HUMANIORA — (20/1/2026) Suasana hangat penuh rasa syukur menyelimuti lobi utama Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (20/1/2026). Fakultas Humaniora menggelar tasyakuran pengukuhan Guru Besar bagi Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. H. M. Faisol, M.Ag., sebagai bentuk ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur atas capaian gelar akademik tertinggi yang berhasil diraih.
Read too:
- Dekan Humaniora Dikukuhkan Jadi Guru Besar Pertama di Bidang Sastra Arab
- Dari Teks ke Peradaban, Prof. Faisol Tegaskan Makna Profetik Kisah Kenabian Al-Qur’an
Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, segenap kolega, serta keluarga besar Fakultas Humaniora. Tasyakuran tersebut menjadi momentum kebersamaan sekaligus refleksi atas perjalanan akademik Prof. Faisol yang sarat dengan nilai perjuangan, ketekunan, dan pengabdian.
Dalam sambutannya, Prof. Faisol menyampaikan rasa terima kasih dan haru atas inisiatif keluarga besar Fakultas Humaniora yang menyelenggarakan acara secara meriah. Ia mengaku tidak menyangka akan mendapatkan sambutan hangat dan penuh perhatian seperti itu.

“Saya sungguh tidak menyangka akan dibuatkan acara semeriah ini. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Fakultas Humaniora atas doa, dukungan, dan kebersamaannya,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Faisol juga berbagi kisah perjalanan hidup dan perjuangannya hingga meraih gelar Guru Besar. Ia bercerita tentang latar belakang keluarganya yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penjahit di desa, dengan didikan keras namun sarat nilai kehidupan, sementara dukungan besar datang dari sang kakak yang mendorong Faisol muda untuk berani merantau dan menuntut ilmu di Yogyakarta, kota pendidikan.
Berbekal tekad kuat, ketekunan, dan tirakat, Prof. Faisol menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Adab UIN Yogyakarta, sembari menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Krapyak. Pendidikan S2 ditempuh di kampus yang sama, sementara pendidikan doktoral ia selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Perjalanan akademiknya tidak terlepas dari kerja keras sejak masa mahasiswa. Untuk membiayai studinya, Prof. Faisol bekerja sebagai penerjemah, hingga akhirnya mencapai level penerjemah ahli di salah satu penerbit kenamaan di Yogyakarta. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan intelektual dan profesionalnya.
Kisah perjuangan itu dibenarkan oleh kakak tertuanya, Ir. H. Muhammad Hamdan, yang turut hadir dalam acara tasyakuran. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Prof. Faisol tidak lepas dari didikan orang tua yang keras sejak dini, dengan prinsip hidup yang kuat.

“Ayah kami menanamkan satu prinsip utama: jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat,” tuturnya. Ia pun mendoakan agar capaian gelar Guru Besar ini semakin meneguhkan peran Prof. Faisol untuk memberi manfaat, baik secara personal maupun sosial. “Semoga gelar akademik ini menjadikan adik saya semakin bermanfaat bagi banyak orang,” tambahnya.

Acara tasyakuran ditutup dengan doa khidmat yang dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Muhtadi Ridwan dan Prof. Dr. Kasuwi Syaiban, menandai harapan bersama agar amanah keilmuan yang diemban Prof. Faisol membawa keberkahan bagi Fakultas Humaniora, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta masyarakat luas. [unr/Infopub]





