasal dari akar \u0635 \u0645 \u0648 (\u1e63-m-w) yang berarti \u201cmenahan\u201d, mencerminkan pengendalian diri. Dalam budaya Arab, tradisi Ramadhan seperti \u0625\u0641\u0637\u0627\u0631 (if\u1e6d\u0101r \u2013 berbuka) dan \u0633\u062d\u0648\u0631 (sa\u1e25\u016br \u2013 sahur) sering digambarkan dalam cerita rakyat seperti \u0623\u0644\u0641 \u0644\u064a\u0644\u0629 \u0648\u0644\u064a\u0644\u0629 (Alf Lailah wa Lailah \u2013 Seribu Satu Malam), di mana puasa menjadi latar untuk kisah moral tentang kesabaran dan kebaikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Refleksi ini mengajarkan kita, sebagai civitas akademika, bahwa Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tapi juga kesempatan untuk \u201cmembaca ulang\u201d diri melalui bahasa dan sastra. Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik, puasa Ramadhan mengingatkan kita pada nilai humaniora: empati, refleksi, dan pencarian makna. Seperti yang digambarkan dalam puisi Syauqi, Ramadhan adalah \u201cpelindung\u201d yang mengajak kita kembali ke esensi keislaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks Fakultas Humaniora UIN Malang, mari kita manfaatkan Ramadhan untuk memperkaya literasi. Dengan membaca sastra Arab tentang puasa, kita bisa mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam kajian bahasa dan budaya. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum untuk berbagi ilmu, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam: \u201cBarangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.\u201d (HR. Muslim no. 1893).<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa sastra bukan sekadar kata, tapi cermin jiwa. Mari kita sambut dengan hati terbuka, agar takwa yang kita raih bukan sementara, tapi abadi. \u062a\u0642\u0628\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0645\u0646\u0627 \u0648\u0645\u0646\u0643\u0645 \u0635\u0627\u0644\u062d \u0627\u0644\u0623\u0639\u0645\u0627\u0644\u060c \u0622\u0645\u064a\u0646.<\/p>\n\n\n\n<p><em>*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang<\/em><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nur Hasaniyah* Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam, di mana puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri dan penguatan spiritual. Dalam perspektif humaniora, khususnya bahasa dan sastra Arab, Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber inspirasi yang kaya akan makna simbolis dan estetis. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":14605,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[517,634,13],"tags":[],"class_list":["post-14604","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-bahasa-dan-sastra-arab","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14604","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14604"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14604\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14616,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14604\/revisions\/14616"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}