{"id":1072,"date":"2022-06-03T02:04:28","date_gmt":"2022-06-03T02:04:28","guid":{"rendered":"https:\/\/migrate-humaniora.uin-malang.ac.id\/?p=1072"},"modified":"2022-06-03T02:04:28","modified_gmt":"2022-06-03T02:04:28","slug":"presiden-adia-jangan-sampai-sebuah-teori-menjadi-anomali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/berita\/presiden-adia-jangan-sampai-sebuah-teori-menjadi-anomali\/","title":{"rendered":"Presiden ADIA: Jangan Sampai Sebuah Teori Menjadi Anomali!"},"content":{"rendered":"<p><strong>HUMANIORA<\/strong>\u2013 (30\/5\/2022) Era revolusi 4.0 tidak dapat dihindari. Era yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital ini telah berpengaruh dalam kehidupan dan perilaku manusia. Ilmu humaniora sebagai ilmu yang salah satu obyeknya terkait dengan hal ikhwal manusia pun tak dapat dihindarkan dari pengaruh era revolusi itu. Maka, paradigma ilmu humaniora harus terus dikaji sesuai dengan tantangan dan kemajuan peradaban manusia. Jika tidak, ilmu itu akan kehilangan signifikansinya.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan oleh Presiden Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA), M. Faisol, pada pembukaan Konferensi Internasional di IAIN Palangkaraya Kalimantan Tengah&nbsp; pada Minggu 29 Mei 2022. Konferensi dengan tema \u201cIslam dan Glokalisasi: Meretas Moderasi Agama dan Budaya\u201d&nbsp; menghadirkan Prof. Ismail Fajrie Alatas dari New York University USA dan Prof. Dr. Khusna Amal dari UIN Jember. Kegiatan ini dihelat selama tiga hari, mulai 29 \u2013 31 Mei 2022 di hotel Best Western.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" size-full wp-image-1071\" src=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261.jpeg\" alt=\"ADIA 2\" width=\"1280\" height=\"853\" srcset=\"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261.jpeg 1280w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261-300x200.jpeg 300w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261-768x512.jpeg 768w, https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/ADIA_2-261-18x12.jpeg 18w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Dalam sambutan, M. Faisol yang sekarang menjadi Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjelaskan bahwa konferensi internasional kali ini menemukan momentum untuk mendikusikan dan mendeseminasikan temuan-temuan mutakhir terkait dengan kajian ilmu-ilmu humaniora (Adab) khususnya di era revolusi digital seperti sekarang ini.<\/p>\n<p>\u201cTeori ilmu sosial humaniora harus terus dikaji seiring dengan perkembangan zaman. Jika sebuah teori sudah berubah menjadi anomali, maka teori itu butuh pergeseran paradigma sehingga kemaslahatannya dapat dirasakan oleh manusia,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Kegiatan konferensi internasional ini adalah event tahunan. Kali ini merupakan kerjasama antara Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) dengan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Palangkaraya. Ratusan peserta turut hadir dalam kegiatan ini untuk mempresentasikan dan mendeseminasikan temuan mutakhir terkait kajian ilmu sosial humaniora.<\/p>\n<p>Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh seluruh Dekan se-Indonesia yang Fakultasnya bergabung dalam&nbsp; Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA), dan sekaligus menjadi ajang untuk mediskusikan tentang pengelolaan program studi dalam rangka penguatan kelembagaan. <strong>[li]<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HUMANIORA\u2013 (30\/5\/2022) Era revolusi 4.0 tidak dapat dihindari. Era yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital ini telah berpengaruh dalam kehidupan dan perilaku manusia. Ilmu humaniora sebagai ilmu yang salah satu obyeknya terkait dengan hal ikhwal manusia pun tak dapat dihindarkan dari pengaruh era revolusi itu. Maka, paradigma ilmu humaniora harus terus dikaji sesuai dengan tantangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1071,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[61],"class_list":["post-1072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-presiden-adia-jangan-sampai-sebuah-teori-menjadi-anomali"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1072"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1072\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1071"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/humaniora.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}