HUMANIORA – (16/9/2025) Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Isti’adah, M.A., turut serta dalam kegiatan Diskusi Dosen: Sharing and Caring yang digelar secara daring pada Senin, 25 Agustus 2025. Forum ini menjadi ruang hangat bagi para akademisi untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan yang relevan.
Read too:
- Fakultas Humaniora: Wadah Kembangkan Karir dan Masa Depan Mahasiswa
- The Arabic Language and Literature Study Program Launches a Joint Graduation Movement for the 2022 Cohort Students.
Kegiatan ini didukung oleh Asosiasi Linguistic and Literature Association (LITA) dan dihadiri oleh sejumlah dosen serta akademisi yang menaruh perhatian pada perkembangan kajian linguistik, sastra, maupun isu sosial budaya. Dalam sambutannya, Ketua LITA, Dr. Hj. Meinarni Susilowati, M.Ed., yang juga dosen Fakultas Humaniora, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah penting bagi akademisi untuk menjaga sensitivitas sosial sekaligus mengasah kepedulian melalui perspektif keilmuan.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Isti’adah menyampaikan kajian mendalam mengenai isu child sexual abuse melalui telaah kritis terhadap novel The Night Child karya Anna Quinn. Ia menekankan pentingnya membicarakan topik ini karena kasus kekerasan seksual terhadap anak merupakan persoalan serius baik di tingkat global maupun di Indonesia. Data menunjukkan, terdapat sekitar 1,4 juta konten terkait kejahatan ini di dunia digital, dan Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi dalam penyebaran konten tersebut.
Lebih lanjut, Dr. Isti’adah menjelaskan berbagai dampak jangka panjang yang dialami para penyintas kekerasan seksual pada anak. Dari segi kesehatan mental, mereka berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, gangguan makan, insomnia, hingga perasaan rendah diri yang berkepanjangan. Pada tahap perkembangan seksual, korban dapat menghadapi masalah dalam memahami dan mengekspresikan seksualitas secara sehat. Dari sisi spiritualitas, sebagian penyintas menunjukkan penurunan keterlibatan dalam praktik keagamaan, meski pada kasus lain, keimanan justru mampu menjadi faktor protektif yang memberikan keteguhan batin.
Dampak fisik juga tidak dapat diabaikan. Penelitian mencatat penyintas berpotensi mengalami gangguan kesehatan kronis seperti masalah pernapasan, sindrom iritasi usus, gangguan reproduksi, hingga penyakit autoimun. Selain itu, proses disclosure atau pengungkapan kasus pelecehan seksual anak sering kali menjadi pengalaman traumatis tersendiri, karena tidak jarang justru berujung pada rasa malu, rasa bersalah, bahkan post-traumatic stress disorder (PTSD).
Dengan pemaparan tersebut, Dr. Isti’adah mengajak para akademisi untuk tidak menutup mata terhadap isu sensitif yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan. Menurutnya, akademisi memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran publik, memberikan dukungan kepada penyintas, serta mendorong terciptanya ruang aman dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.
Diskusi ini sekaligus menegaskan kontribusi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mengangkat persoalan kemanusiaan melalui kajian ilmiah, sekaligus membangun kepedulian lintas disiplin terhadap isu yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak. (al)





