
BATU – (5/8/2025) | Dalam rangkaian kegiatan Teaching for Tomorrow: Curriculum for Future-Ready Lecturers yang diselenggarakan oleh Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pemateri Rita Anggarini Rahayu, S.Ab., M.Ab., CRA., CPS., C.H.t. memberikan materi yang menginspirasi para dosen dan tenaga kependidikan untuk menjadi pribadi yang lebih sadar, komunikatif, dan berdampak positif dalam proses pengajaran.
Dengan take line “Sehat, Bergerak, Berdampak”, sesi ini membuka wawasan peserta terhadap pentingnya awareness—kesadaran diri dan konteks dalam dunia pendidikan yang semakin dinamis. Dalam perspektif Rita, dosen bukan sekadar pengajar, tetapi juga pelayan ilmu pengetahuan yang memiliki tanggung jawab moril terhadap perkembangan mahasiswa sebagai pembelajar dan manusia utuh.

Salah satu pernyataan menarik dalam sesi tersebut adalah, Mahasiswa kita adalah customer kita. Ungkapan ini bukan semata-mata menempatkan mahasiswa sebagai objek layanan, namun sebagai mitra pembelajaran yang berhak mendapatkan pengalaman belajar terbaik. Oleh karena itu, kualitas interaksi, empati, dan komunikasi menjadi elemen kunci dalam keberhasilan proses belajar mengajar.
Rita mengingatkan bahwa dunia digital—termasuk kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI)—telah mengubah lanskap pendidikan secara drastis. Namun, satu hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah sikap (attitude). Di sinilah letak pentingnya membangun karakter pendidik yang kuat secara emosional dan mental.
Materi bertajuk “Effective and Graceful Public Communication Techniques” menjadi inti dari sesi tersebut. Komunikasi yang baik tidak hanya terletak pada isi pesan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dengan elegan, penuh kepercayaan diri, dan penuh perhatian terhadap lawan bicara—dalam hal ini mahasiswa.

Menurut Rita, komponen keberhasilan dalam teaching and learning sangat bergantung pada mental positif, yang harus ditumbuhkan dalam lingkungan atau circle yang mendukung. Dosen yang menyenangkan adalah mereka yang mampu membangun kenyamanan di kelas, memiliki penampilan yang percaya diri, dan memberikan perhatian optimal kepada setiap mahasiswa.
“Kita punya tanggung jawab moril atas profesi kita, dan itu harus selalu kita ingat sebagai titik balik dalam menjalankan profesi ini,” ungkap Rita dengan penuh semangat. Mengajar bukan semata tugas akademik, melainkan panggilan untuk melayani. Dalam konteks ini, lembaga juga dituntut memberikan service excellence, agar atmosfer pembelajaran menjadi lebih baik dan penuh semangat kolaboratif.
Dengan menutup sesi, Rita menegaskan bahwa komunikasi yang efektif hanya bisa dicapai jika kita bersedia melayani dengan hati. Inilah strategi mengajar yang relevan di masa kini—mengutamakan koneksi manusiawi di tengah kemajuan teknologi.
Melalui sesi ini, para peserta diajak merenungkan kembali esensi dari profesi pendidik: menjadi teladan, fasilitator, dan sahabat bagi mahasiswa, serta senantiasa tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan dan menginspirasi. (al)





